TEORI DAN PRAKSIS

By: M. Najib Yuliantoro*

Saya pikir menjadi intelektual organik itu bukan perkara mudah. Di tengah riuhnya aktivitas praksis yang padat, ide dan gagasan abstrak seolah tak selalu memperoleh tempat. Ada “permainan bahasa” dan “laku praksis” yang seakan berjarak dari “permainan bahasa” dunia ide dan gagasan.

Di dalam dunia ide, jika mau konsisten menempuh jalan ini, ada semacam kontinuitas konsep yang diyakini, diperjuangan, dan pada momen tertentu, dipersoalkan bahkan diruntuhkan. Dunia ide adalah “dunia yang ada di sana”, dunia yang amat intim, dunia yang barangkali hanya dapat dialami oleh mereka yang konsisten menempuh “jalan sunyi”, jalan kesendirian, jalan tanpa basa-basi. Sedangkan dunia praksis adalah “dunia yang hadir di sini”, “pada momen saat ini”, dan cenderung permisif terhadap basa-basi.

Bagi dunia ide, dunia praksis, pada saat tertentu, terkadang membosankan sekaligus memuakkan. Namun bagi dunia praksis, dunia ide dianggap sebagai “bertele-tele”, “tidak konkret”, “tak berguna”, “mengawang-awang”, “tidak pasti”, seringkali dihindari namun tak jarang pula dirindui.

Terlalu memeluk “dunia ide”, tanpa “turun tangan” dalam “dunia praksis”, barangkali bukan pilihan yang sepenuhnya tepat. Sebab kita, manusia, selalu hadir dan bersinggungan di dalam “dunia yang ada di sini”. Terlalu mengimani kebenaran di dalam “dunia ide”, bisa-bisa, akan terjerumus pada “kesesatan dalam kebenaran”. Namun “tersesat dalam kebenaran” tetaplah jauh lebih baik daripada “tersesat dalam kesalahan”. “Tersesat dalam kesalahan” hadir, umumnya, dari keengganan untuk mengupayakan tradisi berpikir keras. Dan peradaban tidak lahir dari kemalasan berpikir.

Sebaliknya, terlalu memeluk “dunia praksis”, ibarat seonggok daging yang berdiri tegak namun tanpa ruh. Sebuah pergerakan praksis nyaris tanpa makna jika tidak mengusung ide dan gagasan. Pergerakan yang tidak berangkat dari makna, adalah “anarkis”. Pemikiran yang tidak “turun” ke bumi, adalah “lamunan” kalau bukan “utopis”.

Pertanyaannya kemudian apakah setiap ide selalu memiliki konsekuensi praksis? Dan apakah setiap tindakan praksis mesti selalu didasarkan pada ide dan gagasan?

Seperti dalam tradisi filsafat, setiap upaya ontologis dan epistemologis, di level teori pun masih menyisakan perdebatan etis. Ini artinya, belum lagi kita bicara tentang tindakan praksis, di dalam sebuah teori dan konsep pemikiran yang utuh sekalipun, selalu sudah muncul perdebatan tentang yang praksis, sekali lagi di level teoritis, entah ia hadir tak terelekkan atau sengaja dipersiapkan.

Sebuah konsep pemikiran yang utuh di dalam filsafat adalah pemikiran yang menghimpun ide-ide yang bersifat ontologis dan epistemologis. Kedua cabang pemikiran ini selalu memiliki konsekuensi etis sebelum kemudian “dibumikan” ke dalam tindakan-tindakan praksis. Bukan lagi disebut kebetulan jika ada filsuf yang percaya bahwa puncak filsafat adalah etika.

Dilihat dari jalan pikiran ini, maka sebuah konsep pemikiran sesungguhnya diperlukan sebagai basis tindakan. Gramci menyebut intelektual macam ini sebagai “intelektual organik”, intelektual yang tidak hanya menyendiri ke dalam “kesunyian di dalam dunia ide”, namun juga “turun tangan”, memberi dasar dan terlibat bagi aksi-aksi konkret. Pemikir yang hanya berdiri gagah di menara gading pemikiran adalah pemikir yang lumpuh dan angkuh. Namun seorang praktisi yang mengabaikan ide dan gagasan dalam setiap aksi-aksi nyatanya adalah praktisi buta.

Saya ingin melanjutkan diskusi ini, apakah setiap pemikir yang melahirkan satu konsep pemikiran yang utuh, harus dirinya sendiri yang turun ke bumi. Bukankah ia sudah membumi, minimal dengan pemikirannya, dengan memberi konsepsi pemikiran yang bersifat etis? Bukankah konsep etika sebuah pemikiran sudah merupakan upaya “turun tangan”, dalam rangka mendasari tindak-tindakan praksis, dengan tujuan memperjelas basis moral yang diperjuangkannya? Singkatnya, apakah seorang pemikir yang menempuh jalan itu masih layak disebut angkuh dan lumpuh?

Pertanyaan di atas tidak mudah untuk dijawab. Akan tetapi jika kita coba menengok sejarah gagasan, tidak semua pemikir selalu terlibat (atau melibatkan diri) dalam dunia praksis yang seringkali menyela kontinuitas pemikiran. Ide-ide masyarakat tanpa kelas Karl Marx, misalnya, di dalam diri Marx, hanya membekas pada jejak ide. Ia sama sekali tidak melibatkan diri ke dalam aksi-aksi konkret. Justru setengah abad setelahnya ide Karl Marx menemukan aktualisasinya di Uni Soviet dan China.

Marx hanya salah satu contoh bahwa seorang pemikir terkadang tidak dapat sekaligus menjadi seorang praktisi. Berbeda dengan pemikir Soekarno, yang memperjuangkan ide-idenya tentang bangsa dan negara, ke dalam struktur agung yang dia imani sebagai Negera Kesatuan Republik Indonesia. Soekarno adalah seorang pemikir sekaligus praktisi.

Ada seorang pemikir beretorika, “sudah berpikir berarti sudah bertindak”. Benar jika berpikir dipahami sebagai bagian dari tindakan. Namun “berpikir sebagai bertindak” di sini bukanlah “berpikir” seperti dipikirkan dan dilontarkan oleh pengamat politik yang hanya bicara “asal beda”. “Berpikir sebagai bertindak” adalah tindakan berpikir yang secara sungguh-sungguh memikirkan suatu hal yang esensial sehingga dari tindakan berpikir itu terlahir sebuah konsepsi pemikiran yang mendasar, konsisten, utuh, dan sekali lagi tidak “asal beda”.

“Berpikir sebagai bertindak” adalah tindakan berpikir keras dan kontinu dan selalu mengandaikan adanya interaksi yang saling mengkonstitusi antara dunia ide dan dunia praksis, antara “dunia yang di sana” dan “dunia yang di sini”. “Berpikir sebagai bertindak” adalah tindakan berpikir keras yang bukan hanya akan melahirkan seorang “intelektual organik”, seperti dikatakan Gramci, akan tetapi juga menyemai hadirnya sebuah dunia peradaban yang “organik” dan “hidup”, serta bukan dunia peradaban yang sekadar bangga menampilkan dengan gagah “monumen-monumen pemikiran”  agung namun dipahami secara “dogmatis”.***

*Alumnus Filsafat UGM dan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogya

Tulisan ini dimuat di http://nagueb.wordpress.com/2012/11/29/teori-dan-praksis/

3 responses to “TEORI DAN PRAKSIS

  1. Pingback: Teori dan Praksis « Postscript

  2. Pingback: Teori dan Praksis   | M. Najib Yuliantoro

  3. Pingback: Teori dan Praksis | M. Najib Yuliantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s