DRUPADI BERBURU SENJA

Oleh: Ragil Nugroho

Cerita Pendek

*Drupadi[1]


Senja selalu membuatku ceria. Warnanya yang meremang tembaga mampu mengusir duka dan melupakan takdirku yang merencam. Setiap hari aku akan pergi ke tepi pantai; entah itu Parangtritis, Kuta, Perigi, Ancol, Losari, Sanur, Anyer, Natsepa atau pantai yang lain. Di tempat itu senja membentang tak terhalang gedung-gedung yang berdiri kaku atau asap kendaraan yang membuat langit menjadi kelabu. Di tempat itu mataku akan bebas mencerap cahaya senja hingga hilang di batas malam.

Sambil menatap senja, aku melakukan hal serupa yang dilakukan Seno Gumira: membayangkan hidup di negeri senja.[2] Kubayangkan diriku melompat dari satu pulau senja ke pulau senja yang lain. Seolah memiliki sayap, aku menjelajahi pulau-pulau yang selalu tersepuh warna tembaga itu. Ah, alangkah indahnya. Apa yang lebih indah dari kebebasan selain bisa memilih sesuka hati.

Senja membuatku bisa melupakan tiga laki-laki brengsek dalam hidupku. Takdir ini memang tak terelakkan. Di saat para perempuan selalu terbelenggu cemas memikirkan suaminya yang mungkin berada dalam pelukan perempuan lain, diriku justru sebaliknya. Aku mempunyai tiga laki-laki sekaligus. Ada tiga bilik cinta di hatiku. Aneh memang. Tapi itulah guratan hidup yang kualami.

Dulu kukira dengan tiga cinta akan membuat bahagia. Aku pun berpikir dengan cara ini bisa melampiaskan dendam anak turunan Hawa yang sering diperlakukan tak adil oleh laki-laki. Tapi kenyataan tak seperti yang kubayangkan. Kenyataan telah menampar kedunguanku. Laki-laki sama saja. Mereka hanya mengejar kepuasaan untuk menggapai kekuasaan; kekuasaan menguasai perempuan. Setelah itu, tak segan mereka akan mencampakkannya; persis mencampakkan pakaian bekas dalam keranjang sampah setelah puas dipakai.

***

Sejak kecil aku sadar saat anak-anak seusiaku berteriak girang ketika ada seorang laki-laki yang datang dengan panggilan “ayah”, sebaliknya aku tak pernah mengucapkan panggilan itu. Tak pernah sekalipun. Di rumahku hanya ada Bunda. Tak ada Ayah. Ia seorang diri membesarkanku. Merawatku dengan kasih sayang dan air matanya. Pernah dengan lugu kutanyakan pada Bunda mengapa tidak ada Ayah di rumah ini? Mengapa Upik, Menik, Monik, Arya dan Devon punya ayah di rumahnya, mengapa Arin tidak? Bunda tak pernah memberikan jawaban. Ia hanya mendekapku erat. Dan setelah itu, air mata pasti akan membasahi pipinya. Semakin dewasa, aku tak pernah bertanya-tanya lagi pada Bunda. Aku tak mau hidupnya semakin merana.

Tak pernah mengenal Ayah membuatku dengan mudah menerima cinta Dance. Saat itu, aku sungguh-sungguh bahagia. Usia yang telah setengah abad membuat sosoknya tampak matang di mataku. Ia benar-benar lelaki sempurna dalam penglihatanku; ideal menjadi ayah sekaligus pendamping hidup. Tak kulihat ada setitik noda dalam dirinya. Waktu itu, aku sempat mengira dialah laki-laki suci yang diturunkan Tuhan dari surga; laki-laki yang datang untuk membasuh lukaku. Maka demi lelaki ini aku rela melepas kerudungku, yang kupakai demi mematuhi kata-kata Bunda agar rambutku tersembunyi dari tatapan mata liar laki-laki. Kalau aku rela melepas kerudungku, itu artinya aku rela melepas semua pakaian yang menempel di tubuhku. Dan memang itulah yang kulakukan di hadapan Dance.

Cinta memang buta. Itulah yang kualami. Ketika cinta sedang mekar-mekarnya di usiaku yang masih 21 tahun, aku tak peduli kalau Dance telah menjadi milik perempuan lain. Aku tak hirau dengan dua anak Dance, Kirmizi dan Karang. Kubiarkan kedua anak itu menunggu Ayah mereka pulang ke rumah tatkala senja telah meremang. Kubiarkan mereka tidur tanpa terlebih dahulu mendengarkan dongeng-dongeng sang Ayah. Entah apa yang menguasai diriku waktu itu. Aku telah tega merampas kebahagiaan anak-anak tak berdosa itu demi kebahagianku. Aku hempaskan bahagia masa kecil mereka ke jurang kehancuran. Aku tahu, anak-anak itu pasti akan bertanya pada bundanya kenapa Ayah tak pulang padahal malam telah menjelang. Berhari-hari pertanyaan mereka akan berulang. Mendapat pertanyaan itu, si Bunda pastilah akan seperti bundaku; mendekap erat anak-anaknya sembari meneteskan air mata. Dan persis sepertiku, anak-anak itu tentu tak tahu kenapa bundanya tak bisa berhenti menangis.

Naluriku memang telah tergadaikan. Waktu itu, apapun yang terjadi, aku telah membulatkan tekad untuk mengarungi hidup bersama Dance. Rentang usia tak mampu memisahkan cinta kami. Seperti kumbang dan bunga, kami saling mengisi. Sebagai muda, aku belajar banyak pada Dance yang telah makan garam kehidupan. Salah satunya aku belajar membuat film dokumenter.

Pada masa-masa ini cinta kami begitu membara di hotel yang mewah. Kami bekerjasama membuat film yang akan dikenang sepanjang masa; seperti halnya kisah Romeo dan Juliet. Dan akhirnya kami berhasil. Sebuah film selesai kami buat. Kami memberinya judul Kado Buat Istri. Ya, sebuah film dokumenter tentang suami yang memberikan kado istimewa pada istrinya. Kado itu berupa kabar bahwa si suami telah memiliki perempuan lain yang usianya masih belia. Di luar dugaan kami, film ini mendapat sambutan yang luar biasa di berbagai festival. Kritikus film menobatkan kami sebagai sineas berbakat yang peka terhadap zaman dan berani menertawakan diri sendiri. Kami pun melambung ke awan. Terbang melayang-layang. Akhirnya, kerja keras kami dihargai.

Tapi, apakah semua itu membuatku bahagia?

Tidak! Semua memang indah pada awalnya, namun seiring waktu keindahan itu  sirna. Wajah-wajah murung anak-anak Dance, karena Ayah mereka tak pernah pulang, selalu menghantuiku. Aku bisa merasakan pendiritaan mereka. Aku pernah mengalaminya. Naluriku pun menggugat. Pendirianku luruh. Maka kuijinkan Dance membagi cinta dengan anak-anaknya. Tiga hari ia bersamaku, empat hari ia bersama keluarganya. Dengan begitu aku merasa sedikit terbebas dari beban jiwa yang menggodam rasa.

***

Semuanya berjalan lancar hingga aku sadar kalau separuh ranjangku kosong. Selama empat hari ranjang yang kosong itu hanya ditempati bantal dan guling. Tak ada dekapan lelaki yang membuatku tenang. Terus terang aku mulai kesepian. Tiga hari ternyata tak cukup bagiku. Aku ingin memiliki tujuh hari dalam hidupku. Di saat pusaran sepi membelenggu jiwa, datanglah lelaki muda membawa cintanya. Aku langsung menerimanya. Lelaki itu bernama Dom.

Dom masih muda, seuisaku. Penuh energi dan selalu optimis. Seperti awal melihat Dancebegitulah penilaianku ketika melihat Dom: lelaki sempurna. Cinta kami bersemi, mengebu-gebu. Aku pun tak mau tahu kalau dia sudah mempunyai tunangan di kampungnya. Aku tak peduli apakah tunangannya itu akan menderaskan air mata karena kekasihnya tak ada kabar berita. Persetan dengan semua itu. Yang terpenting separuh ranjangku kini ada yang mengisi kalau Dance tak datang.

Cinta antara diriku dan Dom begitu membara. Semua itu membuatku yakin kalau akan abadi. Setiap hari ia akan menyirami cinta kami dengan puisi cinta buah karyanya; baru kuketahui kemudian kalau puisi-puisi itu ternyata saduran puisi Pablo Neruda, aku ditipunya. Tapi semua itu hanya impianku. Harapan yang mengantang di awan. Cinta itu akhirnya pupus juga.

Semuanya bermula ketika tunangan Dom datang untuk menuntut jawab. Aku pun menuntut Dom memilih. Tapi dia justru hanya bisa menangis dan menangis. Tak kuduga kalau ia lelaki cengeng, tak punya pendirian. Kukatakan padanya aku tak butuh air mata. Itulah untuk pertama kalinya seumur hidup aku menyesal. Ternyata aku telah berbagi cinta dengan lelaki tak bertulang punggung. Lelaki yang tak berani menatap kenyataan di depannya. Lelaki yang tak berani mengatakan aku akan memilih. Aku benar-benar kecewa! Semua kekagumanku ketika melihatnya begitu gagah memimpin para buruh turun ke jalan sirna setelah mengetahui jiwanya yang kerdil. Aneh memang, orang secengeng itu dipilih menjadi pemimpin kaum buruh. Rasa muakku semakin bertambah setelah kuketahui ia meniduri istri sahabatnya sendiri. Sungguh ingin muntah kalau ingat wajahnya. Ingin kuberaki wajahnya!

Rasa kecewa yang menumpuk itulah yang membuatku jatuh pada dekapan Firman. Ia lelaki yang selalu muram; seolah mendung selalu mengelayuti matanya. Memang kemuraman itu yang kucari. Terus terang aku tak pernah mencintai lelaki ini. Aku hanya butuh teman untuk membagi duka dan derita. Sambil menyesap ganja, kami membayangkan diri menjadi Chaves di Venezuela atau Evo Morales di Bolivia. Kami seolah-olah berpidato di boulevard yang dipenuhi dengan massa; menyampaikan kabar gembira kalau penindasan itu telah sirna. Begitulah hari-hari kami, menjemur impian di siang hari.

***

Namun kini aku telah tumbuh jauh lebih matang. Kuputuskan untuk meninggalkan ketiga lelaki itu. Tak ada gunanya hidup dengan mereka. Seolah hanya menumpuk derita demi derita.

Setelah merasa terbebas, aku pun ingin kembali ke masa kecil; duduk di tepi pantai menunggu senja datang. Saat langit mulai keperak-perakan dan air laut tersepuh jingga, itulah saat bahagia hadir dalam hatiku. Masih terngiang kata Bunda, bahwa ayahku akan datang dari balik senja membawa bunga untukku. Maka tak pernah kulewatkan senja datang.

Ayah memang tak pernah datang. Tapi aku tetap senang dengan senja. Ah, andai saja Seno Gumira[3] mau menyerahkan sepotong senja itu untukku, tentu aku semakin bahagia; apalagi kalau di sepotong senja itu ada wajah Ayah yang tersenyum padaku.

Aku masih berharap Ayah akan datang. Setiap senja meremang kutunggu kedatangan Ayah. Suatu saat, kalau Ayah datang aku akan mengadu padanya, “Ayah, akulah Drupadi yang memburu senja karena Pandawa tak bisa membuatku bahagia.”

Sayang, sampai kini aku tak tahu siapa ayahku. Bundaku seorang pelacur yang telah melayani lusinan laki-laki.***

Lereng Merapi

Catatan:


[1] Istri Pandawa. Ia perempuan yang memiliki lima suami.

[2] Novel Seno Gumira berjudul “Negeri Senja”.

[3] Cerpen Seno Gumira berjudul “Sepotong Senja untuk Kekasihku”.

2 responses to “DRUPADI BERBURU SENJA

  1. Ini cerpen, atau artikel?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s