DARI HUMANISME ISLAM KE FUNDAMENTALISME ISLAM

Oleh: Imam Wahyuddin*

Sejak nalar rasionalitas Islam di Andalusia sirna, ditandai dengan dibakarnya karangan-karangan filsuf besar seperti Averroes, wacana kemunduran Islam memperoleh perhatian signifikan.

Awal kemunduran bermula sejak nalar filsafat mati. Menurut Arkoun, ketika dunia Timur-Islam dikekang nalar eksklusivisme agama, tradisi berpikir kritis (filsafat) seketika itu punah (al-Ma’ârik min Ajl al-Ansanah).

Pertanyaan tentang kemunduran Islam penting kita uraikan dalam ulasan ini. Mengapa? Sebab kemunduran menimbulkan kesengsaraan di tubuh umat. Di antaranya melahirkan gerakan fundamentalisme Islam yang akan kita bahas nanti.

Krisis rasionalitas umat Islam, sebagaimana yang terjadi pada dekade ini, kuat ditandai pemahaman dogmatis berupa penyerapan ajaran agama yang tekstualis dan pembacaan Islam secara ahistoris.

Anti rasionalitas telah menyingkirkan keberagamaan humanis umat Islam. Padahal beberapa abad lalu Timur adalah kiblat dunia terkait karena filsuf Islam berhasil mengkaji konsep kemanusiaan dalam bahasan filsafat.

Manusia dalam khazanah filsafat Islam mendapat perhatian menyangkut harga dirinya dan urgensi akal pikiranya. Ia makhluk Tuhan teristimewa, bahkan disebut di al-Qur’an eksistensinya merupakan wakil Tuhan di dunia.

Naz’ah al-Ansanah atau aliran filsafat humanisme dialami umat Islam persisnya di abad ke-8 Masehi dan antara abad ke-11 s/d 15 Masehi. Salah jika orientalis Barat mengklaim humanisme lahir di Barat.

Adapun Eropa harus mengakui bahwa humanisme baru mereka petik setelah masuk abad Kebangkitan, jadi Barat telat 7 abad dari Islam.

Humanisme muncul setelah peradaban Islam sukses berakulturasi dengan filsafat Yunani. Di sanalah Islam melahirkan filsuf sekaliber Abu Ali Ibn Sina dan Abu Nasr al-Farabi di Masyriq. Ibn Bajah, Abu Bakar Ibn Tufail, dan Abu Walid ibn Rushd di Magrib.

Selain mencetus filsuf rasional, Islam juga mencetuskan filsuf sastra sekelas Abu Hayyan al-Tawhidi dan Miskawaih yang karya-karyanya tak hanya tajam secara filsafati, tapi juga sastrawi dalam keindahan bahasa.

Kita bertanya: kenapa kemajuan luar biasa di era klasik dalam bidang humanisme tidak berbanding lurus dengan kamajuan umat Islam masa sekarang?

Kini, justru keadaannya kita malah terperosok. Di beberapa tempat di dunia kita masih mendapati umat Islam mencibir humanisme lewat aksi terorisme.

Arkoun menjawab persoalan redupnya humanisme Islam melalui dua faktor, luar dan dalam, faktor materialistik dan intelektual. Kita tidak membahas kedua persoalan itu secara detail di paragraf ini. Mungkin kita mengulasnya di paragraf selanjutnya.

Muncul pertanyaan: apakah humanisme Eropa pada abad Kebangkitan serupa humanisme Islam pada abad ke-8 s/d abad ke-15 Masehi yang lalu? Dalam buku “Naz’ah al-Ansanah”, Arkoun menjawab: benar. Memang ada kesamaan pada kedua humanisme tersebut.

Arkoun menilai pada abad pertengahan, atau dikenal qurun wustha, abad kegelapan, terdapat dua aliran pemikiran yang saling bertentangan dan bertarung sampai berdarah-darah, yaitu antara kubu teologis dan humanis.

Pertentangan antara kekuatan teosentris teologi yang eksklusif dan kekuatan humanis antroposentris yang beraliran rasional tersebut, akhirnya dimenangkan kelompok kedua pada abad pencerahan.

Pengamat keislaman menyebut kemenangan itu bukan gratisan. Karena Eropa harus melalui pilihan berani. Mereka butuh membayar harga mahal, di antaranya harus menggoncang kedigdayaan Gereja Katolik yang mengakar kuat.

Abad pencerahan sangat menentukan nasib Eropa. Di sana inklinasi epistem terjadi besar-besaran. Setelah filsafat humanisme menang, masyarakat Eropa tersadarkan. Sebagai konsekuensinya, mereka berhenti memuja agama dengan dogma.

Ruang publik agama pun seakan mengalami putus hubungan. Saat itulah Eropa mulai berkiblat pada nalar filsafat humanis hingga akhirnya muncul Revolusi Prancis pada tahun 1789 yang menegaskan hak-hak asasi manusia Eropa secara merata.

Dulu, di masa abad pertengahan, kitab suci orang Eroupa adalah ayat-ayat injil yang ditakdiskan sampai taraf berlebih-lebihan. Namun selepas pencerahan tiba, mereka rame-rame ganti meyakini wahyu-wahyu rasional karya Plato dan Aristoteles.

Kembali pada alasan tentang hilangnya humanisme Islam pada masa klasik. Seperti ditulis Arkoun bahwa terdapat dua faktor, luar dan dalam, faktor materialisme dan intelektual.

Ulasan Hasyiem Shaleh dalam buku “Mu’dhilah al-Ushuliyah al-Islamiyah”, dalam menkaji buku “Entre Islam et Occident; entreiens avec Gerrad D. Khoury” (1998), membantu kita menjelaskan perdebatan prihal penyebab hilangnya humanisme Islam.

Mengutip tulisan Hasyiem Shaleh, “mana di antara faktor materialisme ataukah intelektual yang menjadi penyebab kemunduran umat Islam?”, tanya Gerad D. Khoury dalam wawancaranya bersama Maxime Rodinson.

Rodinson tidak menjawab pertanyaan Khoury. Menenai faktor kemunduran Islam, ia tak memilih baik intelektualisme ataupun materialisme yang menjadi faktor penentu.

Meski demikian Rodinson mengakui bahwa nalar Timur dogmatis sebagai biang keterlambatan Islam, dengan segera akan dilampaui. Itu hanya soal waktu, “di masa mendatang Timur bisa menyusul nalar kritis Barat.” Kata Rodinson.

Adalah Maxime Rodinson orientalis, sosiologis, dan penganut marxist kelahiran Prancis. Teori marxist menyatakan bahwa syarat materialisme dan ekonomi adalah penguasa di panggung dunia.

Rodinson mengakui, kemajuan Eropa yang berawal antara abad ke-15 s/d 19 Masehi berdasar pikiran materialisme. Hal itu terkait kaum Borjuisme di kota-kota Eropa berhasil mengganti kekuatan kaum feodal dan militer.

Berkat keberhasilan kaum Borjuis, kekuasaan di Eropa pindah ke tangan rakyat. Mulailah dibentuk kekuasaan dengan jalur demokrasi melalui pemilihan umum. Tak kalah menarik kaum Borjuis juga membentuk hukum lokal untuk mengatur sistem hidup bermasyarakat (Shaleh, 2007: 70).

Penjelasan Rodinson membuktikan bahwa perubahan di Eropa berhasil berkat unsur-unsur materialisme duniawi terpenuhi.

Bagaimana dengan Islam dan dunia Islam pada umumnya. Apakah kemajuan dapat ditempuh melalui cara yang sama seperti Eropa. Dengan bahasa lain, apakah faktor penentunya adalah unsur materialisme?

Sejarah mencatat pada zaman keemasan Islam di era Abbasiyah pernah muncul deretan filsuf terkemuka, sebut seperti pengikut aliran teologis ilmu kalam rasional, Mu’tazilah, yang perannya dikenal sejarah karena kegigihannya membela akidah Islam.

Kemudian Islam juga pernah melahirkan filsuf penting yang dengan tekun mempelajari hikmah aqliyah Yunani yang belum ada bandingnya di Eropa seperti Ibn Sina, al-Farabi, Ibn Bajah, Ibn Tufail sampai Ibn Rushd.

Kita tahu semua filsuf Islam membawa gagasan dan pemikiran mencerahkan. Tapi anehnya kenapa gagasan mereka tidak berlangsung lama. Itu karena gagasan-gagasan ideal mencerahkan mereka tidak didasari pondasi materialisme dan struktur sosial memadai.

Kita bisa ambil contoh kasus pemikiran rasional di Bagdad dulu. Ketika Baghad dipelopori kaum Borjuis seperti mutakallimin, sastrawan dan filsuf Islam, tahu-tahu pemikiran mereka tak berjaya setelah lama berkibar.

Khazanah rasionalitas Bagdad ambruk karena alasan materialisme. Pusat ekonomi perdagangan telah pindah, walhasil perekonomian di Bagdad melemah. Sebuah pemikiran jika tak dibarengi kekuatan materialisme-ekonomi kuat, hampir dipastikan akan ditinggalkan, juga ditanggalkan.

Di samping faktor materialisme, faktor intelektual juga sangat menentukan kemajuan suatu peradaban. Marthin Luther di Eropa pada awal abad ke-16 mampu merubah wajah dunia meski dari sisi materi Luther masuk golongan orang miskin.

Para filsuf mazhab idealisme yang muncul abad ke-18 menyakini faktor intelektual berperan besar soal kemajuan. Secara mendasar, faktor keintelektualan pernah membebaskan kebodohan Eropa sebagaimana dikampanyekan Hegel, Imanuel Kant dan J.J. Rousseau, dan lain.

Sampai di sini alasan kemunduran Islam, terkait tenggelamnya filsafat humanisme di dunia Timur-Islam menurut Arkoun ditengarai dua alasan luar dan dalam, materialisme dan intelektual.

Jelas faktor materialisme penentunya, sebab  umat Islam tidak memiliki filsafat materialisme, dalam arti ekonomi dan unsur materialisme duniawi yang kuat, untuk menegakkan kedaulatan pemikiran rasional.

Alasan intelektualisme juga menjadi penyebabnya. Sebagaimana diakui khalayak ramai, Islam tidak hanya miskin di materialisme, tapi juga di pemikiran. Sejarah membuktikan filsafat humanisme yang cenderung meninggikan martabat manusia setelah tiba teologi eksklusif, peran rasionalnya kemudian dinafikkan.

Usaha Ibn Rushd sebagai filsuf terakhir untuk mengembalikan pusat rasionalitas Islam melalui kajian filsafat, akhirnya tidak berlangsung lama.

Ahli fikih, penguasa buta ilmu dan masyarakat Islam yang dibalut kejumudan di Andalus semua berkelakuan sama. Mereka memandang pemikiran demonstratif filsafat sebagai kekafiran dan menyalahi akidah.

Mohammed Arkoun benar. Humanisme Islam yang dulu gegap gempita di abad ke-8 dan antara abad ke-11 s/d 15 Masehi lenyap disebabkan dua alasan karena umat Islam buta intelektual dari dalam dan miskin materialisme.

Akibat hilangnya filsafat humanisme, umat Islam terancam wabah keberagamaan anti rasional. Tak mengherankan aksi-aksi sadisme kekerasan loyal dikerahkan. Gejala ini kemudian marak disebut sebagai gerakan fundamentalisme Islam yang akan kita bahas di lain kesempatan.

Wallhua’lam

*Penulis adalah alumnus jurusan Filsafat Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s