ITAL FOOD

Oleh: A. SEMALI*

Pergerakan Rastafari berkembang sekitar tahun 1930-an di kepulauan Karibia dan sekitarnya terutama Jamaika. Hal ini menjadi suatu kebanggaan, semangat persatuan dan perjuangan para budak-budak “belian” dari Afrika yang merasa telah diperlakukan secara biadab selama  berabad-abad oleh para penjajah Eropa dan Amerika. Semangat ini berkembang dari yang awalnya berbentuk perlawanan fisik menjadi perlawanan secara kultur. Bertitik tolak dari semangat pergerakan Rastafari sendiri untuk “kembali ke Afrika”, kaum Rasta mulai membentuk jatidirinya sebagai  kaum-kaum yang melawan kekuasaan kapital atau penjajah untuk kembali merebut hak-hak mereka. Perlawanan secara kultur ternyata memberikan imbas yang cukup luas, bahkan saat ini Rastafarian sudah dikenal luas di seluruh dunia dan dianggap mewakili suara-suara kaum tertindas secara luas.

Bagi beberapa kaum Rasta, mereka hanya makan beberapa jenis makanan diet yang sesuai dengan aturan dalam Kitab Injil Perjanjian Lama (Old Testament). Mereka tidak mengkonsumsi babi, kerang-kerangan, dan berbagai jenis daging, namun dengan beberapa pengecualian seperti ikan-ikanan. Banyak kaum Rasta yang mentaati pola hidup vegan dan vegetarian sebagai suatu jalan untuk membersihkan diri, jiwa dan raga.

Pola hidup kaum Rasta mengkonsumsi makanan tertentu tersebut dikenal sebagai konsumsi makanan ital. Ital berasal dari bahasa Inggris “vital” yang kemudian berubah bentuk dengan gaya berbicara kaum Rasta (Iyaric). Tidak banyak perbedaan antara pola ital dan vegan atau vegetarian kecuali mereka juga tidak menggunakan garam, produk olahan, produk yang diawetkan, bahan-bahan kimia sintetis, dan makanan kalengan.

Kebanyakan resep-resep makanan ital sangat sederhana dan minim pengolahan sehingga kemurnian manfaat nutrisi kemungkinan sangat terjaga. Bahan makanan yang digunakan juga bersifat organik dan bebas dari bahan-bahan kimia yang sering digunakan pada perusahaan-perusahaan besar modern. Kaum Rasta percaya hubungan manusia dan alam harus dijaga secara natural, tidak dirusak dengan bahan-bahan yang tidak seharusnya. Makanan tidak hanya sebagai pemenuh nafsu belaka namun juga sebagai obat dan pencerminan sifat-sifat kaum Rasta yang cinta akan kedamaian perdamaian.

Awal perkembangan diet makanan ital tidak hanya sekedar sebagai bentuk ketaatan terhadap kepercayaan mereka, tapi juga sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap tekanan industri makanan dari negara Barat yang menginvasi Kepulauan Karibia dan sekitarnya. Berawal dari adanya studi mengenai tingkat gizi buruk di kalangan kaum miskin di Kepuauan Karibia, memang terdapat fakta-fakta yang berlimpah mengenai keadaan ini ditambah kelaparan dan gizi buruk yang melanda kaum miskin pekerja sehingga mempengaruhi kesehatam masyarakat secara umum. Kurangnya pengetahuan akan nilai gizi bahan-bahan makanan lokal  juga memperparah keadaan ini.

Tidak mengejutkan banyak pihak barat yang tertarik mengenai hal gizi buruk ini. Bahkan, beberapa instansi besar seperti yayasan Rockefeller dan militer Amerika Serikat ikut mensponsori studi dan mengadakan seminar mengenai hal ini. Tidak aneh memang, karena para kapitalis Amerika Serikat mempunyai sebuah rencana untuk menggunakan permasalahan gizi buruk dan makanan ini sebagai senjata untuk menuai keuntungan. Kaum Rasta dalam hal ini hadir dengan memulai pergerakan untuk menggunakan buah-buahan, sayu-sayuran dan tumbuh-tumbuhan  (makanan ital) dari pedalaman sehingga ketergantungan pada makanan impor –yang diproduksi para pengusaha kapitalis Amerika Serikat— bisa dipatahkan. Berbagai macam ubi-ubian, pisang, callaloo (sayuran hijau khas Karibia), kokoa dan bahan makanan lainnya dapat diolah dengan sangat cermat oleh kaum Rasta. Makanan ital merupakan wujud penolakan atas upaya keras kaum kapitalis untuk membuat rakyat miskin mengkonsumsi  dan merogoh kantong dalam-dalam di restoran-restoran siap saji (fast food) atau makanan-makanan instan yang dijual di pasar swalayan terbitan Amerika Serikat. Kaum Rasta telah mengokohkan kebudayaannya, membuktikan kekuatan akar mereka, bahwa mereka dapat hidup mandiri dengan jalan hidup Rastafarian.*****

* Penulis adalah mahasiswa Fakultas Filsafat UGM

Referensi :

Campbell, Horace. 2009. Rasta dan Perlawanan. Yogyakarta: Insist Press. (penerjemah: Dina Oktaviani)

Wikipedia:

http://en.wikipedia.org/wiki/Ital

http://en.wikipedia.org/wiki/Rastafari_movement

One response to “ITAL FOOD

  1. wah, info yg menarik. saya baru tau soal ital ini. terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s