ISTRI KETUA RT DAN PARA REMAJA

Oleh: BAMBANG RAHARJO

Beberapa waktu lalu media massa ramai memberitakan kabar tentang seorang Istri ketua RT (Rukun Tangga) berusia 40 tahun di Bengkulu yang telah berhubungan sex dengan beberapa remaja pria usia sekitar 14-15 tahun (setidaknya ada 7 remaja yang telah mengaku). Istri ketua RT tersebut mengaku digoda oleh para remaja, sedangkan para remaja mengaku dipaksa oleh Istri ketua RT untuk berhubungan sex dengannya. Faktanya, Istri ketua RT maupun para remaja sama-sama mengaku telah melakukan hubungan sex, dan telah terjadi selama beberapa bulan.[1]

Sebagai latar, ketua RT, atau suami dari Istri ketua RT, telah menderita penyakit diabetes selama sekitar empat tahun, sehingga kemampuan sexualnya terganggu. Persoalan ini dianggap melatarbelakangi perbuatan Istri ketua RT mencari pemenuhan kebutuhan sex di luar pasangan, yakni dengan para remaja.

Norma adat (termasuk agama) masyarakat Bengkulu segera memvonis bejat perbuatan Istri ketua RT. Istri ketua RT dianggap telah mengajak pelanggaran norma adat, yakni berhubungan sex di luar nikah. Selain itu, perbuatan Istri ketua RT dianggap merusak moral para remaja. Masyarakat setempat mengupayakan pengusiran keluarga ketua RT dari tempat tinggal mereka, karena perbuatan istri ketua RT dianggap telah memalukan daerah setempat. Di sisi norma hukum, Istri ketua RT segera diperiksa di kantor polisi, dan mungkin akan  diancam dengan tuntutan perbuatan pencabulan anak di bawah umur.

Perbuatan Istri ketua RT dianggap aneh oleh masyarakat, khususnya di Bengkulu. Alasan pertama, Istri ketua RT melakukan hubungan sex dengan anak-anak yang dikategorikan di bawah umur oleh hukum positif, meski remaja pria usia 14-15 tahun sebenarnya telah memasuki fase kehidupan sexual atau puber. Kedua, perbuatan istri ketua RT sebagai wanita yang mencari pemenuhan kebutuhan sex dianggap tidak atau kurang lazim. Anggapan umum yang ada di masyarakat ialah bahwa hanya pria yang selalu memburu kebutuhan sex. Namun perbuatan Istri ketua RT tersebut memperlihatkan bahwa wanita sebenarnya juga butuh kepuasan sex dan berani untuk memburu kebutuhan sex tersebut.

Di dalam masyarakat yang menganut sistem patriarkhi, persoalan sexual didominasi oleh kepentingan laki-laki. Norma sosial tentang sex ditekankan pada kepentingan laki-laki. Wanita dididik dan ditanamkan di dalam pikirannya bahwa mereka adalah pelayan laki-laki (suami). Laki-laki diberi hak poligami, sedangkan wanita tidak diberi hak poliandri.

Selain itu, masyarakat memandang negatif pada status janda. Wanita yang pernah menikah kemudian bercerai dianggap sebagai wanita yang kurang secara kwalitas, bukan wanita ideal, dan bahkan tidak jarang dipandang sebagai bukan wanita baik karena dianggap tidak dapat melayani suami dengan baik. Hal ini mengakibatkan banyak wanita, meski tidak semua, lebih takut bercerai daripada laki-laki. Apalagi bagi wanita yang tidak bisa mandiri secara ekonomi, karena ia tergantung secara ekonomi pada laki-laki (suami) dan juga takut pada pandangan masyarakat tentang status janda.

Di dalam masyarakat dengan dominasi patriarkhi, apabila seorang istri tidak dapat melayani kebutuhan sexual suaminya, maka terdapat suatu sistem yang membolehkan suami untuk menikahi wanita lain sebagai pengganti dalam hubungan sex, tanpa harus berpisah atau menceraikan istri yang telah ada. Laki-laki dibolehkan melakukan poligami. Sebaliknya, apabila seorang suami tidak dapat melayani kebutuhan sexual istrinya, maka tidak ada sistem yang membolehkan istri menikahi laki-laki lain sebagai pengganti, tanpa terlebih dahulu bercerai dengan suami yang  telah ada. Untuk bisa mendapat pemenuhan kebutuhan sexual dengan laki-laki lain, maka seorang wanita terlebih dahulu harus bercerai dengan suami yang telah ada, dan kemudian menikah dengan laki-laki lain tersebut.

Pada prakteknya, keinginan wanita untuk bercerai menjadi tidak mudah. Pertama, persoalan ketergantungan ekonomi pada suami. Kedua, suami dengan berbagai alasan tidak selalu menyetujui permintaan cerai dari istri. Ketiga, wanita takut dengan pandangan masyarakat tentang status janda.

Bayangkan jika kasusnya dibalik. Istri ketua RT mengalami gangguan kesehatan sehingga membuatnya tidak dapat memberi pemenuhan kebutuhan sex bagi suaminya. Suami mungkin akan mencari wanita lain. Norma sosial memberi kesempatan pada suami untuk memiliki istri lebih dari satu. Suami tersebut mungkin akan menikah lagi dengan wanita lain, tanpa terlebih dahulu menceraikan istri yang telah ada. Masyarakat akan memaklumi dan tidak akan memvonis bejat terhadap tindakan suami yang memiliki istri lagi.

Namun karena norma sosial di dalam masyarakat, dalam hal ini Bengkulu, kental unsur patriarkhi, maka gangguan kesehatan yang menimpa Suami (ketua RT), yang berdampak tidak dapat memberi kebutuhan sex pada Istrinya, telah mengakibatkan dilema pada Istri ketua RT.

Istri ketua RT terjebak di dalam persoalan kebutuhan sex dan norma masyarakat. Di satu sisi, suaminya tidak dapat memberi pemenuhan kebutuhan sex karena persoalan gangguan kesehatan. Di sisi lain, norma sosial setempat tidak memberi kemungkinan bagi istri ketua RT untuk mencari laki-laki lain sebagai penganti kebutuhan sex, tanpa terlebih dahulu bercerai dari suaminya.

Memang terdapat persoalan yang hanya diketahui oleh Istri ketua RT. Pertama, tentang mengapa Istri ketua RT tidak bercerai terlebih dahulu dengan suaminya, baru kemudian mencari pasangan lain. Kedua, tentang kenapa Istri ketua RT lebih memilih berhubungan sex dengan para remaja daripada dengan laki-laki dewasa.

Persoalan hubungan sex antara Istri ketua RT dengan para remaja terdiri dari persoalan kebutuhan biologis sex, norma adat masyarakat setempat, dan ketentuan hukum positif negara. Istri ketua RT mengalami posisi sulit terkait kebutuhan biologis sexualnya ketika mendapati suaminya tidak dapat memberi kebutuhan sexual. Jalan keluar yang ditempuh oleh Istri ketua RT untuk mengatasi persoalan kebutuhan sexual tersebut berupa tindakan yang merupakan pelanggaran norma adat dan norma hukum masyarakat setempat. Siapa saja yang salah?

Catatan:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s