20 LADANG SENJA

Oleh: Victor Delvy Tutupary*

Cerita Pendek

20 ladang senja yang menguning telah membuat kita turun melupakan asal kita yang penuh dengan janji dan kata setia. Demi langit yang membentang bercahaya oranye memantul melalui lidah-lidah masa lalu, masa kecil, masa yang polos, masa yang tidak menyisakan apa pun selain tidur gelisah sepanjang malam demi mengeja namamu. Demikianlah aku melihat sesuatu yang turun dari langit serupa api roh kudus yang bercahaya di atas kepala Petrus, lalu turun membakar merah rambutnya membuat lidahnya berasap, merontokkan akal sehatnya, menghapus jejak masa lalunya di mana ia selalu tertidur dan bermimpi di pelukan ayahnya yang pesakitan. Sesuatu yang serupa surga itu, atau jika saja ada sebuah jendela yang terbuka pada salah satu kamar kenangan kita, kuharap naiklah di pundakku dan intiplah ke luar melalui jendela itu, sesuatu serupa surga akan memenuhi pandanganmu. Lihatlah itu dan tolong jangan bohongi perasaanmu lagi.

19 tahun di masa lampau ketika anak sekecil aku belum lagi menyadari bahwa sebuah parade sakit hati akan melintas di depan rumah mungilku suatu saat nanti di musim penghujan, aku sudah belajar menyukai rambut sependek leher dan mata sebulat burung hantu yang kau punya. Jika hanya itu yang kukenang darimu, atau jika hanya ode untuk sang pencipta yang memersatukan kita di masa lampau, tentu saja aku berbuat salah. Melewatkan wajah misteriusmu, atau katakan saja wajah mungilmu yang selalu tanpa senyum itu adalah perbuatan yang mustahil sebab di situlah hatiku berada, selalu dan selalu ada dalam setiap lipatan pigmen kulitmu yang seputih pasir pantai. Aku harus melupakanmu pada saat malam mulai merangkak ke atas kilau atap seng yang memantulkan cahaya bulan. Tetapi, jika saja aku berhasil melupakanmu, aku ingin berandai berada di dalam sebuah perahu mungil, berdua denganmu, bergoyang dihantam gelombang hanya denganmu. Denganmu menatap jauh ladang ikan yang sedang bergelora. Namun, aku tak bisa melupakanmu, aku tak bisa melewatkanmu.

18:45 adalah waktu ketika kau meruntuhkan kesabaranku dengan memilih untuk tidak mengenalku lagi. Itu hanya sebuah pesan singkat yang kau kirim dengan tanpa perasaan, kau katakan dengan lembut, ini siapa? Oh demi iblis yang kau cintai dengan sepenuh hati dan yang kau sembah setiap hari minggu di ruang-ruang gerejamu yang kotor oleh darah para nabi, kau menjebloskan aku seketika itu juga dalam arus lemah kehidupan. Jika aku harus berbuat baik untukmu, maka terjadilah. Aku menanyakan apa maksud dari semua ini? Apakah permainan ini hanya kepura-puraan belaka? Apakah aturan utama permainan ini adalah tidak ada peraturan? Tak ada yang menyahut, kau tidak menyediakan hidangan jawaban yang memuaskan untukku karena kau hanya diam dan membiarkan aku membunuh setiap rasa kantuk yang menyerangku setiap malam. Aku tak bisa tidur. Aku tak bisa menyentuh jiwamu yang pesakitan itu.

17 mimpi buruk membombardir malam terkutuk itu. Aku bangun hanya untuk tertidur kembali. Lalu aku tidur hanya untuk terbangun kembali. Gelap malam yang terbingkai jendela bersekongkol dengan nyamuk-nyamuk, anak-anak kodok, jangkrik-jangkrik, arwah-arwah dari pusat bumi, marsegu-marsegu, pisang-pisang busuk, reruntuhan rumah dan semak belukar. Mereka-mereka ini, hanya tercipta, datang dengan niat buruk yang dibekali oleh setan bertanduk sepuluh, dipancang dalam cairan busuk di otak mereka. Bersekongkol untuk megganggu tidurku, melucuti kolor dan celanaku, menarik lipatan-lipatan lemak di perutku, lalu pergi meninggalkan aku terbangun gelisah hanya untuk tertidur kembali memasuki kegelapan, keganjilan peristiwa, dunia hitam-putih, keanehan wajah-wajah yang begitu cepat berganti, tempat-tempat asing yang tak pernah kukunjungi namun terasa akrab, perahu-perahu mungil yang membawa berjuta cahaya lilin yang berakhir pada pengejaran tiada akhir akan kepastian. Aku terbangun dengan nafas yang memburu, menyalakan lampu kamar lalu menangis hingga tertidur kembali.

16-5+12-21+11= aku. Sisakan sedikit makan malam untukku. Jangan kau habiskan rotimu, sebab aku lapar, berbagilah denganku sedikit. Pagi ini, pagi yang berteriak. Cerita ini telah jungkir balik. Pikiranku seperti kereta yang terbalik menghantam longsor. Tidak ada lagi pahlawan. Kiri kanan atas bawah aku tak mengenal. Kekasihku berkhianat. Aku lupa aku punya kehidupan. Ah, mana tulang pahaku? Memang tubuhku tak butuh penyangga, tapi kalau aku lapar, aku harus makan apa? Tulang. Aku bangun lalu aku tak mengenal apa-apa lagi. Orang yang mengaku mama bilang bahwa itu sebuah vas bunga. Ada benda berwarna-warni di dalamnya. Aku menyukai warna. Mereka bilang itu bunga. Giliran si A mengalihkan pandanganku, dia bilang itu sebuah benda bernama cermin. Si B mendekatkan wajahnya pada benda bernama cermin itu. Wajahnya ada dua. Cuma itu saja. Ini terlalu biasa untuk orang yang tidak mudah terpukau. Kekasihku telah pergi. Ya, dia telah pergi. Aku tak perlu lagi mencari dia. Ia pergi membawa sebuah benda. Si A menebak, benda itu pastilah sebuah tas plastik. Namun apapun nama benda itu tidaklah penting bagiku. Mama menangis, ia tahu isi tas plastik itu. Kewarasanku. Aku cuma bisa tersenyum J.

Oke, aku tahu ini sebuah bencana untuk keluargaku. Aku tersenyum dan mereka menangis. Harusnya jika itu sebuah keluarga, tentu saja keluarga yang sehat dan normal, kebahagiaan dibagi bersama, kesedihan didistribusikan sama rata. Dan semuanya harus seiring serempak, bukan seperti ini. Tetapi inilah kenyataan, aku membuka mata, lalu tampaklah bingkai jendela yang bercat putih. Aku tidak peduli apakah bunga dahlia sudah berbunga di taman, atau apakah si A sudah mandi. Yang terpenting bahwa ada seorang kakek tua duduk di bangku taman. kelihatannya ia sedang memandangku. Tapi aku tak yakin apakah pada saat aku berkedip dia menjulurkan lidahnya padaku atau tidak. Mungkin ketika aku berkedip dia berubah menjadi seorang perempuan, dan kembali menjadi seorang pria setelah aku berkedip. Ada-ada saja perbuatan pikiran manusia. Aku bergumam pendek, mama menerjemahkan ini sebagai tanda bahwa aku sedang lapar. Mereka membawakan makanan untukku: sepotong kodok goreng. Kata mereka, makanku lahap sekali. Kataku, biasa saja. Mereka tersenyum, aku pun tersenyum. Aku kenyang sekali. Lalu aku bersendawa. Kata mereka bunyi sendawaku mirip suara kodok.

14:20 aku tertidur tanpa mimpi. Bangun pukul 23:15. Pesta telah bubar. Aku sudah sembuh. Pada saat kesadaran perlahan-lahan mengambil alih kembali tubuh dan pikiranku, aku teringat pada senyummu. Aku tahu meski aku menolak untuk mempercayainya, bahwa kau tidak mencintaiku lagi, atau kau memang tak pernah mencintaiku. Begitu sederhananya bentuk hati yang terluka. Aku cuma bisa menangis sambil mengutuk dalam hati. Tetapi, siapa aku bagimu? Aku adalah mainan. Setelah bosan, apalagi yang pantas dilakukan selain dibuang? Itulah makna hujan di sore itu. Itulah inti dari pesan yang terkandung dalam parade sakit hati yang lewat di depan rumahku dalam rupa rintik hujan. Awan-awan bergerak serupa kepulan asap rokok. Kau pernah memanggilku dengan kata “sayang”. Kau juga pernah duduk berdua denganku di teras rumahku, saat itu lampu sedang padam, aku bisa melihat lekuk wajahmu berkat pendar cahaya dari layar hape yang sedang kau mainkan. Mungkin kau sedang mengirim SMS kepada pacarmu. Ah, adilkah dunia?

Memang hatimu sudah menua. Melihat kau tertawa ketika ada cerita lucu, atau ketika kau menghemat uang belanjamu hanya untuk membeli sekarung permen cokelat, aku dapat berkesimpulan bahwa tahun-tahun menyebalkan akan segera datang. Permainan kejar dikejar akan ditayangkan setiap hari untuk mengisi sela dan celah kehidupanmu yang tampaknya membosankan. Aku berani mengatakan bahwa kehidupanmu membosankan karena pacarmu memiliki daging di perut yang menggelambir dan bibir hitam yang terlihat mati rasa akibat terlalu banyak mengulum batang rokok. Pacarmu adalah hantu dalam arti yang sesungguh-sungguhnya; seorang sipir dalam arti yang sebenar-benarnya. Yang tak tahu cara berciuman, dan hanya bisa mengendus-ngendus bibirmu seperti anjing. Tetapi itulah kolam cinta yang setiap hari kau kunjungi untuk memancing ikan-ikan kecil yang membosankan. Tetapi kau sangat kusayangi meski kau terpenjara dalam kebodohanmu sendiri. Lalu pada malam itu, kau memakai baju merah berlengan panjang dan rok hitam yang bermotif bunga-bunga kecil. Kau hanya mengijinkan aku duduk di sampingmu karena kau ingin membisikkan sesuatu pada telingaku. Malam itu aku sangat bahagia. Buah dadamu terlihat lebih besar daripada biasanya. Bibirmu menari di daun telingaku, aku menyukai suara bisikan dan sapuan nafasmu: “apa yang akan kau berikan untukku?”

Lupakan sayang, “jauhkan kiranya” katamu. Kita lebih baik duduk terpisah seperti dua pulau yang hanya menatap penuh rindu dari jauh tanpa ada jembatan, tanpa ada kapal dan pesawat yang mampu menyampaikan ucapan rindu kita. Wahai mereka yang bermain cinta cukuplah kalian bermain di dalam hujan, sebab baju kepunyaan kalian satu-satunya telah basah kuyup. Lebih baik kau berhenti, karena tak ada lagi baju ganti. Kau bilang “aku sangat menyayangi dia”. Tapi aku cuma ingin berkhotbah tentang gesitnya setan berinisal E yang pandai menyamar sebagai sebentuk perasaan. Perasaan cinta. Perasaan yang membunuh perasaan-perasaan. Aku sayang kau, kau sayang dia, dia sayang padamu karena kau begitu penurut; begitu empuk untuk diomelin; begitu mudah untuk digiring ke dalam sangkar. Lalu aku menjadi bodoh karena rasa sayang telah menguasaiku. Kau menjadi perempuan yang ampun deh, menjual kebebasanmu dengan harga yang sangat murah sekali, menjual mata bulat indahmu demi perut bulat milik kekasihmu. Itulah cinta. Itulah sayang. Itulah kebodohan. Itulah pencerahan. Damn!

11 September, satu hari sebelum hari ulang tahunku, aku bersepeda mengelilingi kota mencari apa yang tertinggal untukku. Ternyata hanya masa lalu yang mau membuka dirinya, membiarkan aku masuk untuk mencari-cari jejak kebahagiaan. Kutemukan itu pada rambut pendekmu, kucintai bibir mungilmu, kebahagiaan itu semakin menjadi-jadi ketika tubuh kurus kecilmu terbingkai rapi dalam baju masa kecilmu yang kedodoran. Perempuan mungilku, berdiri rapi di situ, aku ingin menyelidiki tiap jengkal tubuhmu, jika kau suka biarlah aku mencubit pipimu sedikit, atau jika kau mau bebaskanlah aku mengecup bibirmu barang sedetik saja. Jangan berontak atau pun menolak sebab ini bukanlah kekurangajaran, ini adalah sains. Masa lalu adalah ketiadaan. Sains menjelaskan tentang apa yang ada dan bukan menjelaskan ketiadaan. Sains adalah seni berciuman, sedangkan masa lalu melulu tentang ketiadaan, oleh karena itu, ia adalah seni yang mendahului pemahaman, sebab untuk memahami kita membutuhkan pembanding, padahal untuk satu masa kehidupan, pemahaman yang lahir dari perbandingan adalah sesuatu yang nyaris mustahil. Kita membutuhkan lebih banyak lagi kehidupan untuk menjadi manusia romantis yang doyan membanding-bandingkan. Jika kau percaya bahwa masing-masing dari kita hanya diberikan satu kue kehidupan maka hidupmu adalah perjalanan abadi dari dan menuju ketiadaan. Sains adalah seni berciuman dalam ketiadaan, ketiadaan yang membahagiakan. Ketiadaan pacarmu.

Lalu malam kembali tiba, dan aku bermimpi, Jamilah pun bernyanyi, dan siapa yang tak kenal biduanita bersuara seksi itu? Ia mempunyai ruang pada kantung mata yang lebih luas dari jenis manusia manapun, tempat ia menyimpan cadangan air mata untuk musim kemarau nanti. Jamilah si penyanyi, yang selalu bercucuran air mata ketika menyanyikan lagu O Holy Night, lalu penonton siapa yang tidak ikut-ikutan menangis jika Jamilah sudah menangis? Penonton siapa yang mampu berpura-pura budek ketika Jamilah sudah menyanyi? Aku datang pada malam pertunjukkan itu, ketika Jamilah membuka konser tunggalnya dengan sebuah lagu berjudul C, aku berhenti menyedot pepsi lalu menaruhnya di bawah bangku. Ada lagu D, F, G, J, K, semua dinyanyikan dengan sempurna, hanya saja air matanya belum keluar. Kami memuja suaramu, tapi kami merindukan air matamu Jamilah. Menangislah untuk kami. Menangislah untuk jiwa-jiwa kami yang kesepian dan telah carut marut oleh bekas kepedihan. Menangislah untuk kami, bukankah adegan itu yang paling ditunggu-tunggu penonton yang hadir malam itu? Sampailah takdir pada pemberhentian terakhir, yakni sebuah lagu berjudul Tender is the Night, Jamilah menyanyikannya sambil tersenyum, penonton pun menangis kecewa. Jika kau selalu saja berharap pada kebiasaan maka pastilah kau adalah bagian dari penonton yang menangis itu. Jadi, jangan berharap pada apa pun dan pada siapa pun karena tak ada apa pun atau siapa pun yang mampu menggenggam segalanya di kedua tangannya. Oh Jamilah, bukankah itu kau sayang? Aku terbangun.

Mimpi malam kedua, kubangun sebuah istana yang berkilau oleh permata sebagai persembahan untukmu, demi menghormati perasaan cinta yang dulu pernah lahir, tumbuh ke arah matahari, mengakar kuat menuju pusat bumi, mekar, menggila, lalu kukubur dalam-dalam di dalam sebuah peti bercat merah, melapuk bersama waktu, luruh bersama derasnya air hujan, membusuk, digerogoti belatung-belatung yang lapar oleh cinta-cinta monyet, lalu setelah lama terlupakan, setelah lupa mengambil alih kesadaran meninggalkan cintaku padamu tersudut dalam ruang bawah sadar yang paling gelap, lahirlah kau kembali mencari cahaya matahari, bangkit kembali dari dalam kubur meninggalkan gelap, meronta-ronta mengebaskan diri dari belatung-belatung lapar yang terpental tanpa mendapat apa pun dari tubuhmu, mengusir lupa dengan mata bulatmu, mengingatkan aku pada cahaya samar dari masa lalu, mencubit daging lenganku untuk membuatku terbangun dari mimpi (dari ilusi ke delusi), aku bangun, kau juga, aku sendiri, sedangkan kau tidak, lalu apa maksud dari kebangkitanmu ini?

Hanya kau yang tahu apa arti kebahagiaan, sebab hidupku adalah perayaan akan ketidakbahagiaan. Parade sakit hati yang kau sutradarai pada senja jahanam itu membuatku terpesona oleh indahnya kesedihan. Hujan, bunga dan rok hitam yang kau pakai pada malam itu adalah tanda baca dalam kalimat-kalimat tanpa bentuk yang ingin kau ucapkan untukku: “aku bukan untukmu, sayang sekali cintamu harus bertepuk sebelah tangan.” Janji kemenangan dan kegagalan selalu berjalan beriringan. Pesan-pesan pendek yang kukirimkan dengan nada sayang hanya mampu menggetarkan hapemu tanpa sedikitpun menggetarkan hatimu. Yang kuinginkan adalah aku dan kau bervibrasi pada frekuensi yang sama. Tetapi aku hanya mampu menatap punggungmu dari jauh. Seseorang berbisik di telingaku menyuruhku mencium tengkukmu. Ada cahaya di sana, ada titik-titik keringat di situ, ada bulu-bulu halus yang lolos dari simpul ikat rambutmu. Hai pemirsa pengantuk, yang menyukai leher seorang perempuan lebih dari pada bagian tubuh mereka yang lain, atas nama kalian aku harus mencium lehernya, jika nanti lidahku tidak gugup dan kaku, bolehlah kujilat sedikit titik-titik keringatnya.

7 hari yang lalu kau mengatakan kepadaku bahwa aku harus menunggu. Untuk apa? Kau hanya menjawab singkat bahwa aku tidak boleh menghubungimu, biarlah kau yang menghubungiku lebih dulu. Sudah 7 hari berlalu, dan aku masih terus menatap layar yang kosong, tak ada panggilan, tak ada tanda-tanda kehidupan yang bergerak di bawah sana. Aku menantikan bunyi dan getaran. Kepalaku bergoyang, lidah-lidahku menghitam dan terjulur, kupingku membengkak, lubang hidungku tersumbat parah, kuku-kuku menghitam lalu lepas satu per satu. Bisakah kau mampu membayangkan bahwa keramahan dalam penantian hanya akan membawa bencana-bencana fisik seperti ini? Hanya orang yang berpembawaan tenang dan bersahaja seperti aku yang dapat menahan getaran-getaran tak perlu yang harus ditanggapi dengan senyum yang tak lagi hangat. Inilah kehidupan yang menebar pesonanya bagi para pencari kebenaran. Entah apa yang mereka cari dalam hidup ini. Mereka mampu melihat potensi kegembiraan meski kabut gelap telah menaungi samudera raya. Mereka tersenyum dan selalu tersenyum, padahal pakaian kotor mereka sudah menumpuk dan harus segera dicuci. Kuakui aku memang gelisah tetapi aku tetap setia menantimu.

Farida Usman Husein adalah salah satu dari penemuanku yang paling berharga di alam mimpi, ia bocah penanti pelangi (tetapi bukan laskar pelangi, camkan itu!), ia selalu sabar menanti pelangi selepas hujan. Pada hari ini akhirnya ia tahu bahwa hari-hari manusia berlalu begitu cepat bagi anak seusia dia. Enam hari berlalu tanpa ada pelangi, hanya hujan sepanjang pagi dan malam. Ia duduk di bawah beranda rumah di tepi jalan raya menatap kaleng biskuit yang kosong. Sekali-kali ia melirik pada hujan yang turun tegak lurus dengan bumi. Sekali-kali ia juga tergoda untuk bergabung dengan kakaknya yang sedang riang bergumul dalam curah hujan dan cipratan lumpur. Duka Farida adalah duka buruh-buruh pelabuhan yang berlari dalam deras hujan. Ia melucuti harapannya tetapi membiarkan kerinduannya. Kegelisahan Farida adalah kegelisahan seorang ibu yang melahirkan anak sulungnya. Ia hanya seorang anak kecil, yang bahkan belum mahir mengucap “R”, ia belum tahu bahwa kelak rahimnya mungkin saja akan melahirkan seorang anak perempuan yang cantiknya melebihi akal sehat. Tetapi itu jika umurnya panjang, sebab siapa yang tahu sebentar lagi akan datang seorang sopir pemabuk dari ujung jalan kegelisahan yang akan melindasnya? Ban truk yang maha besar itu mengubah kepalanya menjadi bubur semangka.

Entahlah, itu jawabanku jika kau bertanya mengapa aku mencintaimu, atau jika kau ingin tahu mengapa aku gemas dengan tubuhmu yang hangat. Kegilaan ini, yang kuawetkan di dalam lemari es, tak ingin kubahas lagi. Biarlah aku apa adanya. Aku tahu cemburu telah menguasaiku. Aku tahu bahwa aku tak berhak atas sejengkal lahan di hatimu. Walau hujan membiarkan tirainya terbuka ketika kita berdua melenggang melenyapkan kekesalan di hati dengan bergandengan tangan, kita tahu bahwa ini semua segera berakhir. Tanganmu kulahap dengan nikmat, sepanjang jalan aku membual dengan penuh hasrat. Aku tahu kau telah dimiliki, namun siapa yang tahu masa depan seseorang? Aku bisa saja mencium bibirmu, meski kuyakin kau akan menamparku. Aku bisa saja mengajakmu untuk menelanjangi tubuh kita seperti Adam dan Hawa di Taman Eden, lalu bersembunyi di balik alang-alang menunggu Tuhan lewat untuk menghardik kita. Aku bisa saja itu, aku bisa saja ini. Siapa yang dapat menghentikan keinginan seseorang? Akhirnya kita berpisah di ujung jalan. Kau harus pulang untuk mandi sedangkan aku harus pulang untuk menangis. Biarlah, biarlah semua kutanggung di dalam doa, doa yang datang terlalu pagi ketika ayam jantan pun masih tertidur di pucuk-pucuk mimpi.

Donna, aku ingin makan. Jantungmu terlihat berdetak begitu menggoda. Aku ingin mengunyah jantungmu. Donna, oh aku ingin merubah diriku menjadi lalat, lalu bersembunyi di ujung tombak. Biarkan mereka mencariku. Jelas tak bisa mereka temui, sebab mereka sangka aku batu. Mereka kira aku tak bisa berpindah tempat seperti pohon. Mereka ingin membunuhku, mereka ingin aku menjadi abu. Riak-riak air, tempias hujan, jarum-jarum jam, lubang-lubang peluru, mereka adalah sahabatku di malam keparat itu. Saat itu aku adalah lalat dan kau pemukul lalatnya. Kau mencoba memukulku dengan kata-kata: “apa hakmu untuk cemburu?” Kau betul, aku memang tak punya hak. “Apa hakmu untuk cemburu? Kau kan bukan pacarku?” Kau betul, aku memang bukan pacarmu, tapi aku harus ke rumahmu malam ini juga. Aku ingin menarikmu, menuntut harga diriku, lalu mungkin akan menamparmu sedikit. “Jangan coba-coba ke sini, atau kupanggil pacarku si banteng pemabuk itu!” “Panggil saja! Aku tak punya urusan dengan dia.” “Kupanggil mamaku ya!” “Suruh keluar.” “Ah, jangan gila dong, tahu ga sudah tengah malam sekarang!” “Aku ga peduli, kalau memang kau dewasa, keluar sekarang!” “Kau tu yang ga dewasa, mikir dong sudah jam berapa sekarang.”

Coba kau terka apa yang kulakukan untuk membunuh perasaan-perasaan ini? Aku melihatmu pergi begitu jauh, lalu aku melacurkan diri dengan puisi. Setiap malam kuhabiskan kata-kata dan kalimat. Kutelan pikiran-pikiran yang berlari liar di antara lampu-lampu jalanan. Aku duduk di teras rumah, menerawang jauh membayangkan Bronte dan Byron makan di meja yang sama, minum dari gelas yang sama. Melihat mereka saling mencaci maki, memaksa diri menulis sebaris puisi semalam suntuk hanya untuk memikat hati seorang perempuan. Mereka adalah pembual terlatih, mereka dan puisi adalah ketololan yang tak bisa diampuni, tetapi aku ingin seperti mereka. Haruskah kususun ulang perasaan-perasaan ini seorang diri? Aku mencintaimu, tetapi aku tak yakin apakah kue bahagia akan terasa kenyang di lidahku. Kau telah pergi dan itu lebih baik. Aku harus terus menulis puisi agar tetap hidup meski aku tahu ini adalah puisi yang berisi kesia-siaan. Ya, ini hanya kesia-siaan yang bermanfaat. Aku lelah, sangat lelah. Bahkan untuk bernafas pun aku lelah.

Berilah aku waktu untuk berpikir. Berilah aku waktu untuk berdoa. Namun kau tidak membiarkan aku menikmati permainan ini lagi. Satu pesan pendek hari ini datang dengan sendirinya membanjiri kesepianku dengan kabar sepele yang sesaat terasa penting, setidaknya bagiku. Ah, ini saja yang harus kuperbuat: mengikatkan benang Ariadne pada jantungku dan mulai berjalan masuk menyusuri teka-teki hatimu yang paling membingungkan. Menikmati permainan dag dig dug ini dengan darah yang berdesir hebat di pelipisku. Aku tahu aku akan mati tanpa dikenang (kematian yang sangat mudah yang kuinginkan bukan mati dalam kebingungan) dalam sebuah labirin yang terjalin dari kemarahan akan kebosanan. Sebuah pesan pendek terakhir yang masuk tanpa getaran, tanpa bunyi, kunyalakan sebuah lampu dalam ruang hatiku yang paling tersembunyi, lalu kubaca pesan itu, “20 tahun aku telah mengenalmu, dan kurasa sudah cukup, aku tak mau mengenalmu lagi.” Aha, hatiku terasa bebas sobat! Pesan ini menjelma menjadi obat yang ampuh untuk membunuh penyakit romantik-religius yang sudah beranak pinak dalam caraku memaknai cinta. “Aku juga sudah lama menganggapmu seperti anjing, aku tak ingin kau menjilati kakiku lagi,” balasku.

Apa yang harus kulakukan di saat harga diri sudah tidak berguna lagi? Aku berenang seorang diri di lautan menjelang malam. Hanya ada sedikit angin dan gelombang. Aku mengapung dan sebisa mungkin mengurangi gerakan tubuh. Meniduri air lalu menatap langit senja. Di atas sana ada sebuah pesawat terbang yang berkelap-kelip di balik awan-awan hitam. Pikiranku mulai bertanya-tanya dan mengeluh, tetapi sesegera mungkin kuhentikan. Kutenggelamkan kepalaku ke dalam air, menyelam ke kedalaman. Air terasa dingin, hanya ada keheningan dan kegelapan di bawah sana. Aku mendengar seperti ada suara-suara pilu dari dasar laut, jeritan-jeritan aneh yang terasa menenangkan di telingaku. Aku berusaha menyelam lebih dalam lagi menuju kegelapan. Kusentak-sentakkan kakiku lebih cepat meski aku mulai merasa lelah. Semua kenangan akan dirimu mulai berlompatan keluar dari mulutku bersamaan dengan gelembung-gelembung udara. Aku menuju gelapnya laut untuk berharap bisa melupakanmu. Ya, melupakanmu walau asinnya air laut mulai kutelan sedikit demi sedikit: Aku menuju kesesakan sekaligus kebebasan.

0 (hanya ada keheningan di antara kita)

Ambon, 2011

*Pemuda Ambon yang sedang merampungkan studi S2 Filsafat di Universitas Gadjah Mada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s