KAMI MEROBOHKAN SURAU KAMI (AA NAVIS: ROBOHNYA SURAU KAMI)

Oleh: Harsa Permata

A.A Navis adalah seorang sastrawan yang berasal dari Minangkabau (nama lain Sumatera Barat). Karya-karyanya adalah banyak berupa cerita pendek dan novel yang berisikan kritik sosial. Salah satu karyanya yang monumental adalah cerpen yang berjudul “Robohnya Surau Kami”. Kalau dilihat dari judulnya, maka orang akan berpikir bahwa ceritanya berisikan nilai-nilai keagamaan, atau dengan kata lain adalah cerpen relijius.

Akan tetapi setelah membaca cerpen ini maka, pembaca akan menemukan isi sebaliknya. Secara keseluruhan, cerpen ini adalah berisikan kritik terhadap praktek agama di Indonesia. Walaupun terkesan surrealis, karena adanya dialog antara karakter Tuhan, dengan karakter Haji Saleh. Akan tetapi, dialog tersebut juga menyimpan kandungan kritik implisit terhadap realitas praktek keagamaan di Indonesia.

Praktek keagamaan seperti apa yang coba dikritik oleh A.A Navis dalam cerpen “Robohnya Surau Kami?” Jawabannya adalah praktek keagamaan yang membuat orang menjadi malas, dan meninggalkan kehidupan duniawi. Dalam cerita memang dikisahkan tentang seorang pemuka agama, yang meninggalkan keluarganya serta kehidupan duniawinya demi menyembah kepada Tuhan, yang dalam hal ini adalah Allah SWT.

Di sisi lain, kritikan yang merupakan isi cerpen “Robohnya Surau Kami,” ini memiliki kemiripan dengan pandangan  salah seorang filosof yang bernama Karl Marx tentang agama. Menurut Karl Marx, agama adalah tanda keterasingan manusia, dengan agama, manusia mengasingkan diri dari kenyataan yang menindas dirinya. Lebih jauh Karl Marx mengatakan bahwa agama adalah ekspresi ketertindasan manusia.

Kemudian, bagaimana dengan ajaran Islam itu sendiri? Apakah mendukung pengasingan manusia? Apakah ada dalam ajaran Islam bahwa manusia harus meninggalkan kehidupan duniawi? Untuk itu nanti akan ada bagian tentang eksplorasi konsep-konsep inti dalam ajaran Islam yang terkait dengan hubungan individu dengan masyarakat. Fungsi eksplorasi konsep inti ajaran Islam adalah untuk mengetahui secara lebih utuh tentang aspek individu dan sosial agama Islam.

Selain itu, juga akan dibahas tentang sejarah masuknya Islam di ranah Minang, dan bagaimana posisi agama Islam dalam adat Minangkabau. Apakah Islam adalah hal yang utama? Sehingga semua prinsip harus sesuai dengan ajaran Islam, ataukah sebaliknya? Tujuan pengeksplorasian ini adalah untuk memahami adat Minangkabau yang telah membesarkan A.A Navis, dan mempengaruhi pandangannya tentang dunia.

Kajian

 Untuk lebih jelasnya, ada baiknya kalau kita melihat alur cerita cerpen “Robohnya Surau Kami”. Pertama, cerpen ini dimulai dengan penggambaran latar tempat cerpen itu, yaitu sebuah surau yang berada di kampung si penulis, yang berjarak sekitar satu kilometer dari pasar. Ini adalah gambaran budaya Minangkabau bahwa pasar adalah pusat perekonomian, dan oleh karena itu terkadang juga dijadikan patokan menentukana jarak suatu tempat. Selain pasar ada surau, yang merupakan cerminan relijiusitas masyarakat Minangkabau yang mayoritas beragama Islam. Kakek yang menjadi tokoh utama cerpen ini adalah seorang Garin, atau penjaga surau, yang menjalani hidup yang asketis, yaitu bekerja tanpa pamrih, dan tidak mementingkan masalah keduniawian, ini terlihat pada deskripsi pekerjaan si kakek dalam cerita:

“Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum” (AA. Navis, 2007:1-2).

Bagian berikutnya adalah informasi bahwa si kakek ternyata telah meninggal, karena sebuah cerita yang diceritakan oleh Ajo Sidi yang merupakan seorang pencerita, atau meminjam istilah AA Navis, yaitu seorang “pembual”.

Yang menarik kemudian adalah mengapa seorang yang telah menjalani hidup yang asketis yang relijius ini, bisa meninggal hanya karena cerita karangan seorang pembual? Isi cerita Ajo Sidi, sebenarnya adalah sebuah analogi dari karakter si Kakek. Hanya saja dalam cerita itu, karakter yang mirip si Kakek, dinamai dengan nama Haji Saleh. Walaupun beda nama, tetapi tingkah lakunya sama. Si Kakek dan Haji Saleh sama-sama mengesampingkan kehidupan duniawinya untuk beribadah pada Tuhan. Ini bisa dilihat pada kutipan cerita berikut ini, “Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala.” (Navis, 2007). Ini perkataan si Kakek, tentang deskripsi kehidupannya. Sementara untuk Haji Saleh,  kita bisa mencermati dialog antara Haji Saleh dengan Tuhan untuk mengetahui informasi lebih jauh tentang Haji Saleh:

“‘apa kerjamu di dunia?

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’ ‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’” (Navis, 2007:7).

Begitu dialog antara Haji Saleh dan Tuhan, yang mencerminkan deskripsi pekerjaan Haji Saleh di dunia. Bagian berikutnya adalah Tuhan memerintahkan Haji Saleh untuk dilempar ke neraka. Di neraka ternyata Haji Saleh bertemu dengan teman-temannya di dunia yang juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukannya di dunia, yaitu sama-sama taat beribadah pada Tuhan yang mereka yakini. Karena merasa tak terima, maka mereka bersama-sama menghadap Tuhan, untuk protes dan menanyakan alasan mengapa mereka dimasukkan ke neraka.

Ketika bertemu Tuhan, Haji Salehlah yang menjadi juru bicara para pemrotes. Dia menyebutkan bahwa mereka semua adalah umat yang taat beribadah, dan lainnya, untuk lebih lengkapnya, mari kita lihat perkataan Haji Saleh tersebut:

“Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.” (Navis, 2007:10).

Intinya Haji Saleh menuntut agar dia dan teman-temannya dimasukkan ke surga, sebagai balasan dari ketaatan mereka beribadah di dunia. Hanya saja pada bagian cerita berikutnya Tuhan memberikan penjelasan yang sama sekali berbedan dengan keinginan Haji Saleh dan kawan-kawan. Lebih tepatnya penjelasan Tuhan tersebut adalah berupa kritik terhadap metode mereka beribadah kepada Tuhan di dunia. Untuk lebih lengkapnya mari kita lihat argumentasi Tuhan tersebut:

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak.

Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!” (Navis, 2007:11-12).

Argumentasi Tuhan adalah berisikan mengenai pentingnya hubungan antar manusia. Tuhan sebenarnya tidak menginginkan seorang manusia yang hanya mementingkan hubungan manusia dengan Tuhan (HabluminAllah), tetapi melupakan hubungan manusia dengan manusia (Habluminannas). Tuhan mengkritik pola peribadatan mereka yang menyebabkan mereka malas bekerja. Di sini terlihat bahwa Tuhan menginginkan keseimbangan antara ikhtiar (usaha) dan doa, karena Tuhan dalam dialog tadi sebenarnya tidak menginginkan seorang manusia hanya mendedikasikan dirinya untuk menyembah Tuhan, dan melupakan kehidupan duniawi, serta manusia lainnya.

Argumentasi Tuhan ini sebenarnya bukan hanya sebuah kritik terhadap praktek keagamaan Haji Saleh dan kawan-kawan, melainkan terhadap praktek keagamaan masyarakat Indonesia, yang tidak mengerti esensi dari ajaran agama yang mereka yakini. Kalau dilihat realitas Indonesia, kita akan menemukan banyak sekali orang yang pintar mengaji dan rajin sholat, akan tetapi tidak paham isi Al Qur’an dan bacaan sholat yang sering mereka baca tersebut.

Kondisi sesuai dengan pandangan Marx tentang agama, yaitu:

“Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people” (Marx, 1970:3).

1. Kondisi Sosial Budaya yang Melatar Belakangi Pemikiran A.A Navis

A.A Navis dilahirkan dan dibesarkan dalam masyarakat Minangkabau, yang mayoritas beragama Islam. Besarnya pengaruh Islam dalam budaya Minangkabau, terlihat prinsip dasar masyarakat Minangkabau, yaitu, “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah.” Makna dari prinsip ini adalah Islam dan adat Minangkabau adalah dua hal yang terintegrasi. Kitabullah di sini berarti Al Qur’an. Al Qur’an adala berisikan firman Allah SWT, yang dijadikan sebagai prinsip utama ajaran Islam.

Substansi integrasi agama dengan adat ini adalah konsensus orang Minangkabau yang dirumuskan oleh tokoh agama dan adat yang kemudian dikenal dengan nama “Traktat Marapalam”. Konsensus ini adalah energi yang mendorong semangat perubahan orang Minang, yang walaupun berubah, tetap berakar pada budayanya. Oleh karena itu, konsesus ini merupakan jati diri, dan juga adalah falsafah hidup orang Minangkabau (Ramayulis, 2010:127). Semboyan “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah,” ini adalah termasuk ke dalam golongan adat-istiadat, yang merupakan tingkatan keempat dalam adat Minangkabau. Adat-istiadat adalah kesepakatan/konsensus yang dibuat oleh pemuka adat yang merupakan aspirasi dari semua anggota masyarakat, berdasarkan atas prinsip utama yaitu adat nan sabana adat, dan prinsip kepatutan (Ramayulis, 2010:130).

Filosofi adat Minangkabau, sebelum kedatangan Islam, adalah berdasarkan atas ketentuan yang ada dalam alam nyata, yang bagi orang Minangkabau adalah segala-galanya, bukan hanya sebagai tempat lahir, mati, hidup, dan berkembang, akan tetapi juga mempunyai makna filosofis, seperti yang diekspresikan dalam norm mamangannya; alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru). Oleh karena itu, ajaran dan pandangan hidup masyarakat Minangkabau yang tercantum dalam pepatah, petitih, pituah, mamangan, dan lain-lain, memiliki kesesuaian dengan kondisi alamiah (Ramayulis, 2010:129).

Aturan kehidupan yang dibuat berkesesuaian dengan alam nyata adalah, pertama, edudukan orang seorang, kedua, hubungan seseorang dengan masyarakat (orang lain), ketiga, adalah perekonomian masyarakat. Berikutnya, fondasi dasar adat Minangkabau adalah apa yang dinamai sebagai sistem Tungku Tigo Sajarangan,  yang meliputi, pertama,  alua jo patuik, yang berarti, menempatkan sesuatu pada posisinya/tempatnya,  yaitu substansi hukum. Kedua adalah, anggo jo tanggo, yang merupakan pedoman dasar yang intinya adalah sama dengan anggaran dasar/ anggaran rumah tangga pada sebuah lembaga. Ketiga, adalah raso jo pareso, yang merupakan dasar pri kemanusiaan dan pri keadilan, yang juga berfungsi sebagai peraturan perundang-undangan. Tungku Tigo Sajarangan terdiri atas tiga unsur, yaitu, pertama,  alim ulama/pemuka agama, kedua, adalah ninik mamak/pemuka adat, dan ketiga, adalah cadiak pandai (cendekiawan). Intinya fondasi dasar adat Minangkabau ialah: kewajaran, atau menempatkan sesuatu sesuai dengan posisinya, baik itu, hukum keadilan, prikemanusiaan maupun kebenaran (Ramayulis, 2010:130).

Masuk dan berkembangnya ajaran Islam di Minangkabau, menurut para sejarawan, melewati tiga tahap, pertama, adalah lewat  jalur perdagangan. Keterbukaan yang menjadi sifat masyarakat Minangkabau serta adanya komoditas perdagangan yang dibutuhkan, mengundang datangnya pedagang-pedagang asing untuk memasuki dan mengembangkan keyakinannya di Minangkabau. Pada abad ke-7 Masehi, para pedagang yang berasal dari India (Hindia), Persia, Gujarat, Arab, Cina berdatangan ke Minangkabau bagian timur untuk membeli lada. Para pedagang tersebut telah memeluk agama Islam. Selain itu para pedagang telah mendirikan koloni Arab di daerah pantai Barat Sumatera, melalui jalur perairan. Tidak menutup kemungkinan bahwa pada masa itu penyiaran agama Islam secara tidak resmi telah terjadi, baik lewat pergaulan atau lewat perkawinan. Walaupun tidak terencana, penyebaran Islam masa itu berjalan dengan baik. Ajaran Islam mudah berkembang di dalam masyarakat Minangkabau karena kesederhanaan ajarannya, dan mudah dipahami. Juga dalam beberapa hal sejalan dengan kebudayaan dan filosofi adat yang telah berkembang sebelumnya.

Tahap kedua, penyebaran agama Islam pada tahap ini terjadi pada saat Pesisir Barat Minangkabau berada di bawah kekuasaan Aceh.

Masyarakat Aceh, telah lebih dahulu memeluk agama Islam. Pengislaman Minangkabau secara besar-besaran dan terorganisasi berlangsung pada saat ini (Ramayulis, 2010:131).

Tahap ketiga, adalah ketika Islam masuk ke Minangkabau dari daerah pesisir, mendaki dan menyebar ke seluruh Minangkabau. Walaupun di sentral kerajaan Pagaruyung, rajanya masih memeluk Budha, akan tetapi semenjak abad ke-15 Masehi, sebagian masyarakat di wilayah Minangkabau telah beragama Islam. Terutama setelah raja Anggawarman masuk Islam, dan mengganti namanya dengan Sultan Alif, sejak itulah agama Islam resmi masuk Istana Pagaruyung (Ramayulis, 2010:132).

2. Proses Terjadinya Konsensus “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah

Pandangan Filsafat Adat Basandi Syara‟ – Syara‟ Basandi Kitabullah (ABS – SBK), adalah titik klimaks sintesis antara adat Minangkabau yang berasal  dari nenek moyang dan agama Islam yang datang belakangan. Pandangan filsafat adat ini, tidak muncul serta-merta, melainkan melewati waktu yang cukup lama, dalam masa itu terjadi perbenturan/ konflik antara adat dan agama Islam. Ini terjadi karena adat Minangkabau sebelumnya sudah memiliki sistem kehidupan baik secara individu maupun sosial. Selain itu, Islam yang datang belakangan juga membawa sistem kehidupan dalam segala bidang dan menuntut loyalitas dari para pengikutnyaa. Dengan ini maka terjadilah pertemuan dua sistem kehidupan di yang menuntut ketaatan dari para pengikutnya, di Minangkabau. Semenjak itu terjadi fenomena saling tarik-menarik antar adat dan agama. Untuk itu ada beberapa fase yang dilewati demi terciptanya sintesis antara adat dan agama Islam, yakni, pertama, kedua hal, yaitu adat dan syara‟ (Islam), berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling mempengaruhi. Ini tercermin dalam pepatah yang merupakan filsafat adat “Adat Basandi Alur dan Patut – Syara‟ Basandi Dalil (adat berdasarkan aturan dan kepantasan, syara‟ berdasarkan dalil), maksudnya adalah adat berdasarkan kepada jalur dan prinsip kepatutan, serta syara‟ berdasarkan kepada prinsip-prinsip yang terdapat dalam al Qur‟an dan Sunnah Rasulullah.

Fase kedua, keduanya (adat dan Islam) saling menuntut hak tanpa mengganggu posisi yang lain. Ini tercermin dalam filsafat adat, “Adat Basandi Syara‟ – Syara‟ Basandi Adat (ABS – SBA)” (adat berdasarkan pada syara‟ dan syara‟ berdasarkan pada adat). Arti dari pepatah ini adalah bahwa adat dan syara‟ saling membutuhkan dan tidak terpisahkan. Pada fase kedua ini terjadi penyelarasan yang artinya adalah bahwa bangunan lama (adat Minangkabau) tetap dipertahankan dan bangunan baru (ajaran Islam) diterima apa adanya (Ramayulis, 2010:133).

Fase ketiga, adalah fase ketika terjadi kesepakatan antara adat Minangkabau dengan ajaran Islam. Fase ini sebenarnya disebabkan oleh ketidakpuasan para pemuka agama Minangkabau yang belajar ilmu keislaman di Arab Saudi. Tujuan mereka adalah pemurnian Islam tanpa kompromi seperti halnya gerakan Wahabi. Pemuka agama yang berpandangan seperti itu adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Mereka diinspirasi oleh gerakan Wahabi yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab, tokoh pemurnian Islam di Arab Saudi (Ramayulis, 2010:134). Gerakan pemurnian Islam ini dilancarkan oleh suatu kelompok yang dikenal dengan nama, “Kaum Paderi”. Mereka ingin melaksanakan hukum Islam secara murni dalam seluruh bidang kehidupan. Pendapat mereka adalah bahwa adat Minangkabau yang tidak sesuai dengan ajaran Islam adalah sama dengan adat Jahiliyah dan harus dihilangkan. Hal ini kemudian memicu konflik antara kaum paderi dan kaum adat, yang dimanfaatkan oleh pihak Belanda, konflik terbuka antar kaum paderi dan kaum adat ini dinamai sebagai perang paderi. Akan tetapi pasca perang, terjadi kesepakatan antara pemuka adat dan agama ini yang bernama Traktat Marapalam, yaitu “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah,” (Ramayulis, 2010:135-136). Inilah yang sampai sekarang dijadikan prinsip hidup oleh masyarakat Minangkabau.

3. Robohnya Surau Kami, antara Adat-Istiadat, Adat Sabana Adat, Adat Nan Diadatkan, dan Adat Nan Teradat

Adat-istiadat dalam masyarakat Minangkabau, seperti uraian tadi adalah sebuah konsensus antar pemuka adat yang sesuai dengan aspirasi seluruh masyarakat, juga sesuai dengan prinsip adat yang lebih tinggi, serta prinsip kepatutan. Prinsip adat Minangkabau, terbagi atas empat tingkatan, pertama, adalah apa yang disebut sebagai “Adat Sabana Adat,” yaitu hukum alam. Tingkatan kedua, adalah “Adat Nan Diadatkan,” yaitu sistem aturan tingkah laku yang berasal dari nenek moyang, dan diikuti secara turun-temurun. Ketiga adalah “Adat Nan Teradat,” adalah kebiasaan khusus dalam suatu daerah di wilayah Minangkabau. Keempat, adalah “Adat-Istiadat,” yaitu konsensus demokratis antar pemuka adat (Ramayulis, 2010:130-131).

Dalam cerpen robohnya surau kami, digambarkan seorang ulama yang menjalankan ibadah keIslaman dengan tekun, akan tetapi tata peribadatan tersebut, melanggar prinsip kepatutan, karena dengan itu ia membuat anak dan istrinya terlantar. Perbuatan si ulama ini bertentangan dengan dua prinsip adat yang lebih tinggi. Pertama ia melanggar hukum alam, karena untuk hidup seorang harus mencari nafkah lahir. Kedua, ia melanggar sistem aturan tingkah laku, yang tidak mengesampingkan interaksi sosial, sementara dalam cerita ia hanya mengutamakan hubungannya dengan Tuhan, dan mengesampingkan hubungannya dengan manusia lain.

Sindiran yang disampaikan oleh Ajo Sidi dalam bualannya tentang Haji Saleh, sebenarnya adalah berupa ajaran untuk berprilaku yang sesuai dengan prinsip adat Minangkabau lainnya. Hanya saja si Kakek yang bunuh diri di akhir cerita, menganggap semua perbuatan dan ibadahnya sia-sia, karena dalam bualan Ajo Sidi, diceritakan bahwa Haji Saleh yang rajin beribadah malah dimasukkan ke neraka oleh Tuhan. Akan tetapi, di akhir cerita, Ajo Sidi juga melanggar sistem aturan tingkah laku, yaitu dengan langsung bekerja tanpa mempedulikan kematian si Kakek, dan tidak ikut serta bersama keluarga si Kakek serta anggota masyarakat lainnya, mengurus pemakaman si Kakek.

Di sinilah sebenarnya kita bisa melihat sistem adat dan tata aturan prilaku serta pergaulan dalam masyarakat Minangkabau. Seorang pemuka agama, yang melupakan masyarakat sekitarnya, akan mendapat sindiran, dan kritikan baik secara langsung maupun tidaklangsung. Metode Ajo Sidi mengkritik adalah salah satu contoh metode mengkritik dan menyindir orang yang menyimpang dari prinsip adat, dengan cara tidak langsung.

4. Filsafat Materialisme Dialektika Historis Sebagai Dasar Filsafat Marxisme

 Untuk memahami pandangan Marx tentang agama, maka sebaiknya kita melihat terlebih dahulu dasar filsafat Marxisme, yaitu adalah Materialisme Dialektika Historis atau dengan kata lain berdasarkan kenyataan material yang berkembang melalui proses historis. Maka Marxisme melihat bahwa perdamaian akan ada ketika negara lenyap, tahapan ini oleh Marxisme disebut sebagai tahapan masyarakat komunis.

Berbeda dengan filsafat Idealisme Hegel, yang menganggap bahwa kekuatan yang menggerakkan sejarah adalah roh dunia atau akal dunia, Marx melihat bahwa perubahan material itulah yang merubah sejarah. Perubahan material menciptakan hubungan-hubungan rohaniah yang baru. Marx secara khusus menekankan bahwa kekuatan ekonomi dalam masyarakatlah yang menciptakan perubahan dan menggerakkan sejarah yang bergerak maju (Gaarder, 2001:426).

Konsep sejarah Marx (Materialisme Dialektika Historis, sebenarnya berasal dari kritikannya terhadap dialektika Hegel, yang bersifat Idealis. Hegel memahami sejarah sebagai gerak ke arah rasionalitas dan kebebasan. Roh semesta berada di belakang sejarah, ia mendapat objektivitasnya di dalamnya. Hegel bicara tentang roh objektif, roh sebagaimana ia mengungkapkan diri dalam kebudayaan-kebudayaan, dalam moralitas-moralitas bangsa-bangsa, dan institusi-institusi.

Menurut Hegel “semua yang nyata adalah rasional”, dan “semua yang rasional adalah nyata”, tetapi “yang nyata” menurutnya berbeda dengan “yang nyata” menurut pandangan kaum empiris. Menurutnya “fakta” dalam pandangan kaum empiris adalah irrasional. Bagi Hegel Roh menurut Hegel adalah sesuatu yang abadi, homogen, dan tak terbatas, yang merupakan sebuah identitas murni (Russell, 1955:763). Kenyataan menurut Hegel adalah sebuah proses pemikiran atau ide, ia menyamakan istilah ide ini dengan roh (Hardiman, 2004:178-179). Kenyataan dalam filsafat Hegel adalah keseluruhan yang tak terpisahkan, “yang benar adalah keseluruhan” menurut Hegel (Osborne, 2001 : 109).

Bagi Hegel ada tiga tingkatan filsafat roh, pertama adalah roh subyektif, yang merupakan tingkatan terendah. Dalam konsep roh subyektif dibicarakan bahwa individu masih terbungkus oleh alam, tetapi telah berusaha melepaskan diri. Roh dalam tingkatan ini menurut Hegel, telah berpindah dari kondisi “berada di luar dirinya” menuju kondisi “berada bagi dirinya”. Tingkatan berikutnya, roh subyektif yang manifes di dalam diri individu tadi memasuki tingkatan yang lebih tinggi, dan obyektif, yaitu di dalam keluarga, masyarakat, dan negara (Hadiwijono, 1980:103).

Menurut Hegel roh objektif mendapat ungkapan paling kuat dalam negara. Karena negara mempunyai kehendak, ia dapat bertindak. Dengan demikian negara mengungkapkan roh semesta; ia merupakan “perjalanan Allah dalam dunia”. Dalam filsafat sejarah, Hegel menunjukkan bagaimana manusia semakin menyadari kebebasannya dan semakin mengorganisasikan dirinya dengan menjunjung tinggi kebebasannya (Suseno, 2001:59).

Puncak dialektika roh dalam filsafat Hegel adalah roh absolut, “Yang Absolut adalah “Yang Ada”, sementara “Yang Ada” adalah roh (Hardiman, 2004:192). Roh absolut (ide absolut) merupakan sintesis dari roh subyektif (ide subyektif), dan roh obyektif (ide obyektif). Roh absolut menurut Hegel adalah “pure thought”(pikiran murni) yang berpikir tentang dirinya sendiri (Russell, 1955:761).

Sejarah dunia menurut Hegel :

“And since it is Spirit it can only be comprehended spiritually, that is, by thought. It is this alone which takes the lead in all the deeds and tendencies of that people, and which is occupied in realizing itself — in satisfying its ideal and becoming self-conscious — for its great business is selfproduction. But for spirit, the highest attainment is selfknowledge;

an advance not only to the intuition, but to the thought — the clear conception of itself. This it must and is also destined to accomplish; but the accomplishment is at the same time its dissolution, and the rise of another spirit, another world historical people, another epoch of Universal History. This transition and connection lead us to the connection of the whole — the idea of the World’s History as such — which we have now to consider more closely, and of which we have to give a representation.

History in general is therefore the development of Spirit in Time, as Nature is the development of the Idea in Space.” (Hegel, 2001:88).

Sementara materialisme Marx berasal dari kritikannya terhadap materialisme Feuerbach. Inti materialisme Feuerbach adalah kritikannya terhadap Agama. Dasar kritik agama Feuerbach adalah bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan merupakan produk dari imajinasi manusia. Menurut Feuerbach, agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Allah, malaikat, surga, neraka adalah bukan merupakan kenyataan, melainkan hanya merupakan gambar yang dibentuk manusia tentang dirinya sendiri, jadi agama adalah khayalan manusia belaka. Agama bagi Feuerbach tidak lebih dari proyeksi esensi manusia (Suseno, 2001:68). Tuhan adalah pikiran manusia yang pertama dan kemudian dilanjutkan dengan nalar, manusia dan yang terakhir adalah pikiran. Menurut Feuerbach, yang dianggap manusia sebagai tuhan itu adalah esensi dirinya sendiri (Plekhanov, 2002:21-22).

Menurut Marx, sejarah bersifat material, artinya sejarah mengacu pada kondisi-kondisi fundamental eksistensi manusia. Metode materialis Marx inilah yang membedakan pandangannya dari pandangan Hegel. Obyek studinya adalah terhadap kehidupan sosial ekonomi manusia yang nyata dan terhadap pengaruh pandangan hidup manusia yang sebenarnya pada cara berfikir dan merasanya. Berkebalikan dengan filsafat Jerman, yang menurut Marx, turun dari langit ke bumi, filsafat Marx menurutnya, justru naik dari bumi ke langit. Dengan kata lain, Marx tidak berangkat dari apa yang sedang dibayangkan, dipahami manusia sekarang ini, juga bukan dari apa yang telah diceritakan, dipikirkan atau dibayangkan, dipahami manusia pada zaman dahulu, menuju manusia dalam bentuk fisik. Marx berangkat dari manusia yang nyata dan aktif dan berdasarkan proses kehidupannya yang nyata (Fromm, 2001:14).

Tapi Materialisme Marx adalah berbeda dengan Materialisme lainnya, yang punya kecenderungan untuk melihat alam sebagaimana layaknya sebuah mesin atau dengan kata lain men-Tuhankan materi dan tidak melihat materi dalam prosesnya. Marx menentang materialisme mekanis dan borjuis seperti itu (Fromm, 2001:13).

Materi disini adalah mengacu pada kondisi sosial ekonomi manusia, seperti yang dikemukakan Marx:

 “Dalam produksi sosial kehidupan mereka, manusia memenuhi hubungan-hubungan tertentu yang mutlak dan tidak tergantung pada kemauan mereka ; hubungan-hubungan ini sesuai dengan tingkat perkembangan tertentu tenaga-tenaga produktif materialnya. Jumlah seluruh hubungan-hubungan produksi ini merupakan struktur ekonomi masyarakat, dasar nyata dimana diatasnya timbul suatu bangunan atas yuridis dan politis dan dengannya bentuk-bentuk kesadaran sosial, politik dan spiritual pada umumnya. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka tetapi sebaliknya, keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka” (Suseno, 2001:142).

Atau dengan kata lain seperti dikatakan Fromm :

“Marx mendeskripsikan metode historisnya sendiri secara sangat ringkas, “Cara dimana manusia memproduksi alat-alat penghidupannya pertama-tama tergantung pada sifat-sifat dari alat aktual yang ditemukan manusia dalam eksistensinya dan yang harus dibuatnya kembali. Mode produksi ini tidak bisa dianggap begitu saja sebagai reproduksi eksistensi fisik individu-individu ini. Tetapi mode produksi lebih sebagai sebuah bentuk aktivitas individu-individu yang jelas, sebuah mode kehidupan manusia yang pasti” (Fromm, 2001:15).

Jadi materi dalam pandangan Marx adalah bagaimana cara manusia menghasilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Cara produksi terdiri dari hubungan-hubungan produksi (hubungan kerjasama atau pembagian kerja antara manusia yang terlibat proses produksi) dan tenaga-tenaga produktif (Kekuatan-kekuatan yang dipakai oleh masyarakat untuk mengerjakan dan mengubah alam, yang terdiri dari, alat-alat kerja, manusia dengan kecakapan masing-masing dan pengalaman-pengalaman dalam produksi (teknologi) (Suseno, 2001:143).

Menurut seorang Marxis, Mao Tse-Tung, perkembangan atau gerak dari materi adalah bersifat dialektis, yang digambarkannya ke dalam “kontradiksi”. Menurutnya:

“Hukum kontradiksi didalam hal ihwal, yaitu hukum kesatuan dari hal-hal yang berlawanan, merupakan hukum terpokok dari dialektika materialis…Kontradiksi intern selalu ditemukan dalam setiap realitas, karena itulah timbul gerak dan perkembangan realitas. Kontradiksi di dalam realitas inilah yang menjadi sebab fundamental dari perkembangannya, sedangkan kesalinghubungan dan kesalingberpengaruhannya dengan realitas yang lain merupakan sebab sekunder” (Mao, 2001:37-42).

Menurut pandangan dialektika materialis, perubahan-perubahan alam terutama disebabkan oleh perkembangan berbagai kontradiksi internal dalam alam itu sendiri. Perubahan-perubahan masyarakat pun terjadi karena adanya perkembangan kontradiksi-kontradiksi internal dalam masyarakat itu sendiri, yaitu kontradiksi antara tenaga-tenaga produktif dengan hubungan-hubungan produksi, kontradiksi di antara kelas-kelas dan kontradiksi antara yang baru dengan yang lama. Perkembangan kontradiksi-kontradiksi inilah yang mendorong maju masyarakat dan mendorong proses perubahan masyarakat lama menjadi  masyarakat baru (Mao, 2001:44). Untuk ini Engels juga menjelaskan :

“Dialektika, yang disebut dialektika obyektif, berlaku di semesta-alam, dan yang disebut dialektika subyektif, pikiran dialektika, hanyalah pencerminan/pantulan gerak melalui pertentangan-pertentangan yang menyatakan dirinya di mana saja di dalam alam, dan yang lewat konflik terus-menerus dari yang bertentang-tentangan (berlawan-lawanan) dan akhirnya saling-beralih mereka-yang satu menjadi yang lainnya–, atau menjadi bentuk-bentuk yang lebih tinggi, menentukan kehidupan alam” (Engels, 2005:255).

Hukum-hukum dialektika menurut Engels adalah:

“Transformasi kuantitas menjadi kualitas berbeda dengan pandangan dunia mekanika. Perubahan kuantitatif mengubah kualitas. Tuan-tuan terhormat itu tidak pernah menduga hal itu!… Sifat sebenarnya dari determinasi-determinasi hakekat diungkapkan oleh Hegel sendiri: pada hakekatnya segala sesuatu itu relatif (misalnya, positif dan negatif yang bermakna hanya di dalam hubungan mereka, tidak masing-masing berdiri sendiri…identitas mengandung perbedaan dalam dirinya sendiri (A=Non A)…Positif dan negatif itu ekuivalen (setara)…negasi dari negasi, yaitu bahwa yang berkontradiksi-sendiri tidak menyudahi dirinya menjadi ketidadaan abstrak, tetapi pada pokoknya hanyalah menjadi negasi dari isi tertentu/khususnya, dst” (Engels, 2005:255-269).

Jadi inti dari dialektika (terutama dialektika materialis, adalah kontradiksi atau pertentangan, inilah yang kemudian menjadi faktor penyebab munculnya perkembangan (gerak). Tetapi selain bertentangan juga terjadi kesatuan karena kesatuan dan pertentangan adalah hukum dasar alam semesta.

“Hukum kesatuan dari yang bertentangan merupakan hukum dasar alam semesta. Hukum ini berlaku dimana-mana, dalam dunia alam, dalam masyarakat manusia, dan dalam pemikiran manusia. Segi-segi yang bertentangan dalam kontradiksi bersatu maupun berjuang terhadap satu sama lain, dan dengan demikian mendorong semua hal ihwal berbeda dalam alam demikian juga kontradiksi. Dan satu hal dalam gejala tertentu, kesatuan yang bertentangan adalah bersyarat sementara dan dalam keadaan transisi, dan maka itu relatif, sedangkan perjuangan antara segi-segi yang berlawanan adalah mutlak” (Engels dalam Haryadi, 2000:109).

Senada dengan ini Mao juga menambahkan, bahwa gerak dalam realitas objektif dan subjektif manusia  tercipta karena adanya kontradiksi antar unsur yang sayang saling menegasikan dan menyisihkan. (Mao, 2001:95). Kontradiksi dalam dialektika materialis, adalah bersifat umum atau mutlak, artinya  kontradiksi adalah suatu hal yang harus ada untuk adanya sesuatu. Keumuman atau kemutlakan kontradiksi mempunyai arti rangkap. Pertama, ialah bahwa kontradiksi selalu ada di dalam proses perkembangan realitas, kedua, ialah bahwa di dalam proses perkembangan setiap realitas terdapat gerak kontradiksi dari awal sampai akhir (Mao, 2001:49).

Selain bersifat umum (mutlak), kontradiksi juga bersifat khusus (relatif).  Artinya, bentuk atau gerak apapun di dalamnya selalu mengandung kontradiksinya sendiri yang khusus. Kontradiksi khusus ini merupakan hakikat khusus yang membedakan sebuah realitas dari realitas lainnya (Mao, 2001:56).

Hubungan antara keumuman kontradiksi dengan kekhususan kontradiksi adalah hubungan antara watak umum dengan watak individual dari kontradiksi. Yang dimaksudkan dengan watak umum ialah bahwa kontradiksi terdapat dalam setiap proses dan berlangsung dalam setiap proses dari awal sampai akhir, gerak, realitas, proses, pikiran-semuanya adalah kontradiksi. Kontradiksi adalah hal yang pasti ada dalam realitas, menyangkal kontradiksi dalam realitas berarti menyangkal segala sesuatu. Namun watak umum ini terkandung dalam watak setiap individu; tanpa watak individual tidak akan ada watak umum. Semua watak individual itu berada dengan syarat tertentu dan untuk sementara, karena itu ia adalah relatif (Mao, 2001:79).

Selain itu dalam proses perkembangan realitas yang rumit ditemukan banyak kontradiksi dan di antaranya pasti terdapat salah satu yang merupakan kontradiksi pokok (yang keberadaannya dan perkembangannya menentukan atau mempengaruhi keberadaannya dan perkembangannya menentukan atau mempengaruhi keberadaan kontradiksi-kontradiksi yang lain). Misalnya dalam masyarakat kapitalisme kontradiksi pokok adalah antara borjuasi dan proletariat (Mao, 2001:80). Dalam sejarah manusia terdapat pertentangan antara kelas-kelas sebagai manifestasi spesifik dari kontradiksi (Mao, 2001 : 108).

Karl Marx dalam buku Manifes Partai Komunis, juga mengemukakan hal yang sama. Konsep sejarah Marx adalah terlihat dari  paragraf pertama dari buku itu, menurutnya:

“Sejarah dari semua masyarakat yang ada sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak, patrisir dan plebejer, tuan bangsawan dan hamba, tukang ahli dan tukang pembantu, pendeknya : penindas dan yang tertindas senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lain, melakukan perjuangan yang setiap kali berakhir dengan penyusunan kembali masyarakat umumnya atau dengan sama-sama binasanya kelas-kelas yang bermusuhan” (Marx, 1964 : 50).

Karena selalu ada pertentangan dalam masyarakat (dari mulai komune primitif, zaman perbudakan, feodalisme, kapitalisme dan terakhir sosialisme, baru pada masyarakat komunisme ketika negara melenyap, kontradiksi kelas juga melenyap) maka masyarakat akan terus menerus berkembang karenanya. Pergantian dari masyarakat lama ke masyarakat baru selalu berdasarkan revolusi karena kekuatan produktif (manusia dan alat kerja) adalah bersifat revolusioner, sedangkan hubungan produksi berkembang sangat lambat. Kontradiksi antara kekuatan produktif, dan hubungan produktif terjadi karena hubungan produktif sudah tidak lagi mampu merespon kekuatan produktif. Maka meletuslah revolusi. Revolusi yang kemudian melahirkan hubungan produksi baru (Pembebasan, Nomor 17 Maret 2000:5).

Filsafat Marxisme mendasarkan diri pada materi, yang dalam hal ini adalah kondisi sosial dan ekonomi atau untuk lebih spesifiknya disebut corak produksi yang terdiri dari hubungan produktif dan kekuatan produktif. Setiap proses perkembangan sejarah selalu tidak bisa lepas dari “kontradiksi” antara kedua komponen corak produksi ini.

Inilah yang membedakan antara konsep materialisme dialektika historis Marxisme dengan dialektika Hegel atau Materialisme Feuerbach. Kalau menurut Hegel dasar dialektika sejarah adalah ide atau roh mutlak, sementara materialisme Feuerbach, melihat manusia terlepas dari kondisi sosial, Tuhan, dan agama bagi Feuerbach adalah proyeksi individual manusia.

Untuk gerak materi, Marxisme sepakat dengan Hegel, yaitu bersifat dialektis. Inti dari dialektika sendiri adalah kontradiksi. Untuk berkembangnya sesuatu maka kontradiksi adalah mutlak diperlukan, selain itu kontradiksi sesuatu juga bersifat khusus, itulah yang membedakannya dengan yang lainnya.

Sejarah juga bukan hanya sejarah para tokoh tetapi adalah sejarah masyarakat, lebih khususnya adalah sejarah kelas-kelas yang saling berkontradiksi (bertentangan) dan antara hubungan produksi dan kekuatan produktif. Masyarakat manusia adalah sebuah kolaborasi yang berawal secara historis dalam perjuangan untuk keberadaan dirinya dan keberlangsungan generasinya. Karakter sebuah masyarakat ditentukan oleh sistem ekonominya. sistem ekonomi tersebut ditentukan oleh penggunaan buruh produktif oleh masyarakat itu. Setiap rezim sosial hingga sekarang telah mendatangkan keuntungan luar biasa bagi kelas penguasa. Dengan alasan itu, jelas bahwa rezim-rezim sosial tidak abadi. Mereka muncul secara historis, dan lalu menjadi penghambat kemajuan lebih lanjut. “Semua yang muncul patut dihancurkan”. Tetapi tak ada kelas penguasa yang secara sukarela dan damai mau begitu saja turun dari kekuasannya (Trotsky, 2002:214-215) untuk itulah perjuangan kelas tertindas yang terorganisasi adalah jawabannya. Inilah inti dari filsafat Materialisme Dialektika Historis.

5. Pandangan Marx Tentang Agama

 Marx berpandangan bahwa agama adalah bagian dari bangunan atas dalam lingkungan sosial manusia. Agama termasuk ke dalam tatanan kesadaran kolektif, tatanan ini terdiri atas semua sistem kepercayaan, berbagai norma dan nilai yang mengarahkan orientasi spiritual manusia. Di dalamnya terdapat agama, filsafat, sistem moral, nilai-nilai budaya, seni, dan lainnya (Suseno, 2001:145). Bangunan atas ini ditentukan oleh basis, atau sistem ekonomi yang menentukan struktur kelas dalam masyarakat. Bangunan atas ini berubah, jika sistem ekonomi berubah (Suseno, 2001:147-148).

Lebih khususnya, pandangan Marx tentang agama, dipengaruhi oleh pandangan Feuerbach tentang agama. Selaras dengan Feuerbach, Marx juga berpendapat bahwa agama adalah ciptaan manusia. Agama adalah manifestasi hakikat manusia dalam impian belaka, ini adalah tanda bahwa manusia masih belum mewujudkan hakikatnya. Agama bagi Marx adalah tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri (Suseno, 2001:72). Manusia hanya bisa mewujudkan diri dalam imajinasi agama, karena struktur sosial yang nyata, tidak memperbolehkan manusia merealisasikan dirinya. Dunia mengasingkan manusia dari dirinya sendiri, hal-hal yang indah seperti surga, dan lain-lain hanyalah angan-angan belaka, karena dalam kehidupan nyata manusia hidup menderita. Menurut Marx, agama hanyalah tanda bahwa manusia terasing, dan bukan dasar keterasingan itu sendiri. Agama hanyalah sebuah pelarian manusia dari kenyataan, karena manusia terpaksa lari dari kenyataan (Suseno, 2001:73). Oleh karena itu, menurut Marx, adalah percuma jika kritik hanya diarahkan kepada agama, akan tetapi yang harus dikritik adalah masyarakat yang menciptakan keterasingan manusia itu (Suseno, 2001:74).

Inilah pandangan Marx tentang agama, yang merupakan sebuah kritik terhadap masyarakat yang menciptakan agama. Dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” digambarkan bagaimana seorang ulama ternyata terasing dari lingkungan sosialnya. Ia hanya beribadah kepada Tuhan, dan tidak melakukan hal lain selain itu. Bagi Marx, tindakan si ulama ini adalah salah satu usaha untuk melarikan diri dari kenyataan. Realitas yang oleh karakter Tuhan dalam cerita digambarkan sebagai “kemelaratan karena harta bendanya diambil orang lain,” ini artinya adalah bahwa telah terjadi pemelaratan karena perampasan harta. Indonesia pada umumnya, dan Minangkabau khususnya adalah wilayah jajahan belanda selama tiga setengah abad. Dalam rentang penjajahan yang panjang tersebut, banyak kekayaan alam manusia yang dirampas oleh penjajah asing.

Haji Saleh dan Kakek adalah bagian dari masyarakat yang berada di bawah penjajahan imperialism, yang dalam hal ini adalah kolonialisme Belanda. Realitas ketertindasan ini yang mungkin membuat kedua pemuka agama itu melarikan diri dari kenyataan, dan menjalani kehidupan asketis.

Hanya perbedaan antara Haji Saleh dan Kakek, adalah kalau Haji Saleh bisa berdialog dengan Tuhan yang kemudian mengkritik gaya hidup Haji Saleh, yang hanya dihiasi oleh pemujaan terhadap Tuhan belaka. Padahal Tuhan dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” menginginkan agar manusia bekerja jika miskin, untuk memenuhi kebutuhannya, dan bukan bermalas-malasan.

Fenomena pemujaan terhadap sosok yang bernama Tuhan ini, biasanya memang terjadi secara berlebihan di negara-negara dunia ketiga yang secara ekonomi politik masih berada di bawah jajahan imperialisme (kapitalisme asing yang buruk rupa). Indonesia adalah salah satu negara dunia ketiga yang mengalami penjajahan paling lama, yaitu selama tiga ratus lima puluh tahun dijajah kolonial Belanda, tiga setengah tahun oleh Jepang, dan dari mulai jatuhnya pemerintahan Soekarno, dijajah secara ekonomi oleh Amerika Serikat sampai sekarang, pendirian Freeport adalah salah satu bentuk perampasan kekayaan alam itu, yang merupakan manifestasi penjajahan secara ekonomi.

6. Aspek Sosial Agama Islam

Agama Islam adalah agama yang bersifat sosial. Dari beberapa konsep dasar dalam agama Islam, seperti rukun Islam, yang merupakan 5 kewajiban utama yang harus dijalankan sebagai seorang muslim, maka kita bisa lihat tingginya makna sosialitas di sana. Memang dalam ajaran tasawuf Islam ada konsep zuhud, yaitu sebuah usaha dari seorang manusia untuk  menghilangkan pembatas antara dirinya dan Tuhannya, pembatas itu adalah dunia dan materi. Zuhud secara etimologis berasal dari kata bahasa Arab, zahada, yang berarti meninggalkan. Secara terminologis, zuhud memiliki dua arti, pertama, adalah sebagai bagian dari ajaran tasawuf, dalam pengertian ini maka zuhud adalah jalan menuju pertemuan manusia dengan Tuhan, untuk itu maka seorang manusia harus menghindari nafsu keduniawian (Gobel, 2008:2).

Pengertian kedua, adalah zuhud sebagai gerakan moral Islam. Di sini zuhud bermakna sebagai sebuah sikap menghadapi kehidupan dunia. Kehidupan dunia, dalam pengertian kedua ini, dipandang sebagai ibadah untuk mendapat ridha Allah SWT. Orang yang mempraktekkan prilaku zuhud, tetap bekerja dan berkarya di dunia, akan tetapi kehidupan dunia tidak membuat seseorang yang berprilaku zuhud, berpaling dari Tuhan (Gobel, 2008:3).

Seorang ulama yang legendaris, yang bernama Buya Hamka mengatakan bahwa, zuhud adalah suatu sikap jiwa untuk menciptakan keseimbangan antara unsur materi dan non materi. Selain itu dengan mempraktekkan zuhud, maka manusia harus aktif di dunia. Ini selaras dengan pandangan Iqbal, bahwa manusia adalah teman sekerja Allah, dan oleh karena itu harus aktif membangun dunia, yang merupakan ciptaan Allah SWT yang belum selesai, dan tugas manusia yang harus menyelesaikannya (Hamka dan Iqbal dalam Gobel, 2008:4).

Untuk kasus Haji Saleh dan Kakek, mereka sebenarnya melakukan zuhud dalam arti yang pertama. Akan tetapi, mereka tidak paham kalau zuhud yang pertama memiliki kekurangan, dan agak sedikit menyimpang dari ajaran agama Islam.

Di mana letak penyimpangannya, pertama, adalah pada terasingnya kedua ulama dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” tersebut dari masyarakat. Padahal dalam Islam, ada ajaran mengenai keutamaan sholat berjama’ah, yang merupakan ajaran tentang pentingnya interaksi antar manusia. Dalam Islam, pahala sholat berjama’ah jauh lebih besar dari sholat sendiri (munfarid). Selain itu juga ada himbauan untuk menjaga tali silaturahmi. Tali silaturahmi ini adalah hubungan antar manusia, atau interaksi sosial. Islam memberikan nilai yang lebih pada orang yang tetap menjaga tali silaturahmi.

Silaturahmi adalah bagian dari akhlak yang mulia atau akhlaqul karimah. Perbuatan ini adalah hal yang diutamakan dalam ajaran Islam, selain itu juga ada peringatan berupa laknat dan azab yang akan diterima jika memutuskan tali silaturahmi. Hal ini bisa kita lihat dalam firman Allah di Al Qur’an, Surat Muhammad, ayat 22-23 yang berbunyi:

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi & memutuskan hubungan kekeluargaan . Mereka itulah orang-orang yg dila’nati Allah & ditulikan-Nya telinga mereka & dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (http://www.rahasiasunnah.com, download 6/6/2012, pukul 14:40 WIB).

Jadi sudah jelaslah kiranya bahwa interaksi sosial adalah hal yang utama dalam ajaran Islam. Barang siapa yang memutuskan silaturahmi maka Allah SWT akan memberikan azab yang pedih. Perbuatan Haji Saleh dan si Kakek dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” Adalah salah satu contoh manusia yang memutuskan tali silaturahmi, dengan menelantarkan anak dan istrinya.

Ajaran Islam tentang keutamaan interaksi sosial juga terdapat dalam firman Allah SWT, pada surat Al Hujurat, ayat 13, yang berbunyi:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Dikutip dari Ibrahim, 2008:61).

Makna ayat ini, selain penghargaan terhadap pluralitas, adalah pentingnya sesame manusia untuk saling mengenal dan berinteraksi. Perbedaan bukan berarti menegasikan hubungan sosial, akan tetapi perbedaan adalah alasan untuk mempererat tali persaudaraan sesama manusia.

Selain itu dengan menelantarkan keluarganya, maka kedua pemuka agama dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” juga telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Agama Islam adalah agama yang mengutamakan keluarga, seperti yang dikatakan oleh I.A. Ibrahim:

“Islam mendukung perilaku yang tidak mementingkan diri sendiri, kedermawanan, dan cinta kasih dalam kerangka sistem kekeluargaan yang tertata secara baik. Rasa damai dan aman yang diberikan oleh keluarga yang kokoh sangat bernilai, dan merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan spiritual anggota keluarga. Tatanan sosial yang harmonis di dalam keluarga tercipta oleh adanya keluarga besar dan dengan menganggap anak-anak sebagai sesuatu yang berharga,” (Ibrahim, 2008:64).

Karena itu maka tindakan kedua pemuka agama dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” adalah bertentangan dengan nilai-nilai sosial dan keluarga dalam agama Islam. Tindakan mereka berdua adalah cerminan dari individualitas yang egois, yang berlawanan dengan ajaran Islam. Karena itulah mungkin dalam cerita tersebut A.A Navis menggambarkan bahwa mereka dimasukkan ke neraka oleh Allah SWT.

Penutup

“Robohnya Surau Kami” sebenarnya adalah sebuah kritik sosial terhadap realitas masyarakat Indonesia, yang memiliki kultur religius, akan tetapi membiarkan dirinya tenggelam dalam penindasan imperialisme, dan kemalasan.

Yang menyampaikan kritik atau sang penulisnya, adalah kebetulan seorang Minang, yang tidak mengenal perantauan secara fisik. A.A Navis, sampai akhir hayatnya memang tidak keluar dari ranah Minang tempat dia lahir, akan tetapi pemikirannya lewat karya-karyanya bisa melanglang buana, mengetuk, menyindir, dan memberi pelajaran hidup bagi semua orang.

Isi cerita cerpen “Robohnya Surau Kami,” sangat dipengaruhi oleh adat Minangkabau yang mayoritas beragama Islam. Walaupun pepaduan Islam dan adat Minang adalah konsensus yang merupakan Adat-Istiadat, yang levelnya berada di bawah prinsip adat yang utama yaitu, Adat Nan Sabana Adat.

Mengapa begitu? Karena akhirat yang digambarkan adalah akhirat yang Islami. Dan Tuhan yang digambarkan adalah Tuhan seperti konsepsi agama Islam tentang Tuhan. Akhirat adalah akhirat seperti pandangan Islam tentang akhirat, yaitu adanya sebuah pengadilan yang menentukan seseorang masuk surga atau neraka. Tuhan yang digambarkan juga menginginkan manusia untuk beramal atau berikhtiar seperti pandangan Islam, bahwa amalnya di muka bumi yang menjadi teman manusia nantinya di alam barzah (alam yang harus dilalui manusia sebelum menuju akhirat). Akan tetapi terkait bagian cerita ketika Haji Saleh dimasukkan ke neraka karena rajin beribadah, ini adalah pengaruh dari budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi hukum alam.

Integrasi antara agama Islam dan budaya Minang adalah konsensus yang harus dilakukan oleh pemuka adat dan agama untuk bersatu melawan kolonial Belanda. Maka dari itu, sistem matriakat masih dipertahankan, atau garis keturunan adalah lewat ibu, oleh karena itu nama marga atau suku seorang anak juga berdasarkan nama suku/marga ibunya. Selain itu, hal ini juga menentukan besarnya warisan antara laki-laki dan perempuan. Kalau dalam agama Islam, mungkin laki-laki mendapat bagian dalam warisan keluarga, yaitu sekitar kurang lebih sepertiga dari keseluruhan harta. Sementara dalam budaya Minang, harta warisan milik adat, yang turun-temurun tidak boleh diturunkan ke laki-laki, kecuali harta yang dicari sendiri oleh satu keluarga.

Karena integrasi antara agama Islam dan budaya Minang adalah hasil konsensus, maka dari itu ketika seorang pemuka agama mengasingkan diri dari masyarakat, dan meninggalkan kehidupan duniawi, maka ini berarti bahwa ia menentang hukum alam seperti yang dilakukan oleh Haji Saleh dan Kakek, ini artinya mereka juga menentang prinsip utama dalam adat Minang, yaitu Alam Takambang Jadi Guru, atau manusia hidup berdasarkan hukum alam, dan alam adalah tempat belajar manusia, ini juga dinamakan sebagai Adat Nan Sabana Adat.

Ajaran agama Islam sendiri sebenarnya di dalamnya juga terdapat konsep zuhud, yang memiliki dua makna, yaitu, pertama, adalah suatu usaha seorang manusia, untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, dengan cara meninggalkan kehidupan duniawi. Yang kedua adalah sebagai suatu protes terhadap kehidupan duniawi, akan tetapi manusia tidak meninggalkan kehidupan dunia dan tetap berkarya di dunia. Karena kehidupan duniawi adalah ibadah, dan tidak membuat manusia meninggalkan Tuhan.

Dan, entah karena adat atau karena hal lain, seorang ulama legendaris yang berasal dari Minangkabau, yang bernama Buya Hamka, lebih setuju dengan makna zuhud yang kedua.

Isi cerita cerpen “Robohnya Surau Kami,” ini selain berlatar budaya minang, juga adalah berlatar pada kondisi sosial politik zaman Orde Lama, yang banyak friksi politik. Kata-kata Tuhan bahwa “Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras,” ini adalah cerminan dari tingginya konflik politik pada zaman Orde Lama. Konflik inilah yang kemudian dijadikan oleh imperialis sebagai alat untuk menjatuhkan pemerintahan Soekarno yang anti imperialis, dengan cara menyokong salah satu pihak yang berkonflik.

Selain itu, isi cerita yang lain, tentang orang yang meninggalkan kehidupan duniawi demi Tuhan dan agama, untuk melarikan diri dari realitas yang menindas, dan menyengsarakan adalah sesuai dengan kondisi Indonesia zaman sekarang. Indonesia zaman sekarang adalah Indonesia yang terjebak dalam arus neoliberalisme, pemerintah yang berkuasa, hanya bisa mengikuti resep-resep ekonomi imperialis neoliberal. Akibatnya mayoritas rakyat masih hidup di bawah garis kemiskinan. Resep-resep inilah yang menimbulkan krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan dari semenjak tahun 1997. Imperialis neoliberal ini juga dinamai sebagai globalisasi.

Ekonom UGM, Revrisond Baswir menganggap, globalisasi sebagai sebuah proses sistematis untuk merombak struktur perekonomian negara-negara miskin, terutama berupa pengerdilan peran negara dan peningkatan peranan pasar, sehingga memudahkan pengintegrasian perekonomian negara miskin itu ke dalam genggaman para pemodal negara-negara kaya (Baswir, 08/12/03).

Lebih lanjut Revrisond menjelaskan mekanisme pemiskinan oleh globalisasi yang diistilahkannya sebagai imperialisme:

“Terbangunnya suatu pola hubungan antar negara yang bersifat hegemonik, yaitu dari negara-negara kaya terhadap negara-negara miskin dan menengah sulit dielakkan. Lebih-lebih negara kaya berada pada posisi memberi utang, sedangkan negara-negara miskin dan menengah berada pada posisi menerima utang. Berangkat dari pola hubungan yang tidak seimbang tersebuit, bergesernya utang luar negeri dari sekedar instrumen kelas yang berkuasa untuk menguras rakyat banyak, menjadi instrumen penaklukkan bangsa (imperialisme), menjadi sulit dihindarkan” (Baswir, 2001:12).

Mekanisme pemiskinan neoliberalisme, salah satunya adalah dengan utang atau pinjaman yang diberikan oleh negara-negara kaya terhadap negara miskin, dengan tujuan untuk menyehatkan perekonomian untuk sementara. Tetapi akibatnya, negara miskin menanggung utang yang tak terbayarkan. Menurut Revrisond Baswir, yang paling celaka tentu nasib Indonesia. Selain masuk dalam kelompok negara-negara miskin yang terjebak utang, terhitung sejak mengalami krisis moneter pada tahun 1997, Indonesia kini praktis berada dibawah penaklukkan negara-negara kaya melalui tangan IMF (Baswir, 2001:12).

Memang di sini, disebutkan bahwa yang paling celaka adalah Indonesia, tetapi ini dilihat dari segi besarnya jumlah utang, disini Indonesia merupakan negara yang terjebak utang terbesar, yaitu sekitar 69,8 juta US Dollar pada tahun 1990 dan 750 Juta US Dollar pada tahun 1998 (World Development Report 2000/2001 dalam Baswir, 2001:2). Selain itu “celaka”nya Indonesia juga dilihat dari besarnya kekuasaan negara-negara kaya/kapitalisme internasional (lewat agennya IMF) di Indonesia. Walaupun masih ada Brazil yang pernah terjebak utang sangat besar pada tahun 1998, yaitu sebesar 232 juta US Dollar, tetapi ini diimbangi oleh tingginya tingkat Produk Domestik Bruto/PDB (produksi dalam negeri) Brazil yaitu sebesar 120 milyar US Dollar (Baswir, 2001:1).

Mengenai sistem perdagangan bebas, yang sekarang menjadi salah satu ciri neoliberalisme, Marx sendiri menjelaskannya sebagai:

“freedom capital. When you have overthrown the few national barrier which still restrict the progress of capital, you will merely have given it complete freedom of action. So long as you let the relation of wage labour to capital exist, it does not matter how favourable the conditions under which the exchange of commodities takes place, there will always be a class which will exploit and the class which will be exploited…Gentlemen! Do not allow yourselves to be deluded by the abstract word freedom. Whose freedom? It is not the freedom of one individual in relation to another, but the freedom of capital to crush the worker” (Marx, 1892:213).

“Kebebasan modal. Ketika kamu telah membuang rintangan kebangsaan yang menghambat kemajuan modal, kamu hanya diberikan tindakan bebas yang komplit. Selama kamu membiarkan hubungan antara upah buruh dengan modal ada, tidak persoalan bagaimana menyenangkannya keadaan dalam mana pertukaran barang mengambil tempat, akan selalu ada kelas yang menindas dan kelas yang tertindas…Tuan-tuan! Jangan biarkan dirimu tertipu dengan kata abstrak kebebasan. Kebebasan siapa? Jelas bukan kebebasan hubungan antara satu individu dengan lainnya, tetapi adalah kebebasan modal untuk menghancurkan buruh”.

Pemikir Marxisme abad ke-21, Fidel Castro melihat bahwa peran neo-liberalisme dalam kemiskinan yang terjadi di negara berkembang cukup besar. Globalisasi di istilahkan Castro sebagai, “perluasan kemiskinan secara global”. neoliberalisme seperti diuraikan Castro adalah:

“Suatu realitas obyektif yang bisa lebih memperjelas fakta bahwa kita sebenarnya merupakan penumpang dalam satu kapal yang sama, yakni, bumi tempat kita hidup. Tapi, para penumpang kapal tersebut mengadakan perjalanannya dengan kondisi-kondisi yang sangat berbeda. Minoritas-kecil mengadakan perjalanan di kabin yang sangat mewah, dilengkapi fasilitas internet, telepon selular, dan memiliki akses ke jaringan-jaringan komunikasi global. Mereka bisa menikmati makanan yang bergizi, sehat, dan berlimpah, serta bisa mendapatkan pasokan air bersih. Mereka memperoleh pelayanan atau perawatan kesehatan yang canggih dan bisa menikmati kebudayaan. Sementara, mayoritas-berlimpah yang sengsara mengadakan perjalanan dalam kondisi seperti pada zaman perdagangan budak (yang mengenaskan) dari Afrika ke Amerika di zaman kolonial pada masa yang lalu. Sebagian besar penumpang kapal tersebut, yakni sekitar 85 %, berada dalam kabin yang penuh sesak dan kotor, kelaparan, penyakitan dan tak ada yang menolong” (Castro, 2000:130).

Di bawah kebijakan neoliberalisme, ekonomi dunia ternyata tidak mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, tetapi sebaliknya menjadi lebih sering tidak stabil, lebih banyak spekulasi, peningkatan hutang luar negeri dan pertukaran / perdagangan yang tak setara. Demikian juga, terdapat kecenderungan lebih besar semakin seringnya terjadi krisis keuangan, sementara kemiskinan, ketidakadilan dan kesenjangan antara negeri-negeri utara (yang makmur) dengan negeri-negeri selatan (yang dimiskinkan) malah semakin melebar (Castro, 2000:133).

Data tentang globalisasi dari Bank Dunia menyebutkan, bahwa globalisasi kian memperbesar kemiskinan dan ketimpangan. Biaya-biaya untuk penyesuaian demi keterbukaan yang lebih besar ditanggung sepenuhnya oleh kaum miskin, berapa pun lamanya waktu penyesuaian itu berlangsung (Bank Dunia, 1999, dalam International Forum on Globalization, 2003:26).

Sebuah laporan PBB (UNDP 1999) menemukan bukti bahwa ketimpangan antara orang kaya dan miskin di dalam negara maupun antar negara dengan cepat meluas. Adalah sistem perdagangan dan sistem keuangan global yang menjadi salah satu penyebab utamanya. Bahkan CIA (dinas intelijen Amerika Serikat) menegaskan kesimpulan laporan PBB tersebut, globalisasi nyata-nyata telah menciptakan ketimpangan yang teramat besar. Manfaat globalisasi tidak menyentuh kalangan kaum miskin, demikian ungkap CIA. Dan proses itu secara tak terelakkan telah menimbulkan protes dan kekacauan (chaos) global yang semakin besar (Mander, dkk, dalam International Forum on Globalization, 2003:4-5).

Hal inilah yang kemudian menyebabkan (selain maraknya aksi kekerasan atas nama agama) maraknya majelis-majelis dzikir di Indonesia, yang isi kegiatannya adalah berupa puja-puji terhadap Tuhan, bahkan dengan dzikir tersebut diharapkan bisa mengentaskan semua problem ekonomi dan politik di Indonesia. Tidak jarang para politisi juga ikut di sana untuk menggalang dukungan bagi dirinya sendiri. Kondisi praktek agama yang seperti inilah yang dikatakan Marx, sebagai “Opium of the People,” atau candu rakyat.

Oleh karena itulah, maka isi cerita cerpen “Robohnya Surau Kami,” masih relevan untuk melihat konteks kekinian Indonesia zaman sekarang. Konflik antar agama, menguatnya Islam fundamentalis yang mengedepankan kekerasan dalam setiap aksi-aksinya, melambungnya harga-harga, akibat pencabutan subsidi-subsidi rakyat (BBM, TDL,dan lainnya), menjamurnya korupsi, delegitimasi penguasa dan kekuasaan, dan lain-lain, ini hanya sebagian dari sekian banyak problem-problem Indonesia zaman sekarang. Rakyat Indonesia zaman sekarang adalah rakyat yang mengalami ini semua. Akan tetapi, karena tidak adanya solusi yang bisa mengentaskan semua permasalahan ini, maka rakyat Indonesia memilih untuk melarikan diri dari kenyataan dengan mengikuti aktivitas kelompok-kelompok keagamaan yang menyibukkan diri dengan pemujaan terhadap Tuhan. Hal inilah yang dengan jeli dideskripsikan oleh A.A. Navis dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” walaupun ini ditulis pada zaman Orde Lama, atau tepatnya tahun 1955, isi cerita tersebut masih relevan untuk Indonesia masa kini. Kalau dulu pada era Orde Lama, konflik antar kelompok masyarakat adalah dikarenakan sistem demokrasi liberal yang diterapkan di Indonesia, sebelum dikeluarkannya dekrit presiden pada tahun 1959, yang mengganti sistem demokrasi liberal menjadi demokrasi terpimpin. Pada zaman sekarang, pasca jatuhnya rezim Orde Baru, demokrasi liberal kembali menemukan tempatnya di Indonesia. Konflik sosial, politik, dan agama, adalah hal-hal yang menjadi tontonan masyarakat Indonesia sehari-hari. Bedanya, jika ada Orde Lama, seorang figur pemersatu seperti Soekarno, masih ada. Pada zaman sekarang, figur seperti ini belum muncul lagi.

Selain berupa kritik terhadap praktek agama di Indonesia, cerpen “Robohnya Surau Kami,” ini juga adalah sebuah dekonstruksi dari konsep agama dan Tuhan yang selama ini dipahami oleh orang-orang. Adanya penolakan Tuhan atas pemujaan terhadap Tuhan belaka, dan mengesampingkan kehidupan duniawi, adalah dekonstruksi dari pandangan agama sebagai candu, yang dikemukakan oleh Karl Marx.

Tuhan dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” adalah Tuhan yang menginginkan manusia untuk menjalani hidup dan berkarya di dunia, serta meninggalkan semua kemalasan yang membuat manusia menjadi produktif. Ini berbeda dengan pandangan Marx, tentang agama yang menganggap bahwa agama hanya usaha manusia untuk melarikan diri dari kenyataan. Tuhan dalam cerpen “Robohnya Surau Kami,” menginginkan manusia untuk beramal, yang berarti adalah untuk kembali pada esensi manusia yang sejati, seperti yang dikemukakan oleh Karl Marx, yaitu Homo Faber, atau manusia adalah makhluk yang bekerja, kerja adalah hakikat manusia.

Di sinilah terlihat pengaruh pandangan hidup Minangkabau yang realis pragmatis. Walaupun sudah terjadi konsensus “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah,” akan tetapi pandangan hidup yang utama tidak dengan demikian ditinggalkan. Pandangan filsafat bahwa manusia harus belajar dari alam, atau “Alam Takambang Jadi Guru,” tetap dianut oleh masyarakat Minangkabau, karena prinsip tersebut adalah prinsip utama.

Cerpen “Robohnya Surau Kami,” adalah salah satu bentuk kearifan lokal dari ranah Minang, yang menawarkan pandangan alternatif tentang Tuhan dan agama. Selain sebagai sebuah kritik, cerita ini sebenarnya ingin berkata bahwa, agama bukanlah sesuatu yang membuat manusia terasing dari hidup dan hakikatnya yang sejati. Tuhan dalam cerita ini tidak menginginkan manusia mengasingkan dirinya dari hakikatnya. Selain itu, cerita ini juga ingin mengatakan bahwa jika seorang manusia ingin berubah, maka yang harus mengubahnya adalah manusia itu sendiri, dan pembebasan rakyat dari perampasan penjajah asing hanya bisa dilakukan jika konflik internal bangsa dikesampingkan untuk bersama-sama bersatu membebaskan diri dari imperialisme, seperti yang dilakukan oleh pemuka adat dan agama Minangkabau yang menghasilkan traktat Marapalam, “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.”*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s