BAGAIMANA MENYIKAPI FENOMENA GEMPA BUMI?

Oleh: Harsa Permata

Gempa bumi adalah bencana yang sering terjadi di berbagai belahan dunia umumnya, dan Indonesia khususnya. Untuk Indonesia, bencana gempa bumi, terutama gempa bumi tektonik, telah menelan banyak korban jiwa dan harta-benda.

Pandangan-pandangan Tentang Gempa Bumi

Sebelum ada eksplanasi ilmiah tentang penyebab gempa bumi, telah ada berbagai penjelasan bahwa gempa bumi dikarenakan bergeraknya penopang bumi, yang digambarkan sebagai hewan-hewan tertentu. Misalnya, pandangan Indian Alqonquin di Amerika Utara, yang menganggap bahwa bumi ditopang oleh seekor kura-kura. Bangsa Mussulmen di Konstantinopel menganggap bawa bumi dibawa oleh seekor banteng di punggungnya, dan gempa terjadi karena banteng itu memindahkan bebannya dari satu kaki ke kaki yang lain. Bangsa Masawahili di Afrika Timur percaya bahwa ada seekor ikan yang bernama Chewa. Ikan ini berenang di lautan alam semesta dengan membawa sebongkah batu di punggungnya. Di atas batu itu terdapat seekor sapi, dan bumi terletak di salah satu tanduk sapi itu. Gempa bumi terjadi karena sapi tersebut memindahkan bumi ke tanduknya yang lain. Selanjutnya, kepercayaan para pendeta Buddha di Mongolia, yang menganggap bahwa gempa bumi terjadi karena seekor katak yang menjadi tempat bumi bersandar, menggerakkan anggota tubuhnya (Don & Leet, 2006:34-35).

Pandangan yang berbeda terdapat pada bangsa Yunani kuno, hanya saja masih terdapat unsur mistis dalam pandangan mereka. Mereka berpandangangan bahwa walaupun bumi berada di punggung Dewa Atlas, akan tetapi yang punya kuasa atas gempa bumi adalah Poseidon atau Dewa Laut. Kalau dibandingkan dengan pandangan ilmiah, bahwa gempa terjadi karena pergerakan lempeng bumi, yang umumnya ada di laut, maka pandangan ini agak sedikit lebih maju dibandingkan pandangan kuno lainnya (Don & Leet, 2006:36).

Berikutnya adalah pandangan Aristoteles tentang gempa bumi. Ia berangkat dari imajinasinya. Menurut Aristoteles, bagian dalam bumi penuh dengan lubang gua dan lintasan berongga. Dari waktu ke waktu udara memasuki wilayah terbuka yang berada di dalam bumi itu. Udara digerakkan oleh api, dan gempa bumi terjadi karena api mencari jalan keluar untuk mendapat udara terbuka yang nyaman, ini menyebabkan bumi berguncang dan terjadilah gempa (Don & Leet:37).

Dari pandangan-pandangan kuno tersebut, maka kita bisa tarik benang merah antara pandangan tersebut dengan eksplanasi ilmiah. Semua pandangan kuno tersebut menganggap bahwa gempa bumi terjadi karena sebuah pergerakan. Walaupun pergerakan tersebut masih dalam nuansa mistis, akan tetapi sudah ada usaha mengaitkan gempa bumi dengan gerak.

Berdasarkan pengetahuan ilmiah, gempa tektonik adalah berguncangnya bumi sebagai akibat dari pergesekan antar lempeng bumi. Prosesnya adalah sebagai berikut: lempeng samudera yang rapat massanya lebih besar, bergesekan dengan lempeng benua di zona gesekan atau tumbukan (subduksi) akan menyusup ke bawah. Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan sebagai akibat gesekan dari selubung bumi. Perlambatan gerak tersebut akan menyebabkan penumpukkan energi di zona subduksi dan zona patahan. Akibatnya di zona-zona itu terjadi tekanan, tarikan, dan geseran. Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui maka terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. Proses ini menimbulkan getaran partikel ke segala arah yang disebut gelombang gempa bumi (Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, tanpa tahun: 4-5).

Pergerakan lempeng terjadi dikarenakan adanya dua arus konveksi yang memindahkan panas melalui zat cair atau gas. Panas dalam selubung yang berada di bawah lempeng bumi yang kemudian membuat lempeng-lempeng bergerak. Karena suhu selubung sangat panas, maka bagian-bagian di selubung bisa mengalir seperti cairan yang tipis. Lempeng-lempeng itu bergerak seperti ban berjalan yang berukuran besar (Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, tanpa tahun:4).

Gempa bumi adalah fenomena yang sering terjadi di Indonesia. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan beberapa bagian di kepulauan Indonesia terletak di pinggiran lempeng yang mengalami getaran yang lebih besar dibanding daerah yang berada di pertengahan lempeng. Kepulauan Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yakni, lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Tumbukan antar lempeng Eurasia dan Australia, terjadi di lepas pantai barat Pulau Sumatera, lepas pantai selatan Pulau Jawa, dan Nusa Tenggara, lalu berbelok ke kanan menuju arah utara perairan Maluku sebelah selatan. Sementara tumbukan antar lempeng Australia dan pasifik terjadi di sekitar Pulau Papua. Pertemuan antar tiga lempeng, terjadi di sekitar Sulawesi (Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, tanpa tahun:5). Inilah yang menjelaskan mengapa gempa bumi di Pulau Sumatera berkekuatan besar.

Gempa Bumi Sebagai Peristiwa Gerak

Berdasarkan filsafat materialisme dialektika, gerak adalah sebuah tarikan dan dorongan. Gempa bumi tektonik terjadi karena pergerakan lempeng. Pergerakan lempeng terjadi karena adanya dua arus konveksi yang mengalirkan panas yang berasal dari inti bumi. Panas ini kemudian membuat adanya perputaran di selubung yang berada di bawah lempeng bumi. Hal ini yang kemudian membuat lempeng bergerak.

Tarikan dan dorongan yang mengakibatkan pergerakan lempeng bumi, yang kemudian menyebabkan gempa bumi tektonik, adalah hasil dari proses dialektika antara dua arus konveksi (dua arus tersebut adalah arus dingin yang turun ke bawah, dan  arus yang panas yang naik ke atas) yang mengalirkan panas dari inti bumi dan perputaran dalam selubung yang berada di bawah lempeng.

Di dalam hukum dialektika (lihat Engels, 1946:26), terdapat hukum perubahan kuantitas menjadi kualitas, dan sebaliknya. Jika dilihat dalam proses terjadinya gempa tektonik, sebuah perputaran dalam selubung terjadi karena besarnya kuantitas panas. Gerak yang besar terjadi jika ada proses dialektika antara tarikan dan dorongan yang besar pula. Begitu juga sebaliknya, sebuah gerak yang besar juga menimbulkan tingginya frekuensi tarikan dan dorongan.

Hukum kedua adalah hukum interpenetrasi dari yang hal-hal yang berlawanan, A=Non-A. Sebuah gerak lempeng berasal dari proses pemindahan panas oleh dua arus konveksi. Kedua arus tersebut berbeda, yaitu arus panas dan arus dingin, dan dengan gerak yang juga berbeda, yang satu ke atas dan yang satu ke bawah. Akan tetapi besaran ketika proses terjadi adalah sama.

Hukum ketiga adalah negasi dari negasi. Sebuah sintesis akan menjadi tesis baru yang akan berkontradiksi lagi dengan antitesis, untuk mencapai sintesis berikutnya. Kontradiksi antara arus panas dan dingin, menghasilkan sintesis berupa perputaran dalam selubung. Sintesis ini kemudian berkontradiksi lagi dengan pergerakan lempeng untuk menghasilkan sintesis yang dinamakan sebagai gempa bumi.

Dengan memahami penyebab gempa berdasarkan filsafat materialisme dialektika, maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa gerak dialektika adalah gerak alam itu sendiri. Kenyataan alamiah adalah pergulatan antara tesis dan antitesis yang kemudian melahirkan sintesis. Gerak adalah tidak bisa dihancurkan dan diciptakan, yang berarti gerak adalah kekal. Mengapa begitu? Energilah yang membuat gerak itu kekal, seperti kata Engels, “Whereas only ten years ago the great basic law of motion, then recently discovered, was as yet conceived merely as a law of the conservation of energy, as the mere expression of the indestructibility and uncreatability of motion” (Engels, 1947:8). Ringkasnya, bahwa hukum kekekalan energi terwujud dalam kekekalan gerak.

Memajukan Pemahaman

Pandangan mistis tentang gempa bumi adalah sebuah hal yang harus dipahami berdasarkan konteks zamannya. Pandangan mistis tersebut lahir dari tiadanya metode dan perangkat ilmiah untuk menjelaskan fenomena alam. Ketika mengalami keterbatasan, maka manusia beralih ke perspektif mistis untuk menjelaskan fenomena alam.Walaupun begitu, perspektif mistis tersebut adalah wujud dari usaha manusia untuk memahami gejala alam dengan akal budi yang dimilikinya.

Untuk zaman modern, relevansi pandangan mistis dalam menjelaskan fenomena gempa bumi mungkin sudah tidak ada lagi. Penjelasan ilmiah adalah hal yang tepat dalam menjelaskan fenomena alam. Hal inilah yang seharusnya dipahami dan dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia, agar bencana gempa bumi tidak merenggut jutaan nyawa, seperti yang terjadi sebelumnya.

Masyarakat Indonesia tradisional memiliki warisan kearifan lokal untuk menghadapi bencana alam seperti gempa bumi. Misalnya, konstruksi arsitektur tradisional rumah gadang terbukti tahan terhadap gempa bumi. Untuk itu kita bisa tarik kesimpulan berikutnya, yaitu bahwa konstruksi arsitektur tradisional tersebut adalah salah satu bentuk penyelarasan diri dengan hukum alam. Sehingga, ketika bumi berguncang akibat gempa maka bangunan tradisional tersebut tidak hancur.

Hal inilah yang seharusnya menjadi kajian ilmu pengetahuan dan filsafat modern, yaitu bagaimana menciptakan sintesis dari budaya tradisional dan ilmu pengetahuan modern. Memang, dalam hal eksplanasi teoritis tentang penyebab terjadinya gempa, budaya tradisional sudah tidak relevan lagi. Akan tetapi hasil kebudayaan tradisional, yang berupa konstruksi bangunan tahan gempa, adalah masih sangat relevan untuk konteks kekinian Indonesia.

Kemajuan ilmu pengetahuan seharusnya disertai juga dengan kemajuan pola pikir masyarakat manusia. Jika kedua hal ini tidak singkron, maka perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik adalah sulit terwujud. Untuk itu, diperlukan juga sebuah sintesis antara pandangan ilmiah yang bersifat empiris dan rasional, dengan pandangan tradisional yang bersifat non empiris dan non rasional. Gunanya adalah untuk memajukan kesadaran masyarakat secara umum, atau masyarakat Indonesia khususnya untuk menghadapi kenyataan yang terus-menerus berkembang.***

 

Daftar Pustaka

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Tanpa Tahun. Gempa Bumi dan Tsunami, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Bandung.

Don, L & Leet, F. 2006.         Gempa Bumi, Penjelasan Ilmiah dan Sederhana, Proses, Tanda-tanda akan Terjadinya, Serta Antisipasi Dampak. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Engels, F. 1947.                      Anti Duhring. Moscow: Progress Publisher.

Engels, F. 1946.                      Dialectics Of Nature. London: Lawrence And Wishart, LTD. (translated by Clemens Dutt).

One response to “BAGAIMANA MENYIKAPI FENOMENA GEMPA BUMI?

  1. Yang teruatama adalah peran BNPB dan BMKG harus cepat memberi info siaga bencana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s