KURSUS SINGKAT KEHIDUPAN DAN KEMATIAN

Oleh: Victor Delvy Tutupary*

Rasanya absurd ketika mendiskusikan tentang kehidupan ketika seorang manusia masih hidup, seperti halnya seorang yang menuliskan otobiografi ketika ia berusia lima puluh tahun, seakan-akan sudah tuntas perjalanan hidupnya, sudah lengkap bahan pengalaman yang dijalaninya untuk memperoleh sebuah kesimpulan tentang kehidupannya, padahal hidupnya masih terus berjalan dan dapat berubah kapan saja.

Jika umurnya panjang, ia akan genap berusia enam puluh tahun, dan bisa saja ia begitu kesal membaca otobiografi yang ditulisnya sepuluh tahun yang lalu itu, merasa bahwa apa yang ia tulis itu kurang lengkap dan tidak terlalu penting. Lalu, ketika ia berusia tujuh puluh tahun, ia akan melihat bahwa dirinya sepuluh tahun yang lalu itu adalah sosok yang naïf dan tidak dewasa. Begitu seterusnya, hingga terasa absurd membicarakan kehidupan ketika seorang manusia masih melakoni hidup.

Hidup menjadi absurd untuk mencari terminal terakhir bagi pemaknaan hidup dan pencarian jatidiri manusia. Segala sesuatu terus bergerak dan berproses dalam pencarian, sedangkan kerinduan akan firdaus justru menjadi kerinduan untuk tidak menjadi manusia.

Jika kehidupan ini adalah panggung sandiwara, maka seharusnya kita bisa melakoni hidup ini dengan lebih baik. Memang, untuk setiap orang ada peran yang harus dilakoni dalam kehidupan, ada topeng yang harus dipakai, tetapi tetap saja hidup tidak sama dengan panggung sandiwara. Di dalam sandiwara, sang aktor memiliki waktu untuk berlatih dan mengolah rasa sebelum ia naik ke atas pentas. Sedangkan kehidupan tidak menyediakan kesempatan untuk berlatih, tidak ada waktu untuk berlatih hidup sebelum hidup. Seperti yang dikatakan Milan Kundera dalam novel The Unbearable Lightness of Being, “..dan bagaimanakah hidup itu bisa bermakna sedangkan latihan bagi kehidupan adalah hidup itu sendiri?”[1]

Mungkin hanya orang-orang mati yang berhak membicarakan tentang kehidupan. Sebab, “kehidupan manusia hanya berlangsung sekali saja, dan alasan mengapa kita tidak dapat memastikan manakah keputusan-keputusan kita yang baik dan mana yang jelek adalah bahwa di dalam situasi tertentu kita hanya dapat membuat sebuah keputusan; kita tidak dianugerahi dengan kehidupan yang kedua, ketiga, atau keempat di mana kita bisa memperoleh kesempatan untuk membanding-bandingkan semua keputusan kita tadi.[2]

Dengan demikian, kehidupan manusia adalah arena pelatihan sekaligus pertunjukan utamanya. Waktu terus mengalir, pantha rhei, sehingga tidak ada momen yang dapat diulang, tidak ada percakapan dalam naskah yang bisa diralat apabila salah, sekali terucap maka terucaplah sudah tanpa bisa diulang atau ditarik kembali, seperti paku pada sebuah kayu, meski paku itu dicabut, bekas lubangnya tidak bisa dihapus.

Tanpa pengulangan, hidup menjadi begitu menakutkan sekaligus menarik. Bagi mereka yang menganggap hidup adalah ketakutan maka kehidupannya tak lebih dari persembunyian dari tanggung jawab pribadi. Kenyamanan berlindung di balik pendapat dan otoritas orang lain membuat hidup lebih mudah untuk dijalani, dan kematian terasa seperti asuransi yang menjanjikan. Tetapi, bagi mereka yang menganggap hidup adalah menarik, maka kehidupan tidak lain adalah peluang untuk bertualang dan meliarkan imajinasi: hidup adalah peluang bagi imajinasi untuk melakukan “kekeliruan” tanpa batas. Tetapi, siapapun dia, yang menganggap hidup begitu menakutkan ataupun sedemikian menarik, kematian sedang menunggunya di sebuah persimpangan jalan, siap menyergapnya tanpa peringatan, dan membawa pergi seluruh kenangan dan masa depannya. Kematian menjadi keniscayaan yang sukar untuk dipercaya, melarutkan segala argumentasi yang irrasional dan rasional.

Meskipun kematian adalah keniscayaan, namun kematian tidak menarik untuk dibicarakan, sebab begitu menakutkan. Spinoza mengatakan bahwa memikirkan kematian adalah tidak berguna, lebih baik memikirkan kehidupan. Tetapi, memikirkan kehidupan adalah juga memikirkan kematian. Kehidupan tidak bisa dilepaskan dari kematian. Kematian adalah salah satu pertunjukkan utama panggung kehidupan. Oleh sebab itu, siapa pun yang berfilsafat, kematian menjadi topik besar yang harus disinggung. “Filsafat adalah kursus dari mati, dari maut,” kata tokoh centeng pekuburan dalam novel Ziarah karya Iwan Simatupang.

Memikirkan kehidupan dan kematian bukan perkara mudah. Bukan karena tidak bisa, tetapi tidak terbiasa, juga karena tidak punya waktu untuk berpikir. Manusia modern adalah manusia yang terlalu sibuk untuk berpikir tentang kehidupan dan kematian. Sibuknya rutinitas kehidupan telah membuat manusia menjadi lelah untuk berpikir tentang dirinya sendiri. Lebih baik menyerahkan urusan rumit itu pada agama dan pemuka agama daripada sibuk memikirkannya. Yang harus dilakukan tinggal bersembahyang secara rutin dan menjalankan semua ritual keagamaan, selesai perkara. Lalu agama menjadi candu masyarakat seperti yang dikatakan Marx. Agama menjadi terapi bagi mereka yang belum dewasa secara psikologis, kata Freud. Manusia menyerahkan kebebasan dan kemandirian berpikir di hadapan otoritas pemuka agama, lalu merasa bahwa keselamatan mereka telah dijamin. Padahal, alih-alih ketenangan yang mereka peroleh, melainkan ketakutan dan kegelisahan yang mereka tuai sepanjang hidup.

Ketakutan dan kegelisahan manusia bersumber pada hasratnya yang tak pernah padam. Hasrat-hasrat inilah yang menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan kebahagiaan. Pesimisme Schopenhauer menamakan hal ini sebagai kehendak untuk hidup (will to live) yang secara buta menggerakkan dunia. Bagi Schopenhauer, pada dasarnya hidup adalah penderitaan. Kebahagiaan hanyalah reklame yang berlangsung sebentar saja. Dalam menjelaskan tentang apa dan mengapa hasrat manusia menjadi sumber kecemasan dan kebahagiaan, telah muncul banyak sekali penjelasan-penjelasan. Proyek besar penanggulangan hasrat manusia yang menggejolak ini menjadi rekaman peristiwa bagi lahirnya pemikiran-pemikiran yang hendak memberikan obat mujarab atas hal ini. Agama juga tidak luput dari proyek besar ini.

Setiap manusia pasti ingin bahagia, entah dengan cara apapun. Hasrat manusia akan kebahagiaan pada umumnya terjabarkan pada hasrat akan kekayaan dan kemahsyuran. Adagium bahwa kekayaan dan kemahsyuran membawa kepada kebahagiaan sudah mulai usang, sebab, justru kekayaan dan kemahsyuranlah yang sering membuat manusia menjadi cemas dan tidak bahagia. Sehingga, semua orang sama saja. Bagi mereka yang telah memiliki kekayaan dan kemahsyuran, merasa cemas, jangan-jangan suatu saat mereka akan kehilangan itu semua. Sedangkan bagi mereka yang miskin dan tidak terkenal, juga merasa cemas, jangan-jangan sepanjang hidupnya mereka akan hidup kekurangan seperti ini terus.

Atas ketidakbahagiaan dan kecemasan dalam hidup, pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul tidak lagi menuntut “mengapa”, tetapi juga tentang “mengapa bertanya mengapa”. Mengapa manusia tidak bahagia? Mengapa manusia bertanya mengapa ia tidak bahagia? Mengapa manusia bertanya mengapa ia takut kematian?

Oleh sebab itu, kehidupan manusia yang begitu kompleks ini menjadi menarik untuk dibicarakan. Kehidupan yang begitu kompleks ditutup oleh kematian yang penuh misteri. Ketika manusia tiba kepada kematiannya sendiri – pada kematianku bukan kematianmu – maka itulah momen eksistensialnya sebagai seorang individu. Ia harus menghadapi kematiannya sendirian, tanpa pendamping, tanpa siapa pun kecuali dirinya sendiri. Manusia yang terbiasa hidup dalam kerumununan, dan terbiasa meminjam pendapat orang lain untuk dirinya, harus menjumpai kenyataan bahwa di dalam kematian, ia betul-betul sendirian.

Di waktu yang lalu, pada sebuah harian yang terbit di Paris, ada sebuah sayembara untuk menjawab sebuah pertanyaan. Pertanyaan tersebut kira-kira berbunyi demikian, seandainya hari ini adalah hari terakhir dalam hidup anda, bukan karena anda saja yang akan mati besok, tetapi karena besok adalah hari kiamat, lalu apa yang akan anda lakukan sekarang?

Marcel Proust, seorang novelis tersohor asal Perancis yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas tempat tidur, memenangkan sejumlah uang sebagai pemenang pertama sayembara ini. Berbeda dengan jawaban para pembaca lainnya, yang menganjurkan untuk melakukan amal saleh, meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakiti, bertobat kepada Tuhan, dan perbuatan baik lainnya, Proust justru mengatakan bahwa ia akan berlibur dan menghabiskan waktunya untuk bersantai.

Dengan demikian, adalah cita-cita manusia untuk hidup tanpa penderitaan dan mati tanpa ketakutan. Andaikata manusia bisa hidup tanpa kecemasan dan menghadapi kematian dengan santai seperti jawaban Proust, maka hidup terasa menyenangkan dan mungkin tidak menarik lagi.***

*Penulis adalah alumnus Fakultas Filsafat Unversitas Gadjah Mada

Catatan:


[1] Lihat Kundera, Milan, 2002, The Unbearable Lightness of Being (Entengnya Kehidupan: Sebuah Metafora tak Tertahankan), diterjemahkan oleh John de Santo, Kunci Ilmu: Yogyakarta. Hlm. 15.

[2] Lihat Kundera. Ibid. Hlm. 270

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s