FILM r.i.

Oleh: ANASTASIA JESSICA ADINDA S.*

Sebuah film dokumenter berjudul r.i. merupakan kumpulan kesaksian dari para pelajar, jurnalis, dan seniman Indonesia yang berada di negara Eropa di sekitar tahun 1965. Beberapa dari mereka dikirim oleh Soekarno untuk belajar dari negara-negara lain dalam rangka membangun Indonesia baru. Peristiwa gerakan 30 september membawa dampak besar bagi mereka. Mereka tidak dapat pulang lagi ke Indonesia. Mereka harus menjalani screening dan pencabutan paspor secara sepihak yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Berangkat dari kegelisahan dan keprihatinan mereka akan tragedi kemanusiaan September 1965, mereka membangun sebuah restoran bernama ‘Restoran Indonesia’ di Paris. Restoran tersebut tidak hanya menyediakan makanan-makanan khas Indonesia tapi juga menjadi wadah komunikasi para ‘survivor’ (untuk tidak menyebutnya sebagai ‘victim’) tragedi 1965.

Restoran yang didirikan oleh Umar Said, dkk ini kemudian dicap sebagai ‘restoran komunis’ atau ‘restoran kiri’ atau ‘restoran merah’. Restoran Indonesia menjadi bagian dari gerak emansipasi manusia Indonesia yang peduli akan persoalan kemanusiaan ditengah pemboikotan serta pelarangan rezim militer Soeharto bagi masyarakat Indonesia untuk berkunjung ke sana. Restoran Indonesia masih terus beroperasi hingga kini. Berbagai tokoh pemikir Indonesia seperti Gus Dur dan Pramoedya Ananta Toer pernah singgah ke restoran ini. Restoran ini juga mendapat banyak dukungan dari teman-teman selain WNI yang tinggal di Paris.

Para pelajar, jurnalis dan seniman tersebut enggan kembali ke Indonesia selepas tahun 1998 hingga kini, walaupun situasi Indonesia sudah lebih kondusif dibanding ketika rezim Orde Baru berkuasa, karena trauma yang mendalam atas stigma dan peristiwa September 1965.

Sejarah alternatif, perspektif ‘survivor’

Film r.i. karya yang disutradarai A. Dananjaya dan diproduksi oleh ‘Kotak Hitam’ ini menambah deretan karya yang berbicara mengenai peristiwa 1965. Film ini membangun sejarah yang berbeda dari sejarah yang diajarkan selama orde baru. Sejarah alternatif dalam film ini dibangun dari penuturan para ‘survivor’ 1965 yang berada di Paris.

Beberapa cerita yang saya ingat dari film tersebut antara lain ialah seorang pelajar yang menolak undangan screening dari KBRI. Ia menolak sebab ia mengetahui bahwa KBRI akan mewawancarai dan memintanya menyatakan kesetiaan pada rezim Soeharto. Suatu ketika, saat Ia mengurus paspor, ia menyadari bahwa paspornya telah dicabut secara sepihak. Cerita lain misalnya tentang seorang Ibu bernama Santi yang sedang mengikuti pertemuan internasional di Chile. Ia tak dapat kembali lagi ke Indonesia karena paspornya dicabut. Ia meninggalkan tiga anaknya yang masih kecil di Indonesia, satu di antaranya masih balita. Untuk bertahan di tengah tragedi tersebut, kemudian Umar Said dan kawan-kawan mendirikan sebuah restoran bernama Restoran Indonesia. ‘Bertahan’ di sini dalam arti bisa memenuhi kebutuhan dasar setiap hari dan ‘bertahan’ dalam arti membangun rasa kemanusiaan yang terluka karena peristiwa 65 dan represi Orde Baru.

Pola berulang

Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh umar said dan kawan-kawanya di dalam benak saya seolah menjelma dalam beberapa peristiwa sepekan terakhir ini yang dialami Roni, Mulyadi, Parno dan sejumlah jemaat ahmadiyah di pandeglang. Ada beberapa pola berulang dalam peristiwa yang mengawali 30 september 1965 (dan sentimen terhadap segala sesuatu yang berbau ‘kiri’) dengan peristiwa penganiayaan jemaat ahmadiyah.

Pola pertama, pelarangan suatu organisasi/ komunitas dengan ideologi tertentu oleh negara. TAP MPRS No XXV Tahun 1966 berisi tentang ‘pembubaran partai komunis Indonesia, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Indonesia bagi partai komunis Indonesia dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan dan mengembangkan faham atau ajaran komunisme/marxisme-leninisme. TAP MPRS ini kemudian digunakan sebagai landasan untuk menutup organisasi, mebredel buku, mencekal tokoh, mengasingkan orang-orang, dan segala sesuatu ‘yang dianggap’ berhubungan dengan komunisme. Pada tahun 2008 dikeluarkan Surat Keputusan Bersama Menteri yang berisi tentang pembubaran dan larangan penyebaran ajaran Ahmadiyah.[1] Keputusan ini menjadi landasan untuk menutup diskusi-diskusi dan perkumpulan jemaat ahmadiyah.

Pola Kedua, menebar sentimen. Rezim Orde Baru membuat stigma-stigma tertentu mengenai komunisme. Stigma-stigma tersebut misalnya: orang komunis ialah ateis, tidak mengenal Tuhan, orang yang kejam, dan tidak berperikemanusiaan. Sedikit berbeda yang terjadi pada Jemaat ahmadiyah, namun isinya tetap sama, pelekatan stigma negatif. Aliran tersebut distigma sebagai suatu aliran yang menyesatkan, aliran Islam yang menyalahi dan tidak pantas dikembangkan. Dan jemaat Ahmadiyah distigma sebagai kelompok yang eksklusif-tidak berbaur dengan masyarakat.

Ketiga, penganiayaan oleh massa. Peristiwa 1965 dan beberapa tahun sesudahnya diduga membawa hampir satu juta lebih korban meninggal. Kelompok-kelompok masyarakat saling bunuh satu sama lain karena sentimen yang menyebar. Pola yang sama terjadi pada 6 februari 2011, tiga jiwa jemaat ahmadiyah ditelanjangi, dipukul, ditendang, digantung oleh massa yang sama-sama masyarakat Indonesia.

Pola keempat, pembiaran oleh negara. Hingga hari ini tragedi 1965 tidak kunjung diusut oleh negara. Para pelaku sejarah yang sudah mulai bicara hanya menjadi suara lirih yang tidak pernah naik ke permukaan mengubah pakem sejarah nasional Indonesia. Pola pembiaran oleh negara juga terjadi dalam tragedi Ahmadiyah. Dua hari sebelum kejadian di Pandeglang, polisi setempat telah diberi tahu akan terjadi penyerangan terhadap jemaat ahmadiyah. Namun, polisi setempat tetap tidak melakukan pencegahan terjadinya peristiwa penganiayaan tersebut.

Ada empat pola pengulangan. Pertama, pelarangan organisasi. Kedua, menebar sentimen. Ketiga, penganiayaan oleh massa. Keempat, pembiaran oleh negara. Sesungguhnya saya berharap semoga pola berulang ini hanya dugaan saya saja. Tetapi jikalau memang ini adalah suatu pola berulang, ayo kita hentikan pola putaran spiral tersebut mulai hari ini!

*Penulis adalah dosen Filsafat Universitas Widya Mandala Surabaya.

Catatan:

[1] Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri No 3/2008 No Kep 033/a/ja/2008 dan No 199 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s