PERPINDAHAN ILMU-ILMU YUNANI KE NEGERI TIMUR

Oleh: Imam Wahyuddin*

Buku “Hunaian ibn Ishaq wa `Ashr Al-Tarjamah Al-`Arabiyyah” (Hunain ibn Ishaq dan Zaman Terjemah Arab) karangan Nasim Mugli terbitan Al-Majlis Al-A’la Li Al-Tsaqafah, Cairo, Mesir (th. 2006), mengisahkan cerita sosok penerjemah terkemuka pengikut Kristen Nestor bernama Hunain ibn Ishaq Al-Ibady.

Berkat penguasaan bahasa Yunani, Suryani dan Arab yang baik, Hunain ibn Ishaq turut andil dalam proses peralihan khazanah keilmuan Yunani ke dunia Timur. Nama Hunain ibn Ishaq dicatat sejarah sebagai penerjemah tersohor di masa Dinasti Bani Abbasiyah yang paling produktif terutama karya terjemahan di bidang kedokteran.

Saya tidak membahas rekam sejarah Hunain ibn Ishaq secara rinci dalam ulasan ini kecuali menyebutnya sekilas. Saya lebih tertarik menuturkan review sejarah tentang bagaimana perjalanan khazanah Yunani itu sampai ke dunia Timur sebagaimana ditulis dalam buku Nasim Mugli ini.

Kekayaan literatur Yunani, dari disiplin keilmuan, budaya, hingga peradabannya yang berlangsung dua abad sebelum zaman Kristen, merupakan mukjizat yang menimbulkan decak kagum semua anak manusia adalah berkat jasa abad pertengahan.

Di abad itulah terjemahan besar-besaran dilakukan. George Sarton dalam buku “Târîkh Al-Ulum” (Sejarah Ilmu-ilmu) mengatakan, aspek terjemahan ilmu-ilmu Yunani tidak kalah penting dari aspek penemuan ilmu tersebut. Jika bukan karena terjemahan niscaya ilmu-ilmu itu tidak sampai ke tangan kita sekarang.

Jangan disamakan keadaan dulu dan saat ini. Sekarang kita bisa mengakses internet untuk mendapat teks orisinil. Tinggal pilih topik yang diminati dan klik downloading file. Proses menerjemahkannya juga bisa dibuat rileks serileks-rileksnya, diketik di atas tuts keyboard komputer atau laptop.

Zaman dulu belum mengenal globalisasi, untuk mendapatkan teks rasanya sangat-sangat sulit. Belum lagi proses penerjemahan dan penulisannya yang ribet. Kendala datang mulai dari soal ekonomi, logistik, politik, dan urusan-urusan lain sehingga membuat kerja terjemah lamban dan terbatas.

Misalnya saja untuk mendapatkan teks harus menyebrang antarbenua, butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu, atau mungkin berbulan-bulan. Mobilitas tinggi tapi tidak didukung transportasi memadahi. Oleh karenanya bukan soal gampang mengumpulkan teks dan menerjemahkan menjadi satu jilid buku yang bisa dinikmati.

Ilmu-ilmu Yunani berkembang di Athena dan Alexanderia (Mesir) berpindah ke Timur hanya di daerah-daerah di mana penduduknya berkomunikasi menggunakan bahasa Suryan dan Persia (Suryâniyyah wa Fârisiyyah), seperti di kota Edesse, Nissibin dan Jundishapur di Khurasan di mana basis penduduknya menganut Kristen Nestorian (Al-Nasâthirah), kemudian di Antakya yang menjadi basis pengikut Kristen Ya’qubian (Al-Ya’âqibah).

Selain itu, di Edesse dan Nissibin di Suriah, terdapat juga basis madrasah-madrasah atau tempat-tempat pembelajaran dan pengkajian di dalam gereja yang dalam bahasa Suryan disebut usthûl (أسطول). Tidak salah lagi, istilah usthûl diambil dari bahasa Yunani, yaitu “Schole”.

Kemudian kata usthûl (أسطول) atau uskûl (أسكول) ini dalam istilah kamus Arab digunakan menunjuk sekolah Kristen atau sekolah di gereja yang di dalamnya diajarkan teologi dan dasar-dasar ilmu agama Kristen, terkadang diajarkan ilmu seperti gramatika, filsafat, kedokteran, musik, matematika, dan ilmu perbintangan.

Filsafat yang diajarkan di usthûl sebatas silogisme Aristoteles, ilmu kedokteran Epicuris dan Jalinus. Di antara gereja tersohor adalah gereja Saint Afinus di Fansarin, sebuah daerah di lembah Suriah, di mana pendeta-pendetanya berasal dari dokter-dokter pilihan Alexanderia, Mesir, seperti: Sergius Kahin.

Tentang berdirinya kajian ilmiah ini Dr. Fihim Aba Dair dalam buku “Târikh Al-Tib Inda Arab” (Sejarah Kedokteran Arab) mengatakan: pada tahun 325 M di Antakya yang terletak di sebelah Selatan Suriah berdiri pusat kajian (madrasah) yang mirip madrasah di Alexanderia dulu, menandakan hubungan peradaban keilmuan Yunani di Mesir dan Suriah sangat-sangat kuat.

Dr. Fihim Aba Dair menambahkan, pada waktu itu karangan-karangan filsuf Yunani menjadi referensi satu-satunya bagi para pendeta di Antakya, untuk itu mereka merasa butuh menerjemahkannya ke dalam bahasa mereka sendiri, bahasa Suryan, untuk mempermudah memahaminya.

Pada sekitar tahun 428 M salah satu alumni sekolah teologi di madrasah Antakya bernama Nestor (Arab: نسطور) diangkat menjadi Petrick di Konstantinopel. Karena bedah pemahaman terjadilah perselisihan soal tafsir dasar-dasar akidah Kristen. Akibatnya Nestor dipaksa menelan pil pahit. Ia dikeluarkan dari gereja Kristen berdasar keputusan agama di Afius pada 431 M.

Keputusan itu segera ditentang masyarakat kristiani Suriah. Mereka tidak menyepakati droup out-nya Nestor dan memutuskan membelot dari kekuasaan Kristen Ortodoks. Seiring berjalannya waktu kelompok ini dikenal dengan sebutan Kristen Nestor, sedang pengikutnya disebut Nestoriyun: yaitu para pengikut Nestor.

Karena menentang mainstream, jemaat Nestor ini hijrah dan mendiami kota Edesse yang masih di Suriah dan Nissibin yaitu kota di antara Musil dan Syam. Di pengasingannya mereka terus melakukan kajian ilmiah. Bahkan di Nissibin terkenal dengan julukan madrasah Nissibin, dalam bahasa Arab disebut: Madrasah Al-Rahâ.

Karena aktifitas ilmiah di bidang kedokteran, pada akhir-akhir abad ke-5 M madrasah Nissibin dikenal paling pakar di bidang kajian kedokteran. Namun seiring berjalannya waktu tekanan Kristen Ortodoks yang berlebihan akhirnya membuat mereka merapat mencari perlindungan ke dinasti Sasaniyah di Persia.

Dr. Abdul Halim Muntashir mengomentari, orang-orang Kristiani Suryan yang melarikan diri ke daerah pengasingannya di Jundesphur tidak lupa membawa buku-buku terjemahan dari Byzantium. Di Byzantium sendiri buku-buku filsafat tidak tersentuh, para pendeta setempat takut menkajinya karena khawatir dicap melenceng.

Proses hijrah kedua ke Persia ini justru memperkokoh tradisi ilmiah mereka, di mana pada pertengahan abad ke-5 M orang-orang Kristen Nestor menunjukkan minat studi kedokteran dengan membangun sekolah kedokteran dan rumah sakit di kota Jundishapur, Persia, di bawah kekuasaan kerajaan Sasaniyah.

Jundishapur sendiri berasal dari kata Jundi dan Syahbur, yaitu “jundun” (جند) dari bahasa Arab yang berarti pasukan, sedangkan “Syahbur” (سابور) adalah nama salah satu raja Sasaniyah. Nama raja Jundishapur kemudian disematkan untuk nama kota kekuasaannya. Secara geografis, Jundishapur terletak di Selatan bagian Barat Iran.

Selain fungsinya di bidang kedokteran, madrasah kedokteran Kristen Nestor di Jundishapur berperan sebagai markas penerjemahan buku-buku kedokteran dari Yunani. Mereka menerjemahkan teks-teks asli Yunani ke dalam bahasa ibu mereka, bahasa Suryan (Al-Lugah Al-Suryâniyyah).

Di antara penerjemah terkenal adalah Sergius Ra’s Aini (wafat 536 M). Ia menerjemahkan sebagian teks-teks kedokteran karangan Jalinus, hingga kini teks terjemahan itu masih tersimpan rapi di sebuah musium di Itali.

Setelah dua abad kemudian giliran penerjemah Hunain ibn Ishaq Al-Ibadi kembali menerjemahkan karya Jalinus. Pada waktu itu Hunain bersama teman-temannya bergabung di Baitul Al-Hikmah yang menjadi pusat penerjemahan termasyhur di Baghdad.

Sebagian besar para dokter (Al-Atibbâ’) pada masa dinasti Bani Umawiyyah dan Bani Abbasiyyah dari orang Kristen yang fasih berbahasa Suryan, dan sebagian besar mereka lulusan madrasah Jundishapur, Edesse, dan Nissibin. Pada masa itu ilmu-ilmu kedokteran banyak menggunakan bahasa Suryan daripada bahasa Arab.

Tidak mengherankan apabila Khalifah Manshur Al-Abbasi (159 H–775 M) mengunakan jasa beberapa dokter Kristen berkebangsaan Suryan untuk urusan kesehatan. Seperti menunjuk Georgius ibn Bakhtiyus mantan ketua dokter di madrasah Jundishapur (148 H–775 M) sebagai ketua departemen kesehatan yang bertugas merawat Khalifah.

Pada suatu hari Khalifah Manshur Al-Abbasi sakit sehinggga kehilangan nafsu makannya. Semua dokter muslim di istana dipanggil untuk mengobati sakit yang diderita Khalifah. Apa yang terjadi? Tak satupun dokter muslim sanggup mengobati. Hanya Bakhtiyus lah yang berhasil menyembuhkan Khalifah. Setelah ditangani Bakhtiyus nafsu makan Khalifah kembali seperti semula.

Bakhtiyus berhasil atas kerjanya yang mengagumkan. Ia pun menjadi dokter pribadi Khalifah. Ini membuat Bakhtiyus mendapat posisi terhormat di dalam istana. Tradisi ini berlanjut hingga ke anak cucu dan murid-murid Bakhtiyus setelahnya. Pengabdian mereka di istana Khalifah Dinasti Abbasiyah berlangsung selama tiga abad berturut-turut.

Melalui cara inilah gerakan terjemah pindah ke Baghdad, serentak Baghdad menjadi menara ilmu yang hormati. Gerakan terjemah menemukan masa keemasannya di Baghdad di masa Dinasti Bani Abbasiyah. Terlebih pada era kepemimpinan Al-Makmun yang tersohor karena kecintaannya dan dedikasinya pada ilmu pengetahuan. Konon kecintaan Al-Makmun bermula dari mimpinya bertemu Aristoteles.

Puncak gerakan terjemahan di masa Khalifah Al-Makmun ditandai dengan berdirinya Baitul Hikmah. Baitul Hikmah berasal dari bahasa Arab, “Bait” (بيت) artinya rumah, dan “Hikmah” (الحكمة) artinya kebijaksanaan. Baitul Hikmah dimaksudkan rumah kebijaksanaan yang mengayomi aktivitas penerjemahan dari bahasa Yunani dan Suryani ke dalam bahasa Arab.

Baitul Hikmah pada waktu itu merupakan semacam “dirasat” ilmiah yang cukup mentereng. Posisinya mengantikan madrasah Alexanderia yang dulu digagas oleh Potlemus Suter. Setelah potensi Alexanderia meredup, Baghdad dengan Baitul Hikmah-nya tampil megah sebagai pengganti.

Baitul Hikmah menjadi batu pijakan sangat menentukan bagi gerakan ilmiah di Baghdad. Bayangkan, pengaruh Baghdad bertahan hingga paruh kedua abad ke-15 M. Salah satu faktor penting yang membuatnya eksis karena di sana terus menerus dilakukan kajian dan pembaharuan ilmu.

Para filsuf Islam dan ilmuan di madrasah Baghdad mewarisi spirit ajaran madrasah Alexanderia, Mesir. Mereka tidak sekedar menukil dan melakukan pengulangan-pengulangan menjemuhkan, melainkan terpacuh terus berkreasi. Jika bukan karena inovasi kreatif, khazanah keilmuan di Baghdad tidak mungkin bertahan sedemikian lama.

Pangabdian pada ilmu di Baghdad penuh dengan semangat inklusivitas dan keteladanan toleransi yang tinggi. Salah-satu contohnya: Khalifah Harun Al-Rasyid mengutus wakilnya mendatangi Kerajaan Romawi hanya untuk bersilaturrahmi demi dan hanya demi urusan ilmu pengetahuan.

Di sana Khalifah Al-Rasyid takjub sosok ilmuan Kristen bernama Masaweh. Tidak lama mengenal Masaweh yang pakar bahasa Yunani, Khalifah lalu mentransfernya ke ibu kota kerajaan Baghdad. Masaweh ditugasi mengepalai terjemah teks-teks Yunani. Mesaweh adalah ayah dari Youhanna. Sedang Youhanna sendiri adalah guru dari Hunain ibn Ishaq.

Ketika masa kekhalifahan Al-Makmun, anak Masaweh juga turut diberdayakan. Maka diangkatlah Youhanna Ibn Masaweh menjadi sekretatis di Baitul Hikmah yang merupakan posisi cukup bergengsi. Berkat penguasan bahasa Yunani-nya yang baik, tugas Youhanna menjamin akurasi terjemah.

Orientalis Santalena (سانتلانا) ketika memberi kuliah umum di Universitas Kairo, Mesir, 1910-1911, menegaskan gerakan terjemah ini melalui tiga fase.

Fase pertama: mulai dari Khalifah Manshur hingga wafatnya Khalifah Harun Al-Rasyid (136-193 H). Fase ini menghasilkan terjemahan karya komentator-komentar Aristoteles dan komentar atas komentar Aristoteles dari penulis-penulis Alexanderia. Kemudian terjemahan karya-karya Plato dan beberapa buku penting tentang kedokteran karangan Jalinus.

Ibn Al-Muqaffa’ tercatat menerjemahkan kitab “Kalîlah wa Damnah” dari bahasa Persia. Pada masa itu juga penerjemah lain telah menerjemahkan buku “Al-Sanad Hindi” dari bahasa India, Kitab logika Aristoteles “Manthiq Aristho” dan kitab “Al-Majisthy” tentang ilmu perbintangan dari bahasa Yunani. Di antara penerjemah pada fase pertama adalah: Georgius ibn Gabriel, Youhanna ibn Masaweh, Ibn Al-Muqaffa’.

Fase kedua: mulai dari Khalifah Al-Makmun hingga meninggalnya Hubays ibn Al-A’sam yaitu murid dan pengikut Hunain ibn Ishaq (198-300 H). Di fase ini aktifitas terjemahan banyak melakukan pengulangan dan mengoreksi kembali atas karya beberapa terjemahan di fase pertama.

Selain itu, di fase kedua ini berhasil menerjemahkan buku-buku penting Yunani dari berbagai disiplin keilmuan. Seperti karya-karya Potlimus, Phytagoras, Hippocratic, Jalinus, Plato, Aristoteles yang kesemunya itu diterjemahkan dibawah bimbingan madrasah pimpinan Hunain ibn Ishaq.

Di antara penerjemah pada fase kedua adalah: Youhanna ibn Petrick yang telah menerjemahkan sejumlah besar kitab-kitab Aristoteles, Al-Hujjaj ibn Yusuf ibn Mathar Al-Warraq Al-Kufi (hidup pada 314 H), Qisthan ibn Lukas Al-Ba’labaki (hidup pada 230 H), Abad Al-Masih Al-Himshy (hidup pada 320 H).

Selain itu tidak ketinggalan Hunain ibn Ishaq Al-Ibady yang mendapat julukan “Syaikh Al-Mutarjim” (gurunya penerjemah), kemudian ada Ishaq yaitu anak dari Hunain (hidup pada 298 H), Tsabit ibn Qurrah (wafat 288 H), Hubaysh ibn Al-A’sam ibn Ukti Hunain (wafat 310 H), dan lain sebagainya. Pada intinya sebagain besar para penerjemah yang bergabung dalam madrasah Hunain adalah penganut Kristen Nestor.

Fase ketiga: mulai dari meninggalnya murid Hunain hingga pertengahan abad ke-4 H atau abad ke-10 M. Fase ini berhasil menerjemahkan sebagian besar karya Aristoteles seperti buku Logika Aristoteles “Manthiq Aristhû”, kitab Fisika “Al-Thabî’ah”. Di antara penerjemah pada fase ketiga adalah: Matius ibn Yunis (hidup pada 320 H), Sinan ibn Tsabit ibn Qurrah (wafat 360 H), Yahya ibn Uday (wafat 364), Ibn Zur’ah (wafat 398 H).

Pada pertengahan abad ke-13 Masehi menjadi akhir kejayaan Baghdad lantaran di abad itu pasukan Mongol menghancurkan kota dan seluruh isinya. Hancurnya Baghdad di tangan Mongol simbol kehancuran peradaban Islam setelah sekian lama bersinar. Bersamaan dengan itu semua buku baik terjemahan maupun karya ilmuan di zaman itu ikut disapuh musnah, ada yang di bakar ada pula yang ditenggelamkan ke laut.

Kehancuran Baghdad patut disayangkan sekaligus disesalkan. Hilangnya khazanah keilmuan di Baghdad menjadi tonggak hilangnya khazanah peradaban intelektual manusia yang sangat berharga.

Tidak disangkah proses panjang perpindahan kekayaan intelektual Yunani mulai dari Athena, Alexanderia, Edesse, Nissibin, Antokya, Jundishapur, hingga ke Baghdad harus berakhir tragis di tangan “dingin” pasukan barbar.***

*Penulis adalah alumnus jurusan Akidah-Filsafat Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

3 responses to “PERPINDAHAN ILMU-ILMU YUNANI KE NEGERI TIMUR

  1. Senang membaca tulisan ini. Boleh saya share di blog saya?

  2. Reblogged this on I love life, life loves me. and commented:
    Saya sudah mendapatkan izin reblog tulisan ini. Senang sekali. Tulisan ini akan saya simpan, insya Allah akan saya jadikan referensi untuk tulisan-tulisan ke depan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s