KOMELO DAN NARODNIK MELON

Oleh: Ragil Nugroho

Sory, Bro.

Perkembangan gerakan kiri di Indonesia saat ini telah membimbing saya untuk mengimani fenomenologi lho. Puji Tuhan. Rupa-rupanya saya harus setia mengamati setiap gejala yang tampak untuk sampai pada kebenaran. Yoi, mas Bro, selama ini saya terlalu jauh meninggalkan Lebenswelt (dunia kehidupan). Akibatnya, saya tak menyadari telah muncul dua varian gerakan kiri di Indonesia: Komelo—kepanjangannya cukup keren, Komunis Melow—dan Narodnik Melon.

Mau tak mau, karena mengimani kekudusan dari fenomenologi, saya berangkat dari gejala dulu. Komelo memunyai gejala yang unik; ia boleh memiliki ideologi yang gahar: komunisme, tetapi hati selembut sutra, men. Kalau boleh saya gambarkan, komunisme itu ibarat seorang yang bertubuh seperti preman—tentu pembaca tahu dong tubuh preman ini, pakai standar stereotip saja: badan berotot, kalau perlu ditambah tato, dan matanya selalu merah (entah karena kurang tidur atau karena terlalu banyak minum ciu plastikan). Nah, karena ada karakter melow-nya, untuk menjaga kelembutan hati, musik kesukaannya lagu-lagu yang didendangkan oleh Betharia Sonata, Pance F Pondaag dan Tommy J Pisa (musik-musik seperti ini banyak didapatkan di lapak-lapak vcd bajakan).

Sebelum saya lanjutkan, Komelo ini juga bisa disebut Marlo—ini bukan Marlo yang ketua SRMI itu lho, mas Bro. Marlo yang ini kependekan dari Marxist Melow. Ini sama saja sih dengan Komelo. Kalau Marlo ini bacaan Das Capital, tapi tontonannya sinetron seperti Cinta Fitri atau sinetron-sinetron Korea yang diputar salah satu stasiun televisi swasta. Ngereni Pokok-e.

Pembaca, baik Komelo maupun Marlo ini berangkat dari istilah, yang dalam fenomenologi Husserl disebut Erlebnisse (kehidupan subyektif dan batiniah). Ia akan menekankan pada intensional yang terdapat dalam kesadaran, sekaligus menampik segala praduga konseptual dari ilmu pengetahuan empiris (Sory kalau agak rumit, memang sengaja, biar terkesan ada muatan filosofis-nya). Nah, begini contohnya. Ketika penganut Komelo/Marlo ini mendengarkan lagu Darah Juang—lagu yang amat sohor dikalangan gerakan kiri di Indonesia—, ia menangis bukan karena syair lagu itu, tapi karena pengalaman subyektif dan batiniah yang pernah dilalui sepanjang hidupnya; ia teringat pada masa jaya sebagai aktivis kiri (rambut panjang, memegang poster, sambil teriak: naikkan upah 100%, referendum untuk rakyat Timor Leste; tentu saja sambil mengacungkan tangan kiri ke angkasa). Kenangan subyektif dan batiniah inilah yang membuat ia—meminjam istilah surat kabar yang saya baca—“tak kuasa menahan tetes air mata”. Ngereni, Dab.

Saya jadi teringat syair lagu Stinky:

Tetes air mata basahi pipiku

Di saat kita kan berpisah

Terucapkan janji padamu kasihku

Takkan kulupakan dirimu

Begitu beratnya kau lepas diriku

Sebut namaku jika kau rindukan aku

Aku akan datang

(Kasih dan dirimu syair tersebut=bayangan; bayangan pada masa keemasan. Yang bila dikenang akan membuat tetes air mata bahasi pipi. Oke. Salam untuk para penggemar Stinky yang ada di seantero Nusantara. Terima kasih masih bersama Radio Komelo di 94.95 FM. Mari untuk sejenak kita meneteskan air mata)

Biasanya, penganut Komelo/Marlo sudah berumur, hidup di kota besar seperti Jakarta dan tentu saja, gaul terhadap gadget. Mengapa sudah berumur? Sebetulnya ini perkembangan alamiah dalam proses hidup manusia. Ibu kita bisa jadi contoh. Tatkala menatap foto hitam putih anaknya waktu kecil, sang ibu meneteskan air mata di pinggir tempat tidur; setelah puas ia dekap foto itu erat-erat. Ia menangis karena hanya memiliki masa lalu. Tak mau dilepasnya masa yang telah lewat itu. Komelo/Marlo juga seperti itu. Saat berselancar di dunia maya dengan Ipad, Galaxy Tab atau BB, ia tak kuasa menahan air mata ketika melihat/membaca petani digebugin, aksi buruh ditembaki, pedagang kaki lima digusur, atau mahasiswa yang diinjak-injak polisi. Kemudian ia tebarkan berita yang menyayat batinnya itu lewat dunia maya pula; siapa tahu tahu ada orang lain yang memunyai perasaan duka nestapa yang sama dengan dirinya; atau, kesesakan batiniah itu ia tumpahkan di cafe sembari minum wine, membagi kesedihan dengan kawan-kawan seperjuangan sewaktu masih jaya dulu. Seraya bergumam: Negara sudah gawat, Bung. Revolusi harus kita mulai malam ini. Lho-lho, fenomenologi kok jadi ngomong revolusi nih. Sory, Dab, karena terlampau melow saya jadi kebablasan.

***

Selain varian Komelo/Marlo, fenomenologi juga memberikan terang dunia sehingga kesadaran saya tersingakapkan, bahwa telah muncul kaum Narodnik Melon di Indonesia. Sebelumnya saya dibuat demam ketika muncul perdebatan apakah menjebol pagar gedung DPR itu sesuai dengan hukum acara demonstrasi atau tidak. Untungnya, saya kemudian bertemu pakar fenomenologi Merleu-Ponty. Ia berpendapat, agar dialektika subjek-objek itu sahih, dialektika itu harus kabur. Nah, untuk mengaburkan itu perlu pagar. Sehingga, tatkala pagar itu dijebol, maka kekaburkan itu akan melenyap, dan dialektika menjadi tak sahih lagi. Oleh sebab itu, sesuai dengan intisari ajaran Pancasila, marilah kita bergotong royong untuk memperbaiki pagar yang roboh itu. Setelah itu, baru mengikuti jejak AA Navis yang menuliskan Robohnya Surau Kami; episode ini dalam sejarah kiri bisa ditulis dengan judul: Robohnya Pagar DPR Kami dan Percobaan Menjawabnya.

Nah, sekarang saya akan beralih pada kemunculan kaum Narodnik Melon. Sebuah berita online yang saya baca memberitakan, bahwa para petani di depan pagar DPR akan meledakkan gas melon apabila tuntutan aksi mereka tak ditemui. Sang pepimpin aksi—yang jelas bukan petani, melainkan borjuis kecil yang sedang naik daun sehingga dijuluki Che Guevara Indonesia oleh bobotoh alias pendukung Persib Bandung—memberikan ancaman sebagai berikut: “Jika kami jadi diusir, kami akan meledakan tempat ini, biar kami semua mati bersama di sini.” Tentu saja dengan menentang tabung gas melon 3 kg agar terkesan serius dengan ancamannya. Maka, tak salah kalau gerakan tani “gas melon” ini menandai munculnya kaum Narodnik Melon di Indonesia

Kata-kata Che Guevara Indonesia ini mengingatkan saya pada tokoh Bazarov dalam novel Father and Sons (Ayah dan Anak) karya Ivan Turgeniev. Salah satu dialog dalam novel tersebut terekam sebagai berikut: “Kita tidak punya apa-apa,” kata Bazarov, “untuk membual kecuali ilmu yang mandul untuk dapat memahami, sampai pada titik tertentu, tentang kemandulan yang ada.” Ia bertanya, “Itukah yang disebut nihilisme?”; “Ya, itulah yang disebut nihlisme.”  Kata-kata itu memberikan inspirasi pada Pisarev—tokoh nihilis dari Rusia sono. Ia bertanya pada dirinya sendiri (menurut Camus tanpa tersenyum sih), apakah ia membenarkan kalau membunuh ibunya sendiri; ia menjawab: “Kenapa tidak jika aku memang ingin melakukannnya dan jika aku tahu itu berguna?” Di sinilah, ketika nanti kaum Narodnik Melon benar-benar melakukan ancamannya—tentu  yang melakukan pertama kali peledakan itu sang pemimpin aksi, agar gelar Che Guevara Indonesia bisa ditasbihkan dengan gas melon—maka tak perlu bersedih.

Upaya kaum Narodnik Melon melakukann ancaman akan meledakkan gas melon, digambarkan oleh Camus sebagai:“…yang dikecewakan oleh cinta, disatukan untuk menentang kejahatan yang dilakukan oleh tuan-tuan mereka, tetapi terpencil dan menyendiri dalam keputusasaan, mereka berhadapan dengan kontradiksi-kontradiksi mereka yang hanya bisa diselesaikan dalam pengorbanan ganda atas kesucian dan hidup mereka.” Maka tak perlu heran kalau sang Che Guevara Indonesia dalam kata-katanya menyampaikan—tanpa senyum seperti Pisarev: “Sudah lima kali kami diusir,  namun kami tidak gentar dan akan terus melakukan perlawanan meskipun harus mati, ini sudah kemauan warga.” Ia mengatakan begitu, karena—menyederhanakan bahasa Camus yang saya kutip tadi—sedang kesurupan.

Kaum Narodnik sudah sejak nenek moyangnya memang menggelikan, apalagi Narodnik Melon. Dalam menjawab konflik yang terjadi antara petani dan para kulak, borjuis kecil ini menerima wahyu, bahwa masyarakat kapitalisme bukan keharusan sebagai akibat kemajuan corak produksi. Oleh sebab itu, kapitalisme bisa dilangkahi dengan membentuk komune desa. Sebagai tulang punggung untuk mewujudkan wahyu tersebut adalah kaum tani. Akan tapi, sekaligus mereka tak percaya bahwa kaum tani bisa menuntaskan revolusi. Di sinilah diperlukan Che Guevara ala Indonesia sebagai pahlawan dengan senjata gas melon (yang cocok sebanrnya bukan Che Guevara, Chegalon: Che Gas Melon): individu yang luar biasa, yang akan memimpin kaum tani menuju revolusi. Ngereni tho, Mas Bro?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s