SENI DAN REALITAS

Oleh: Anastasia Jessica A.S.*

Perdebatan mengenai hubungan seni dan realitas telah berlangsung dari masa ke masa sejak zaman Plato. Ada tiga golongan besar pendapat mengenai keterkaitan seni dan realitas: 1) seni merupakan imitasi atau tiruan dari realitas; 2) seni merupakan penyempurnaan dari realitas; 3) seni sama sekali terpisah dari realitas. sebelum membahas mengenai perdebatan tersebut, terlebih dahulu penulis kemukakan mengenai definisi dari seni dan realitas. Seni alias kunst, dalam kamus Belanda-Melayu susunan Klinkert, mempunyai pengertian hikmat,ilmu, pengetahuan, kepandaian, ketukangan. Pengertian ini sesuai dengan kata art dalam bahasa Inggris yang berarti skill in making or doing yang ditulis dalam ‘Art an The Arts’, The World Book Encyclopedia. Seni di sini lebih menunjuk kepada perbuatan atau ketrampilan, bukan pengetahuan (Sumarjo, 2000: 42). Pengertian seni seperti ini nampak sejalan dengan asal kata art dalam bahasa Yunani yaitu techne yang berarti ketrampilan.

Istilah realitas diperkenalkan ke dalam filsafat pada abad ke 13, oleh Duns Scotus, yang menggunakan istilah itu sebagai sinonim being (yang –ada, pengada). Realitas mencakup baik apa yang bereksistensi maupun yang bersubsistensi (misalnya kemungkinan-kemungkinan). Ada beberapa pengertian realitas, dalam Kamus Filsafat oleh Lorens Bagus, antara lain: segala sesuatu yang ada; jumlah seluruh semua yang ada; alam semesta; keadaan atau kualitas sesuatu yang real, atau benar-benar ada, mencakup segala sesuatu yang ada (Bagus,1996:937).

Diskursus hubungan seni dan realitas

Sejarah diskursus mengenai hubungan seni dan realitas, sebagaimana dikemukakan di atas,  sudah dimulai sejak Plato. Plato, menyatakan bahwa seni ialah mimesis atau tiruan realitas. Sedangkan, realitas tersebut merupakan tiruan dari dunia ide. Karya seni merupakan tiruan dari tiruan. Pematung, misalnya, ia membuat patung penggembala kerbau, maka ia hanya meniru penggembala kerbau di dunia nyata, dan penggembala kerbau dalam dunia nyata tersebut hanya merupakan copy dari dunia ide (Ratna, 2007:  26).

Teori imitasi yang dianut secara kaku dan tanpa kompromi, memandang daya spontanitas sebagai faktor perusak dan bukannya faktor pembangun. Spontanitas dianggap sebagai ‘penyesatan’ terhadap wujud murni benda-benda. (Cassirer, 1987: 210).

Aristoteles, berbeda dengan Plato, menyebutkan bahwa seni merupakan penyempurnaan dari realitas. Seniman mempunyai tugas untuk menciptakan karya seni yang mengatasi realitas. (Ratna, 2007:  26). Misalnya, pemandangan gunung dan sawah semakin indah ketika telah disempurnakan pelukisnya di atas kanvas.

Perdebatan antara mimesis (seni merupakan tiruan realitas) dengan creatio (seni merupakan ekspresi manusia) belum berakhir. Di Barat, hubungan antara seni dengan realitas merupakan masalah aktual sepanjang masa. Pada Abad pertengahan, karya seni harus meniru alam, manusia harus meneladani ciptaan Tuhan. Keindahan yang dihasilkan manusia meskipun berwujud berbeda-beda tetapi merupakan penjelmaan ‘Yang Esa’.  Sekitar abad ke-18 konsep karya seni sebagai peniruan alam mulai ditinggalkan. Subjek kreator dipahamai sebagai pencipta mutlak. Tokoh penting zaman ini ialah Jean Jacques Rosseau dengan bukunya Les Confession. Rosseau menempatkan manusia sebagai subjek yang hanya patuh pada hukumnya sendiri, sehingga manusia sebagai yang memiliki pengalaman total, melalui imajinasinya berhasil untuk membayangkan segala sesuatu. Puncak kompetensi individu sebagai subjek creator terjadi abad ke-19, yang dikenal sebagai Abad Romantik, dengan genre dominan adalah puisi lirik. Seni mencoba dipisahkan dari realitas (Ratna, 2007: 28).

Teori mimesis kemudian muncul lagi di abad ke 19, sebagai counter dari ‘seni yang selalu merupakan ekspresi pribadi’, muncullah aliran realisme dan naturalisme. Realisme menyatakan bahwa seni itu cermin dari realitas, atau cermin dari masyarakat. Sedangkan kaum naturalisme, menganjurkan bahwa para seniman bekerja berdasarkan sikap ilmiah. Sebuah karya seni harus dimulai dengan kerja observasi dan eksperimen. Imajinasi sama sekali tidak dibutuhkan. Kaum naturalis jelas menolak kaidah seni Aristoteles yang menekankan karakteristik general dan universal dalam setiap karya seni. Kaum naturalis menekankan perlunya representasi konkret dan individual-partikular dalam karya seni (Sumarjo, 2000: 130-131).

George Lukács, mencatat bahwa kemunculan realisme abad ke-19 ini merupakan penerus ajaran Plato ‘seni sebagai mimesis’. Menurut Lukács, perkembangan sastra realis dipengaruhi oleh pemahaman yang berubah terhadap sejarah.  Sejarah sebelumnya dipandang sebagai suatu perubahan yang tetap dan alamiah. Kemudian terjadi perubahan, sejarah menjadi dipahami sebagai sesuatu yang arah geraknya dapat ditentukan oleh manusia. Manusia mampu menentukan arah dari gerak sejarah. Berdasarkan pemahaman baru terhadap sejarah tersebut, lahirlah aliran seni realisme sosialis. Realisme sosialis lahir untuk menempatkan kaum lemah (proletar, dalam bahasa marxis) sebagai manusia-manusia penggerak dan penentu arah sejarah. Dengan demikian, aliran ini bersebrangan dengan tradisi realisme sebelumnya yang lebih memihak golongan penguasa (atau borjuis) yang sering disebut dengan nama realisme borjuis (Kurniawan, 1999: 12).

Diskursus mengenai hubungan seni dan realitas terus berlanjut. Sekolah Frankfurt di paruh terakhir abad 19 menangkap terjadinya krisis kultural yang disebabkan kegagalan karya seni memainkan posisi kritis. Karya seni, menurut mazhab Frankfurt, sebagaimana filsafat terlempar dalam dua jebakan. Jika filsafat terpecah ke dalam ilusi alternatif yang dibuat Heidegger sehingga menjadi filsafat yang serba abstrak dan ke dalam positivistik, demikian juga yang terjadi dalam seni, ia terlempar ke dalam dua jebakan yang berbeda dari filsafat tapi memiliki substansi yang sama. Jebakan pertama, pararel dengan gagasan abstraksi Heidegger, konsep estetis mempunyai akar-akar sebagai abstraksi penuh dan terasing dari dunia riil. Horkheimer mengamati bahwa di zaman modern keindahan seni patung dan lukis dipisahkan dari tata kota dan arsitektur. Ini menggambarkan bahwa keindahan seni merupakan sesuatu yang independen, terlepas dari ketakutan dan kecemasan masyarakat. Estetika menjadi sesuatu yang seakan hadir dalam ruang vakum. Konsep ‘seni untuk seni’ atau  art for art’s sake, menurut analisis Sekolah Frankfurt, lahir dari gagasan modern mengenai individuasi, yang tidak lain muncul dari ontologi Heidegger. Konsep ini mengisolasi karya seni dari konteks sosial-historis. Jebakan kedua, pararel dengan filsafat yang terjebak dalam postivisme, karya seni terjebak harus identik dengan realitas dunia itu sendiri. Proses diaklektis antara karya seni dan realitas tidak berlangsung lagi. Karya seni hanya mengafirmasi realitas yang ada, kehilangan kemampuan untuk menempatkan diri dalam posisi kritisnya. Peranan dan fungsi karya seni di sini ialah hanya memproduksi kembali realitas secara terus-menerus. Seni terjebak dalam baik ultrarealisme ala Zhdanov dari kubu sosialis, atau ultrarealisme ala Warhol dari kubu kapitalis. Di tengah perdebatan antara abstraksionisme dan ultrarealisme yang satu sama lain mengklaim dirinya yang paling benar, Sekolah Frankfurt membangun idealisme untuk menciptakan kembali momen-momen historis di mana seni mampu mengatasi segala kemandulan tadi dan kembali bersikap kritis (Soetomo, 2003: 14-15).

Chernyshevsky: The Aesthetic Relations of Art to Reality

Nikolai Gavrilovich Chernyshevsky (1828-1889) ialah seorang wartawan radikal Rusia, penulis, kritikus sastra, dan pemikir. Ia adalah anak seorang imam ortodoks. Chernyshevsky menjalani pendidikan seminari teologi di Saratov dari 1842 – 1845. Tahun 1850 ia lulus dari Departemen Sejarah dan Filolofi Universitas St. Petersburg.

Chernyshevsky merasa tidak puas dengan hanya melakukan pekerjaan wartawan, ia mencoba untuk meneruskan karir akademik dan menyiapkan disertasinya, “The Aesthetic Relations of Art to Reality”(1855). Disertasi ini menyajikan sebuah doktrin mengenai keunggulan realitas di atas seni. Dia percaya bahwa tidak ada yang bisa lebih indah daripada yang ada dalam realitas; sebagaiman ia menulis, “Keindahan adalah kehidupan.” Menurut Chernyshevsky, seni harus menjadi ‘rujukan dari kehidupan’. “Dia menolak pendirian “art for art’s sake” atau  “seni demi seni “. Disertasi tersebut secara menyeluruh menolak asas-asas estetika idealistik Hegel. Kritik terbuka tehadap idealisme dan pembelaan terhadap materialisme di Rusia saat itu, tidak dimungkinkan karena terjadi sensor yang sangat ketat.

Pemikiran Chernyshevsky merupakan kritik atas sistem estetika Hegel yang berpendapat bahwa ’ide berkuasa atas bentuk’.  Chernyshevsky menolak definisi-definisi yang berlaku pada saat itu, yang meletakkan gagasan mengenai keindahan, kesubliman, dan ketragisan hanya dalam imajinasi kita. Bagi Chernyshevsky, semua gagasan tersebut benar-benar ada dalam alam dan dalam kehidupan manusia (Chernyshevsky, 2005: 151). Chernyshevsky, oleh karena itu, menyatakan bahwa ruang lingkup seni mencakup segala sesuatu dalam kehidupan dan alam yang menjadi perhatian manusia (Chernyshevsky, 2005: 145).

Seorang seniman, lebih lanjut menurut Chernyshevky, tidak hanya sekedar mereproduksi gejala alam tapi juga berpikir dan memberi penilaian atasnya. Seorang seniman juga menjadi seorang pemikir dan sebagai tambahan pada jasa artistikalnya, karyanya memperoleh suatu makna penting yang lebih tinggi, yakni makna penting ilmiah (Chernyshevsky, 2005: 147).

Demikian Chernyshevsky kemudian memperoleh pandangan mengenai tujuan hakikat seni. Tujuan hakikat seni ialah memproduksi segala sesuatu dalam kehidupan yang penting bagi manusia. Chernyshevsky menggambarkan hubungan seni dengan realitas ialah sama dengan hubungan sejarah dengan kehidupan;

”satu-satunya perbedaan dalam isi ialah bahwa sejarah berbicara mengenai kehidupan sosial, sedangkan seni berbicara mengenai kehidupan seseorang. Fungsi pertama sejarah ialah melukiskan masa lalu. Yang kedua, ialah menyatakan penilaian atasnya, walaupun fungsi ini banyak tidak dilakukan ahli sejarah. Dengan gagal melaksanakan fungsi kedua, ahli sejarah tersebut cuma menjadi seorang pencatat peristiwa dan menyediakan bahan bagi ahli sejarah sejati, atau sebagai bahan bacaan untuk memuaskan keingintahuan. Demikian juga dalam seni, ketika seniman hanya membatasi dirinya pada reproduksi gejala-gejala kehidupan, seniman memuaskan keingitahuan kita atau merangsang kenangan-kenangan kita mengenai kehidupan. Namun jika bersamaan dengan itu seniman menjelaskan dan menyatakan penilaian-penilaian atas gejala-gejala yang direproduksi tersebut, maka ia menjadi seorang pemikir yang memiliki kontribusi selain jasa artistikalnya juga makna penting bagi bidang ilmiah (Chernyshevsky, 2005: hal 146-147).

Bagi Chernyshevsky, seorang seniman tidak hanya meng-imitasi realitas tapi juga memberi pemaknaan terhadapnya. Cara kerja seniman tersebut dianalogikan Chernyshevsky seperti cara kerja ilmu sejarah kritis, yang tidak hanya memaparkan masa lalu, tapi juga memberikan analisis terhadapnya.

Kebutuhan yang melahirkan seni dianalogikan oleh Chernyshevsky dalam seni lukis potret. Potret-potret dibuat bukan untuk melengkapi kekurangan-kekurangan ciri orang sehingga memuaskan diri kita. Potret-potret dibuat untuk membantu kita mengingat orang yang hidup itu ketika ia tidak berada di hadapan kita dan untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang belum sempat melihat, suatu ide tentang bagaimanakah gerangan orang itu. Seni melalui reproduksi-reproduksinya, hanya mengingatkan kita tentang aspek penting dalam kehidupan bagi kita dan berusaha hingga suatu batas tertentu memperkenalkan kepada kita aspek-aspek penting dari kehidupan yang tidak sempat kita alami atau lihat dalam realitas. (Chernyshevsky, 2005: 121).

Chernyshevsky tidak mengusung realisme dalam pengertian gaya artistik modern standar yang ditandai oleh kesetiaan kepada suatu realitas yang ada. Seniman, bagi Chernyshevsky, bukanlah berarti cermin realitas pasif, atau penyedia konten netral. Seniman mulanya harus memilih fitur kemanusiaan yang relevan dari dunia yang direproduksi. Fitur tersebut, bagi Chernyshevsky, ialah yang memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan nyata manusia. Seniman yang baik, kemudian, akan merepresentasikan fitur tersebut sedemikian rupa sehingga dapat menjelaskan makna kepada orang lain. Seniman yang baik juga akan memberikan penilaian pada bahan itu, mengusulkan solusi untuk masalah yang dihadapi dalam realitas yang digambarkan dan mungkin menyajikan alternatif yang lebih baik sebagai model. Pendekatan realisme Chernyshevsky yang demikian mungkin disebut realisme isi tapi bukan realisme bentuk (Scanlan, 1985:11-12).

Inti dari konsepsi Chernyshevsky bukanlah bahwa seni adalah tiruan dari kenyataan sebagaimana dicontohkan Chernyshevky yaitu pemandangan laut bukanlah pengganti untuk laut. Seni ialah panggilan sosial. Poin penting untuk Chernyshevsky adalah bahwa seni bukanlah permainan individu atau hiburan dan bukan cara untuk menunjukkan keahlian. Seni melayani tujuan yang berdasar untuk membantu memenuhi kebutuhan nyata manusia dalam konteks sosial. Seniman, untuk melakukan tersebut, tentu saja harus mengenal situasi aktual di mana kebutuhan tersebut didefinisikan dan titik kepuasan mana yang telah dan belum tercapai. Pekerjaan seniman belum selesai, lebih lanjut, seniman juga mengajarkan manusia untuk memahami dan untuk memperbaiki situasi tersebut (Scanlan, 1985:12).

Kesulitan yang dihadapi teori estetika Chernyshevsky ialah sama dengan kesulitan teoritis yang dihadapi Realisme sosialis hari ini. Istilah ‘realisme’ tidak tepat diterapkan dalam keduanya. Teori estetika Chernyshevsky, namun demikian, tetap berbeda dengan realisme sosialis (pada umumnya). Teori estetika Chernyshevsky menekankan pada pemilihan, penjelasan dan evaluasi realitas yang semuanya diarahkan untuk tujuan sosial sedangkan Realisme sosialis yang terbebani oleh indentifikasi spesifik dari ideologi Komunis dan tirani Stalinis. Masalah dari dua pandangan ini pada tingkat teoritis adalah identik. Chernyshevsky, dalam menganalogikan seni dengan sains dan sejarah, tidak menyediakan analisis riil apa yang digunakan untuk membedakan seni─ apa yang membedakan wawasan dan kreativitas seniman dengan “pemikir”. Teori estetika Chernyshevsky juga realisme sosial fokus pada kehidupan masyarakat dan dengan demikian mengabaikan wilayah pengalaman estetik masing-masing.  Keduanya juga memungkinkan seni dikenakan sanksi atau dihukum berdasarkan kriteria non-estetika─kriteria kebutuhan sosial (Scanlan, 1985:12-13).

Teori Chernyshevsky memiliki bahaya yang hampir sama dengan yang terjadi pada Realisme Sosialis di saat “semangat partai” (partignost) merasuki segala bidang termasuk budaya. Seni menjadi tunduk kepada kepentingan-kepentingan partai. Teori Chernyshevsky, di tangan tirani itu sendiri, dapat saja digunakan untuk membenarkan dan mendukung penindasan bukan untuk melayani kebutuhan masyarakat yang sesungguhnya, dan dengan demikian dapat melenceng dari tujuan awalnya (Scanlan, 1985:13). Oleh karena itu, dialektika dalam penciptaan hendaknya terus dicari agar teori ini tidak terjebak mengabdi kepada kepentingan penguasa yang menindas kaum lemah.***

 

*Penulis adalah alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada

 

DAFTAR PUSTAKA

Arvon, Henri,  2010, Estetika Marxis, Terjemahan: Ikramullah, Resist Book, Yogyakarta.

Adam, Asvi Warman, 2009, Membongkar Manipulasi Sejarah, Kontroversi Pelaku dan Peristiwa, Penerbit Kompas, Jakarta.

Bagus, Lorens, 1996, Kamus Filsafat, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Bakker, Anton dan Charis Zubair, 1990, Metodologi Penelitian Filsafat, Kanisius, Jogjakarta.

Chernyshevsky, N.G, 2005, Hubungan Estetik Seni dengan Realitas (The Aesthetic Relation of Art to Reality), Terjemahan : Samanjaya, Bandung, Ultimus.

Cassirer, Ernest, 1987,  Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia. Terjemahan: Alois A. Nugroho, PT Gramedia, Jakarta.

Djokosujatno, Apsanti, 2002, Novel Sejarah Indonesia: Konvensi, Bentuk, Warna dan Pengarangnya dalam Makara, Jurnal Sosial Humaniora, Vol. 6, No. 1, Juni.

Fic, M. Victor, 2004, Kudeta 1 Oktober 1965, Sebuah Studi tentang Konspirasi. Terjemahan: Rahman Zainuddin, Bernard Hidayat, Masri Maris, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Gie, The Liang, 1996, Filsafat Seni, Sebuah Pengantar. Pusat Belajar Ilmu Berguna (PUBIB), Yogyakarta.

Kurniawan, Eka, 1999,  Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, Yayasan Aksara Indonesia, Yogyakarta.

Langer, Suzzane K, 2006,  Problematika Seni, Terjemahan: FX. Widaryanto,  Sunan Ambu Press, STSI Bandung.

Liu, Hong, 1995, Pramoedya Ananta Toer And China: The Transformation Of A Cultural Intellectual (expanded version of a chapter from doctoral dissertation, “‘The China Metaphor’: Indonesian Intellectuals and the PRC, 1949-1965”), Ohio University, Ohio.

Millar, James R, editor in chief, 2004, Encyclopedia of Russian History, Macmillan Reference USA, USA.

Miller, Stephen, 1994,  Pramoedya Ananta Toer and Literary Politics in Indonesia 1962 – 1965 (a Thesis for degree of Bachelor of Arts (Asian Studies)(Honours), Centre for Southeast Asian Studies Faculty of Asian Studies the Australian National University, Australia.

Mrazek, Rudolf, 2000, Pramoedya Ananta Toer dan Kenangan Buru, Terjemahan:Endi Haryono, Penerbit Cermin, Yogyakarta.

Pohoral, Georgine Barbara, 1980, The Philosophical Ideas of  N.G. Chernyshevsky ( A Thesis for a degree of Master of Art), University of British Columbia, Columbia.

Scanlan, James P, 1985,  Nikolaj Chernyshevsky and the Philosophy of Realism in Nineteenth-Century Russian Aesthetics dalam Studies in Soviet Thought, Vol. 30, No. 1 Juli.

Soemardjo, Jacob, 2000, Filsafat Seni, Penerbit ITB, Bandung.

Teeuw, A, 1997, Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer,

                                   PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.

Toer, Pramoedya Ananta, 2006,  Arok Dedes, Lentera Dipantara, Jakarta.

_____________________, 1992, Ma’af: Atas Nama Pengalaman dalam Majalah Progres, No. 2.

_____________________, 1995, Sastra, Sensor, dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan? (Pidato tertulis Pramoedya, yang disampaikan ketika menerima ia penghargaan Magsaysay, di Manila).

_____________________, 2000, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (Catatan-catatan dari P. Buru), Hasta Mitra, Jakarta.

Ratna, Nyoman Kutha, 2007, Estetika Sastra dan Budaya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Soetomo, Greg, 2003, Krisis Seni Krisis Kesadaran, Kanisius, Yogyakarta.

Wardaya, Baskara T., 2009, Membongkar Supersemar, Dari CIA Hingga Kudeta Merangkak Melawan Bung Karno, Penerbit Galangpress, Yogyakarta.

Wieringa, Saskia Eleonora, 1999, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Terjemahan: Hesri Setiawan. Garba Budaya, Jakarta.

Yoesoef, M. 2002. Kisah Mangir di Tangan Pramoedya Ananta Toer. Universitas Indonesia, Jakarta.

One response to “SENI DAN REALITAS

  1. like this… smg tulisanku bisa sgr menyusul. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s