HANAH ARENDT DAN POLITIK PENGAMPUNAN

Oleh: Astrid Veranita Indah*

Mengampuni atau memaafkan memang bukan tindakan yang mudah dilakukan. Apalagi berhubungan dengan kejahatan yang dilakukan seseorang pada masa lalu. Mengampuni membutuhkan pengorbanan dan kemurahan hati seseorang. Pengorbanan untuk mengikhlaskan kejahatan seseorang. Kemurahan hati yang diberikan meskipun terhadap seseorang yang asing baginya.

Menurut Arendt, tindakan mengampuni akan membebaskan dendam-dendam masa lalu dan membuka masa depan aktor kejahatan. Karena kehidupan terus berlanjut sehingga akan sangat sulit menghadapi masa depan dengan perasaan bersalah. Itulah mengapa konsep pengampunan Arendt menjadi sangat penting dalam kaitannya dengan kejahatan masa lalu.

Melalui laporan jurnalistik Arendt yang berjudul Eichmann in Jerusalem; A Report on The Banality of Evil (1964), menjabarkan kesaksian Adolf Eichmann sebagai kepala transportasi menuju Kamp. Laporan tersebut menuai banyak kritikan, terutama dari keluarga korban Holocaust. Bukannya menuliskan mengenai betapa jahatnya pelaku kejahatan, namun penilaiannya justru mengganggap Eichmann sebagai manusia yang thoughtlessness (Arendt, 1964). Thoughtlessness bukan identik dengan kebodohan. Namun pada kurang berpikir dan berimajinasi, terutama dari sudut pandang orang lain, sehingga melahirkan kejahatan dan banalitas.

Kejahatan merupakan persoalan epistemologis

Apa yang menjadikan seseorang melakukan kejahatan dalam kaitannya dengan sistem birokrasi? Kejahatan dan banalitas merupakan akibat dari kepatuhan seseorang terhadap sistem. Kepatuhan seorang pegawai rendahan terhadap atasannya memang dianggap sebagai bentuk loyalitasnya. Namun di sisi lain, seseorang dengan kemiskinan imajinasi dan empati akan serta-merta menjalankan perintah tanpa pertimbangan. Perintah dari sebuah kekuasaan totaliter berakibat pada kejahatan yang tak terelekan.

Arendt berpendapat bahwa fenomena politik baru di abad kedua puluh adalah totalitarianisme. Kombinasi antara ideologi dan teror. Arendt mengatakan: “kau tidak bisa mengatakan A tanpa mengucapkan B dan C dan seterusnya sampai ke ujung abjad pembunuhan.” Usaha membuat manusia menjadi berlebihan, serta menghancurkan spontanitas manusia, adalah berada di jantung kejahatan dalam bentuk baru dan radikal ini (Owens, 2010: 44). Seperti halnya dengan pembantaian yang terjadi, di manapun, disebabkan karena sikap gegabah seseorang. Kegegabahan seseorang menandakan bahwa mereka mengabaikan suara hatinya. Pengabaian terhadap dilema yang muncul dari dalam hati akan melahirkan tindakan yang tidak dapat diprediksi. Sehingga kejahatan bukan lagi menjadi masalah moralitas, perbuatan mana yang dianggap benar atau salah. Bagi Arendt, kejahatan merupakan persoalan epistemologi. Arendt mengkategorikan aktivitas manusia ke dalam 3 kategori.

Dalam The Human Condition (1958), Arendt membagi aktivitas manusia menjadi tiga bagian, antara lain: kerja (labor), karya (work), dan tindakan (action). Kerja dan karya cenderung menekankan kebutuhan biologis. Baik pekerjaan maupun karya dalam Vita Activa, yang pertama terkait dengan kebutuhan dan pemuasaan keperluan biologis sehari-hari, dan yang kedua terkait dengan penggunaan dunia objek-objek yang tidak sementara (kekal) sifatnya. Kegiatan seperti ini terkait dengan cara yang tidak menjadi tujuan sendri. Kehidupan seseorang seharusnya tidak hanya terdiri atas pekerjaan dan karya, namun harus diakui tragedi masyarakat demokrasi modern yang sangat terbatas. Sementara lingkungan adalah tempat dimana individu dapat melakukan tindakannya (Lecthe, 2001: 281).

Pemikiran Arendt tentang kerja dan karya dianggap lebih mendekati kritik Marx terhadap fenomena pada zamannya. Marx menganggap bahwa pekerjaan bukan paksaan demi memenuhi kebutuhannya, sementara seseorang bisa menyalurkan hobi yaitu berburu dan berpikir. Beberapa kritikus kemudian memberi label Hannah Arendt sebagai tokoh postmarxisme. Pemikiran Arendt justru cenderung replubikan daripada Marxis, terutama dalam filsafat tindakannya.

Aktivitas manusia yang paling tinggi adalah tindakan. Bertindak dalam hal ini bukan hanya bereaksi terhadap suatu hal, namun bertindak berkaitan dengan berpikir. Dengan berpikir, manusia mengalami dilematika antara dirinya dengan suara hatinya. Dilematika yang berlangsung dalam dirinya terkadang membuat seseorang tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Seseorang akan berpikir sebelum melakukan aktivitasnya sehingga aktivitas tindakan manusia dengan yang lain akan terjaga dalam pluralitasnya. Bagaimanapun juga, tindakan manusia satu dengan yang lain seringkali bertabrakan. Tindakan yang disertai pluralitas dalam ruang publik akan sangat mendukung aktivitas manusia di dalam lingkungannya.

Menurut Arendt, keberadaan pluralitas ini, yakni ada banyak perspektif dan suara-suara yang membentuk jagat politik, adalah fakta objektif. Ketika kesetaraan jamak datang bersama untuk memperdebatkan urusan bersama mereka, maka kita dapat mengatakan bahwa wilayah publik telah dibuat. Melalui ucapan dan tindakan, pluralitas orang ini membentuk space in between (ruang antara) mereka yang bisa ada tanpa hal atau materi yang jadi perantara (Owens, 2010: 48). Keberadaan pluralitas yang diungkapkan dalam ruang publik, mengingatkan kita pada ruang publik Habermas. Jika ruang publik Habermas menekankan pada 4 klaim kebenaran yang harus dipenuhi, dalam ruang publik Arendt lebih menekankan pada dialog antara bicara dengan tindakan. Istilah space in between merupakan ruang waktu yang digunakan seseorang berpikir, berimajinasi dan berempati terhadap akibar dari tindakan yang dilakukannya.

Dengan klasifikasi tersebut, dapat diketahui sejauh mana manusia mampu mengatasi dilema antara diri dengan batin, yang kemudian berakibat pada orang lain. Dilematika individu tidak dapat dilepaskan dari kelemahan tindakan manusia. Menurut Arendt, terdapat dua macam kelemahan dalam tindakan manusia. Unpredictable dan irreversible merupakan kelemahan tindakan manusia, yang tertuang dalam bukunya Human Condition (1958).

Unpredictable dan irreversible

Kelemahan tindakan manusia yang pertama adalah unpredictable (keadaan sulit diramalkan), karena begitu suatu tindakan dilakukan, lalu terjadi otonomisasi tindakan dalam arti akan beroperasi menurut dinamika sendiri lepas dari kontrol pelakunya (Haryatmoko, 2003: 88). Kepluralitasan masyarakat memungkinkan suatu tindakan akan beroperasi lepas dari kontrol pelakunya. Tindakan yang awalnya baik, bisa saja menjadi buruk di tengah masyarakat.

Sebuah tindakan yang tidak bisa diramalkan ke depannya menyebakan kekhawatiran dalam menghadapi masa depan. Oleh karena itu, Arendt menegaskan bahwa janji merupakan tindakan alternatif menjaga kebebasan manusia dalam hubungannya dengan sesama. Janji memungkinkan mengantisipasi tindakan yang tidak dapat diramalkan dan yang tidak dapat dipercaya dalam ranah politik.

Menghadapi tindakan yang tidak bisa diramalkan, Hannah Arendt menekankan betapa pentingnya makna sebuah janji. Janji perkawinan menjamin pasangannya untuk berani komitmen hidup bersama. Bobot nilai janji justru terletak dalam keberanian untuk menerima satu sama lain kalau terjadi sesuatu yang tidak bisa mereka ramalkan sebelumnya (Haryatmoko, 2003: 88-89). Oleh karena itu, manusia akan mendapatkan kenyamanan dengan perlindungan dari komunitas tertentu, yang memiliki aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Hal ini memungkinkan terwujudnya kententraman batin dalam menghadapi kehidupan yang serba tidak pasti, serta pelaksanaan hak asasi manusia.

Kelemahan tindakan manusia yang kedua adalah irreversible (keadaan tidak bisa dikembalikan ke titik nol). Ketika saya menyakiti perasaan orang lain, maka saya tidak bisa menghapus apa yang saya lakukan sebelumnya. Intinya adalah tindakan seseorang di masa lalu tidak bisa dihapus dari ingatan seseorang. Seperti juga dengan tindakan kekerasan. Kekerasan atau kejahatan yang dilakukan seseorang  akan sulit dihapus dari ingatan sosial. Kejahatan Nazi dalam peristiwa Holocaust memang sulit dilupakan oleh keluarga korban. Dalam Human Condition (1958: 239), Arendt membantah bahwa tidak benar jika hanya Tuhan yang memiliki kekuatan mengampuni. Kekuataan tersebut juga bukan diturunkan dari Tuhan. Mengampuni atau memaafkan merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Ampun atau maaf membantu mengembalikan kepada titik nol atau rekonsiliasi. Memohon ampun atau mengampuni bukan tindakan logis. Logis, bila orang disakiti membalas menyakiti. Logis, bila orang dirugikan menuntut mendapatkan ganti rugi. Mohon ampun atau mengampuni melampaui logika kesalingan, ia berasal dari kemurahan hati (generosity) (Haryatmoko, 2003: 89). Mengampuni kesalahan akan membangun kemungkinan-kemungkinan baru. Dengan mengampuni maka kehidupan akan terus berlanjut tanpa disertai dendam-dendam masa lalu. Memohon ampun dan mengampuni memang diperlukan dalam kehidupan.

Pemikiran Arendt sebenarnya ingin mengingatkan bahwa tidak hanya kebutuhan biologis, konsumsi dan kepentingan diri sendiri, namun aspirasi dan kepentingan bersama dalam kehidupan pluralitas. Kepluralitasan membutuhkan kemurahan hati, yaitu mengampuni kesalahan orang lain. Pemikirannya muncul atas kritik terhadap kehidupan yang mulai menghilangkan kebersamaan dan atas kelemahan tindakan manusia, seperti unpredictable dan irreversible. Tindakan yang tak terduga akan memunculkan rentetan reaksi yang tak terduga. Akan sulit meminimalisasi tindak kejahatan dalam masyarakat. Sementara, tindakan yang tidak dapat dihapus akan menutup masa depan orang lain.

Pluralitas dan kebersamaan

Kehidupan masyarakat dengan berbagai perbedaan serta kelemahannya mengidentifikasi bahwa masing-masing individu memiliki identitas dan keunikannya sendiri. Dengan keunikan tersebut, diharapkan mampu saling mengisi perbedaan, bukan dengan perlawanan dan kekerasan. Masyarakat senantiasa berkembang dengan ingatan sosial akan masa lalunya. Mengenali identitas seseorang dalam kehidupan masa lalu akan menumbuhkan ingatan sosial. Dengan ingatan sosial, maka individu akan berpikir dengan bijaksana sebelum melakukan tindakannya. Sehingga akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan, serta mencegah terulang tindak kekerasan di masa lalu.

Masing-masing manusia memiliki perspektif dalam memandang suatu tindakan. Keberbedaan setiap manusia menjadi keunikan bagi masing-masing individu. Namun perbedaan karakteristik di dalam masyarakat tidak luput dari benturan-benturan dengan yang lain. Bukan dengan menghakimi dan tergesa-gesa menilai buruk seseorang, namun dengan bertindak dalam persahabatan dan menerima perbedaan.

Tindakan manusia tentu saja tidak dapat dilepaskan dari masa lalu serta lingkungan di sekitar yang membentuk identitas diri setiap individu. Awal tindakan manusia yang dimulai dari keterlahiran. Dengan keterlahiran, manusia memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan pembaharuan. Pembaharuan tindakan dilakukan dengan kebersamaan.

Oleh karena itu, filsafat tindakan Arendt sangat menekankan pluralitas atau kebersamaan. Kebersamaan dan keberbedaan merupakan dua hal yang senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Tindakan manusia merupakan persilangan antara individu dengan lingkungannya. Sehingga menjadi jelas bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia, termasuk dalam ranah kekuasaan sekalipun, mendasarkan pada sikap pluralitas. Pluralitas ikut serta membentuk kepribadian manusia. Karena pluralitas merupakan interaksi dari berbagai unsur-unsur, baik yang membentuk kebersamaan maupun keberbedaan.

Pluralitas terkadang membentuk keberbedaan, yang senantiasa berbenturan dengan tindakan orang lain. Sementara di sisi lain, terdapat tindakan yang berproses melalui dinamikanya sendiri. Tindakan tersebut berubah menjadi tindakan yang tidak bisa dihapus dan tidak bisa diramalkan. Dalam kaitannya dengan kelemahan tindakan manusia, perlu adanya sikap kemurahan hati (generosity).

Kemurahan hati dapat diwujudkan dengan ampunan terhadap tindakan masa lalu yang pernah menyinggung perasaan. Dengan ampunan maka tercipta kesempatan membuka kehidupan yang selalu berproses. Kehidupan yang berkembang dan berproses mampu dinilai pada akhir kehidupan, bukan pada awal berlangsungnya proses kehidupan. Masa depan menjadi penting dalam memaknai proses kehidupan. Janji diperlukan untuk meminimalisasi tindakan-tindakan yang tidak mampu diramalkan di masa depan.

Ampunan dan janji merupakan dua hal tindakan kemurahan hati yang setiap manusia sanggup melakukannya, terutama dalam kehidupan yang penuh dengan keunikan. Keberbedaan akan selalu berdampingan dengan sikap menerima pluralitas serta menerimanya sebagai persahabatan. Dalam kehidupan yang plural, akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru dengan persahabatan dan kesetiaan. Dengan persabahatan, maka tercipta rasa kesetiakawanan dalam sebuah komunitas. Komunitas tersebut mampu menjaga kententraman kehidupan antar individu. Masing-masing individu mampu berinteraksi dan berkomunikasi. Komunikasi yang dibangun berdasarkan pada space in between, yaitu ruang waktu yang digunakan seseorang berpikir, berimajinasi dan berempati terhadap akibat dari tindakan yang dilakukannya.***

*Penulis adalah mahasiswi program master (S2) Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada

DAFTAR PUSTAKA

Arendt, Hannah, 1958, The Human Condition, The University of Chicago Press, London.

Arendt, Hannah, 1964, Eichmann in Jerusalem: A Report on The Banality of Evil, The Viking Press, New York.

Haryatmoko, 2003, Etika Politik Dan Kekuasaan, Kompas, Jakarta.

Letche, John, 2001, 50 Filsuf Kontempores Dari Strukturalisme Sampai Postmodernitas, terjemahan dari bahasa Inggris oleh Gunawan Admiranto, Kanisius, Yogyakarta.

Owens, Patricia, 2009, “Hannah Arendt,” Dalam Teori-Teori Kritis, terjemahan dari bahasa Inggris oleh Teguh Wahyu Utomo, Baca, Yogyakarta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s