STUDIUM DAN PUNCTUM FOTOGRAFI THE DECISIVE MOMENT CARTIER-BRESSON

Oleh: Haviez Maulana*

Membaca foto merupakan perjalanan dari studium ke punctum, dari kesatuan medan kultural yang ditembus masuk secara personal melalui pengalaman estetis seorang spectator. Studium dan punctum merupakan dualitas kategorisasi sikap kritis dalam pembacaan foto yang tidak dapat terlepaskan. Pada tahap studium sejajar dengan tahap perseptif atau ketika seseorang mencoba melakukan transformasi gambar ke kategori verbal, sedangkan pada tahap punctum adalah saat seseorang menggunakan bahasanya sendiri ketika berhenti pada satu titik yang mengesankannya. Dapat juga dikatakan, saat studium adalah saat seseorang (spectator) mencocokan kode yang ada dalam dirinya dengan kode yang ada dalam foto, sedangkan saat punctum adalah saat seseorang (spectator) menggunakan bahasanya sendiri sejauh itu membantu mengembangkan subjektivitasnya.

Konsep fotografi Henri Cartier-Bresson adalah The Decisive Moment yang menekankan aspek ketepatan dalam mengambil suatu peristiwa yang akan diputuskan untuk dibekukan menggunakan kamera atau ketepatan seorang fotografer dalam memotret suatu momen yang berlangsung cepat, yang mungkin tidak akan terulang. Foto-foto yang terdapat dalam buku The Decisive Moment merupakan suatu bentuk aplikasi dari konsep The Decisive Moment yang merupakan konsep fotografi Henri Cartier-Bresson. Melalui studium dan punctum dapat dilihat bagaimana bentuk realisme fotografis dari masing-masing realitas yang dihasilkan antara studium dan punctum yang dikonfrontasikan diperoleh sebuah kepastian dari pesan yang ditampilkan dalam foto tersebut, tanpa harus bersikap terhadap mass image.

Gambar 1

Gestapo. Dessau. Germany. 1945

Sebuah kamp persinggahan yang terletak di Jerman pada zona antara kekuasan Amerika dan Soviet yang digunakan untuk pengungsi, tahanan politik, tawanan perang, buruh paksa dan orang yang kehilangan status, ketika saat kembali dari garis depan Jerman Timur yang telah dibebaskan oleh tentara Soviet. Seorang wanita Belgia muda dan mantan informan Gestapo Nazi yang sedang diidentifikasi/diintrograsi karena terungkap penyamarannya ketika berada di dalam kerumunan orang pada sekitar bulan April 1945.

Gambar  2

Last Days of the Kuomintang. Shanghai. China. 1948

Kuomintang memutuskan untuk membagikan 40 gram emas per orang, pada Desember 1948 sampai Januari 1949 ketika nilai mata uang kertas merosot tajam, pada bulan Desember, ribuan penduduk Shanghai yang keluar dan menunggu berbaris selama berjam-jam berusaha untuk mendapatkan emas dari sebuah bank pada hari-hari sebelum pasukan Komunis tiba di kota itu. Polisi, yang dilengkapi dengan peninggalan tentara dari Konsesi Internasional, hanya melakukan tindakan yang mengarah pada menjaga ketertiban. Sepuluh orang terinjak-injak sampai mati.

 

Gambar 3

Independence. Djakarta. Indonesia. 1949

Pada tanggal 30 Desember 1949, Sehari sebelum Kemerdekaan, tiga ratus potret Gubernur Jendral  Belanda selama 300 tahun masa penjajahan sedang dipindahkan dari kediaman Gubernur Belanda (kemudian dikenal sebagai Istana Merdeka atau Istana Kebebasan).


Gambar 4

A beach on the oilfields. Los Angeles. 1947.

Gambar 5

Solitude Downtown. New York. 1947

Foto pertama sampai ketiga memiliki pesan mengenai revolusi yang terjadi di beberapa wilayah belahan dunia. Sedangkan pada foto keempat dan kelima, pesan yang diperoleh dari foto tersebut adalah ketumpang-tindihan atau jukstaposisi dari beberapa unsur yang dihadirkan dalam satu frame foto namun merujuk pada peradaban manusia. Selain itu dapat diketahui dalam foto-foto yang memiliki kepentingan untuk industri media pemberitaan pada foto pertama sampai foto ketiga, kode-kode dalam fotonya terlihat frontal jelas, sehingga gejala traumatik dapat diatasi dengan melakukan analisis semiotik-struktural—to reconstitute the functioning of system of signification. Sedangkan pada foto keempat dan kelima beberapa mengalami kesulitan ketika belum dapat menstrukturisasi gambar sesuai dengan seorang anggota masyarakat dengan common sense-nya, spectator mengalami trauma fotografis sebagai kemiskinan kode, sehingga spectator harus menciptakan kode atau menggunakan bahasanya sendiri.

Fotografi adalah proses yang dihidupkan oleh waktu. Tindakan memotret merupakan suatu tindakan mengabadikan, bukan dalam arti bahwa waktu terbekukan dalam foto, melainkan waktu akan menghidupkan foto tersebut dalam penafsiran dari saat ke saat. Makna sebuah foto diadakan dalam penafsiran dan penafisran ini akan terus menghidupkan foto dengan pergeseran makna-makna dalam perjalanan waktu.

Ketika memotret sebuah foto dihasilkan atas potongan suatu peristiwa yang berjalan, dan pada gilirannya foto tersebut akan mendapatkan sejarahnya sendiri karena waktu selalu meminjaminya masa lalu dan masa depan. Dengan demikian, setiap kali sebuah foto merekam suatu momen maka terbentuk pula momen jalur kewaktuan baru: sebuah foto berada dalam temporalitasnya atau dapat dikatakan sebuah foto memiliki pembermaknaan secara temporalitas. Hal ini tidak terlepas dengan sentuhan kesadaran manusia dalam membuat ‘kisah’ fotografi menjadi sesuatu yang bereksistensi. Dengan begitu fotografi mengembalikan semesta kepada pandangan manusia yang dalam pembermaknaanya menyadari keberadaan (eksistensi) foto sebagai bagian dari kisah semesta. Manusia yang menyadari eksistensinya, menyadari ruang hidupnya dan kesemestaanya. Fotografi adalah suatu produk suatu semesta kesadaran untuk menyadari keberadaan dunia yang tercitrakan.

Cartier-Bresson telah membaca hal-hal kecil mulai dari bahasa verbal hingga bahasa tubuh, dan memprediksikan suatu momen secara jitu. Hanya hitungan sekejap mata dia merekam secara candid, tidak mencapai satu detik, dia membekukan suatu momen yang lari, tidak terulang, dari interaksi ekspresi manusia. Pemahaman terhadap The Decisive Moment setelah penulis menganalisis beberapa foto di atas, terletak pada realitas historis yang berhasil merekam dari momen-momen penting yang membawa perubahan dalam perkembangan politik dan pengaruhnya terhadap kehidupan sosial budaya manusia yang terjadi sekitar pertengahan abad ke-20an.

Konsep The Decisive Moment, dilihat dari fungsi fotografinya,merupakan suatu pemahaman terhadap bentuk dokumentasi. Dokumentasi memiliki andil dalam sejarah, dokumentasi digunakan sebagai pencatat sejarah, dan fotografi adalah suatu media yang berhasil merepresentasikan realitas –foto sebagai bukti (evidence) dari suatu peristiwa. Konsep fotografi The Decisive Moment sebagai bukti visual yang paling nyata dalam merepresentasikan realitas dari ketepatannya menentukan suatu momen yang merekam kehidupan manusia dan lingkungannya atas peristiwa yang pernah terjadi. Dengan pemahaman fotografi sebagai dokumentasi tersebut, maka seseorang (spectator) telah mendapatkan informasi sebagai kebutuhan kultural masyarakat di zaman informatika. Kebutuhan kultural akan informasi digunakan untuk mengevaluasi gerak perkembangan kehidupan manusia dalam membangun kebudayaannya yang terbentuk dari hasil citraan suatu foto.***

*Penulis adalah fotografer freelance

One response to “STUDIUM DAN PUNCTUM FOTOGRAFI THE DECISIVE MOMENT CARTIER-BRESSON

  1. Pingback: Membaca Fotografi Henri Cartier-Bresson Melalui Pendekatan Studium-Punctum* « Jouissance of Imagery

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s