DRAMA ZELENIN

Oleh: Adrozen Ahmad*

Acap kali, kita mengharap kemudahan di tengah badai. Hingga, dengan berlinang air mata, di hadapan Tuhan kita berdoa agar segala urusan kita dimudahkannya. Tapi tidak dengan Zelenin. Ia malah membayangkan sesuatu yang lain.

Syahdan, sepulang dari menonton opera bersama ibunya, Nadya Zelenin ngeloyor menuju kamarnya. Membaringkan kertas di atas meja lantas mencumbunya dengan tinta. “Aku mencintaimu,” tulisnya. “Tapi kau tak mencintaiku, kau tak mencintaiku.”

Usia perempuan remaja itu baru enambelas tahun. Ia belumlah berkekasih. Meski ia tahu seorang lelaki pegawai bernama Gorny dan seorang pelajar bernama Gruzdev “jatuh bangun” mengharap cintanya. Tapi anehnya, ia malah menuliskan sebaliknya.

“Lupakan bahwa kau pernah menyatakan cintamu padaku,” tulis Zelenin. Ia membayangkan tengah menulis surat untuk Gorny si pegawai.  Selepas memenuhi sehalaman, ia pun menangis.

Namun apa yang dilakukan tokoh utama cerpen karya Anton Chekhov berjudul  After the Theater itu ‘pura-pura’ belaka. Ia melakukan itu sekadar menirukan apa yang baru saja ia tonton di opera. Dan setelah menuliskannya, Zelenin pun tertawa.

Laiknya karya-karya Chekhov lainnya, After The Theater begitu kaya. Sekilas kisah ini hambar, di kali lain seolah ia memberitahu kita banyak hal. Namun, sekali lagi, itulah menariknya karya sastra. Ia menjadi permata atau batuan biasa, tergantung siapa yang membacanya.

Panggung

Kita telah lama berada di era panggung. Terlebih ketika medium televisi mulai menggurita.

Tapi ini bukan tentang televisi. After the Theater mengingatkan kita kembali pada realitas sosial yang tak tetap. Ia memperlihatkan betapapun kokohnya basis pikiran, rasa, iman, lambat laun mampu berubah dengan sebuah peristiwa yang dipanggungkan. Dan bukan kebetulan Chekhov memilih perempuan berusia 16 tahun sebagai pelaku ‘penderita’ utamanya.

Jacques Derrida menyentil sekelumit logika perpanggungan ini dalam karya apiknya Of Grammatology. Paradoks hubungan seseorang terhadap orang lain, kata Derrida, jelas terungkap dalam dua teks; semakin tuan menyamakan diri tuan pada liyan semakin tuan merasa menderita seperti halnya dia; penderitaan dia adalah penderitaan tuan.

Dan panggung-panggung itu kini kian menggurita. Ia bisa berwujud rerasan dengan tetangga, status di jejaring sosial, berita-berita di portal, hingga reality show dan infotainment di televisi. Peristiwa itu, kisah-kisah itu, panggung-panggung itu, datang dan menyerbu kita. Mengubah kita menjadi mereka. Burukkah?

Différance

Seperti halnya teks, kata Derrida, hidup selalu mengacu pada sesuatu yang lain. Itulah différance. Teks tidak pernah mengacu pada dirinya sendiri. Ia mengacu pada apa yang diungkapkannya, diomongkannya. Demikianpun dengan drama.

Nadya Zelenin menonton opera, dan ia menemukan sesuatu yang lain dalam opera itu. Lebih tepatnya, ia menemukan dirinya yang lain. Dalam kehidupan yang dipanggungkan oleh pemeran utama dalam opera itu: Tatyana.

Zelenin menderita laiknya Tatyana, pun kala ia bahagia.

Namun yang menarik adalah, panggung-panggung kita kini kian beragam. Di sana ada televisi, koran, internet. Belum lagi panggung realitas sosial kecil kita di mana kita hidup; keluarga, kantor, kampung, dll. Maka tak heran jika Jean Baudrillard mengatakan kita hidup di musim ekstase komunikasi.

Ini adalah musim, karena ia kelak akan berganti. Setelah ini berakhir, kelesuan berjamaah akan hadir.

Dan beruntunglah Zelenin karena ia menghadapi drama yang membuat dia berani menantang hidup. Betapa menariknya, tulis Chekhov, untuk tidak dicintai dan tidak bahagia. Dan betapa menariknya ketika kita tak sampai pada sesuatu yang kita ingini.

Drama Zelenin adalah drama tentang kasih tak sampai, imajiner tentunya. Barangkali pula, ia ajaran tentang  nikmatnya tidak memiliki. Dan tuntunan tentang indahnya rasa tidak dicintai.***

*Jurnalis dan penikmat sastra, tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s