SATU PENGGALAN PERJALANAN EPISTEMOLOGIS SAYA

Oleh: Harsa Pemata*

Sebagai  anak yang dibesarkan dalam keluarga dan masyarakat yang empirisis, pragmatis, religious, dan naturalis saya sedikit banyak dipengaruhi oleh pandangan empiris, naturalis dalam melihat dunia. Masyarakat minangkabau adalah masyarakat yang memiliki pandangan “alam takambang jadi guru”, yang berarti belajar dari alam, dan untuk itu caranya harus lewat mengalami langsung, dan menghayati gejala-gejala alam.

Ayah saya adalah seorang dokter yang sama sekali tidak percaya hal-hal yang berbau mistis dan takhayul. Ia dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi Muhammadiyah perkotaan yang kental, tradisi dengan pola berpikir yang logis, rasionalis, dan modern, akan tetapi masih memelihara tradisi puritan. Sementara Ibu saya adalah seorang bidan, yang memiliki pandangan hidup eklektis, yaitu gabungan antara rasionalisme, empirisisme, dan sedikit mistisisme, pengaruh dari budaya tradisional pedesaan.

Kalau berdialog dengan ayah, ibu, dan adik-adik maka terlihat sekali pola berpikir logis dan empiris yang mereka miliki. Misalnya kalau saya menyampaikan suatu hal yang terkait dengan peristiwa atau pendapat, maka mereka pasti akan bertanya, “Dari mana kamu tahu? Apakah kamu lihat langsung?” Dalam beberapa hal keluarga saya sangat kritis, terutama ketika menyikapi pendapat tentang fakta-fakta yang berkembang.

Pandangan kritis ini terlihat jelas ketika mengomentari hal-hal yang berbau mistis, seperti makhluk halus, santet, dan hal-hal mistis lainnya. Ayah saya akan menolak dengan tegas, ketika kita mulai membicarakan makhluk halus, atau santet, ia akan berkata “Tidak ada hal-hal yang seperti itu.” Ia sangat empirik dan naturalis, juga sekaligus seorang muslim yang taat.

Pandangan hidup keluarga, dan masyarakat tempat saya dibesarkan inilah yang kemudian sedikit banyak mempengaruhi pandangan epistemologi saya. Ketika saya memutuskan untuk berkuliah di Universitas Lampung, jurusan sosiologi, kedua orang tua saya walaupun tidak paham sosiologi, karena mereka belum “tahu” tentang ilmu sosiologi, mereka tetap membiarkan saya kuliah di UNILA. Dalam hal hal ini mereka cukup terbuka. Walaupun kemudian adik-adik saya tetap diminta untuk kuliah di jurusan kedokteran, sebagai imbas dari pola pikir pragmatis bahwa jurusan kedokteran dianggap sebagai jurusan yang lulusannya mudah mendapat pekerjaan.

Ketika memilih jurusan ilmu filsafat pun begitu, saya masih ingat ibu saya berkata “Ibu tidak tahu apa itu filsafat. Sebelum memutuskan ada baiknya sholat tahajud dulu, minta petunjuk dari Allah.” Kata “tahu” yang dimaksud Ibu saya adalah mengacu pada pengetahuan empiris dirinya terhadap ilmu filsafat, ia sama sekali belum pernah mengalami hal-hal yang terkait dengan ilmu filsafat, oleh karena itu ia belum memiliki gambaran tentang ilmu filsafat di pikirannya.

Begitulah kondisi sosial yang membentuk kesadaran epistemologis saya, sebelum saya kuliah di Universitas Lampung. Pandangan epistemologis yang dominan mempengaruhi saya, adalah pandangan empirisis, rasionalis dan pragmatis. Kondisi berbeda saya temukan ketika kuliah di Universitas Lampung, kebiasaan belajar dengan metode mengalami dan mempraktekkan mengakibatkan saya mengalami kesulitan ketika memahami teori-teori sosiologi yang dijelaskan di bangku kuliah. Model perkuliahan yang cenderung teoritik, dan lebih menitikberatkan pemahaman dari penjelasan dosen di kelas dan memahami teori-teori secara tekstual, mengakibatkan saya harus melakukan hal yang paling tidak saya sukai yaitu menghafal pelajaran. Karena ketidakmampuan untuk memahami teks di buku, maka saya menghafalkan teori-teori yang ada di buku.

Akan tetapi hal ini ternyata tidak bertahan lama, kekecewaan saya terhadap model perkuliahan yang cenderung teoritik, meniadakan praktek, mengakibatkan saya kehilangan orientasi. Setelah mengetahui bahwa Indeks Prestasi Akademik semester satu saya hanya 2,9/4, saya mulai malas kuliah, dan belajar. Orientasi saya untuk meneruskan kuliah sampai selesai menjadi terkalahkan dengan keinginan saya untuk kuliah di tempat lain. Satu-satunya cara hanya lewat Ujian Masuk Peguruan Tinggi Negeri (UMPTN).

Maka mulai semester 2, saya berkonsentrasi untuk memahami matematika dasar SMA, dan fisika dasar SMA, tujuannya adalah untuk kuliah di jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, seperti Fisika, Biologi, Teknik, maupun Kedokteran. Kesalahpahaman saya terhadap ilmu sosial seperti Sosiologi ini adalah karena metode belajar yang salah, baik dari Universitas, maupun oleh saya pribadi.

Saya memilih Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), karena ada metode eksperimen di dalamnya. Padahal dalam Sosiologi juga ada penelitian lapangan, seperti meneliti masyarakat dengan cara menyamar, atau lainnya. Hanya saja sebagai mahasiswa, saat itu saya tidak melihat ada aplikasi dari metode eksperimen ini dalam sistem belajar-mengajar di Universitas.

Selain itu, pandangan umum secara tidak langsung menganggap bahwa lulusan IPA lebih pintar dari lulusan Ilmu Sosial. Untuk menyikapi itu maka saya berusaha keras memahami matematika dasar, dan fisika dasar sebagai salah satu mata pelajaran yang diujiankan dalam UMPTN. Sebenarnya bagi saya memahami fisika secara teoritik lebih mudah dibandingkan memahami sosiologi secara teoritik. Karena teori-teori fisika terkait dengan akal sehat dan  pengalaman yang  biasa saya alami dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti “Jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya” (Hukum Pascal dalam situs id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 16 Desember 2011, jam 10.24 WIB). Hukum Pascal adalah, hal yang biasa kita temui ketika memasak air, air yang mendidih adalah wujud dari tekanan yang yang diberikan pada zat cair, sehingga akan ada bunyi seperti pluit di ceret ketika air mendidih. Bunyi ini merupakan wujud dari tekanan tersebut.

Persoalannya kemudian adalah pada simbol-simbol yang digunakan, dalam IPA, simbol yang digunakan lebih banyak daripada simbol yang digunakan dalam ilmu sosial. Kesulitan saya dalam mempelajari IPA, terutama adalah terkait pada pembiasaan dalam penggunaan simbol. Saya memang sempat terbiasa menggunakannya ketika kelas 3 SMP, dan kelas 1 SMA. Hanya karena kekurangpahaman dan kemalasan saya untuk sekolah dan belajar pada kelas 2 dan 3 SMA, saya menjadi tidak terbiasa lagi menggunakan simbol-simbol dalam IPA dan matematika.

Makanya kemudian saya memilih jurusan IPS di kelas 3, ini semua dikarenakan kekurangpahaman saya terhadap IPA, sebagai imbas dari keengganan saya untuk sekolah dan belajar. Selain karena pubertas, represi di sekolah juga berperan, seperti baju harus dimasukkan, tidak boleh mendebat guru, dan lainnya.

Pergaulan dengan preman, dan orang-orang yang tidak sekolah, serta musik-musik protes (Iwan Fals dan Slank) yang saya dengar membuat kesadaran saya berubah, dari yang awalnya ingin belajar, menjadi seorang yang lebih suka bermain dengan teman, membolos, dan berbagai bentuk kenakalan remaja lainnya.

Puncaknya adalah sebelum ujian Ebtanas, saya mengalami kecelakaan motor hingga tempurung lutut saya retak. Lama saya tidak sekolah, terasing dari lingkungan sekitar, celakanya saya menjadi semakin malas, dan lebih banyak bersantai, main game, menonton TV, dan film. Hal yang mengejutkan kemudian adalah saya ternyata masih bisa lulus ujian Ebtanas, dengan nilai lumayan.

Banyak yang heran mengapa saya bisa lulus ujian Ebtanas dengan nilai lumayan. Sebenarnya secara keseluruhan ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama, soal-soal ujian Ebtanas adalah bersifat pengetahuan umum, atau hal-hal yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, di media massa, baik cetak maupun elektronik. Soal bahasa Inggris terasa lebih mudah daripada bahasa Inggris yang digunakan dalam film berbahasa Inggris, ataupun bahasa Inggris dalam video game yang saya mainkan.

Kedua, soal pilihan ganda dalam ujian Ebtanas, bisa dipecahkan dengan metode yang logis, yaitu dengan cara menghilangkan yang salah dan menemukan satu-satunya jawaban yang paling benar. Belakangan setelah kuliah di fakultas filsafat UGM, saya mengetahui bahwa metode ini bernama reductio ad absurdum.

Ketiga, faktor keberuntungan adalah hal yang cukup membantu saya untuk memilih jawaban yang tepat. Terkadang ketika menghadapi soal-soal yang membingungkan, saya terpaksa menggunakan intuisi untuk menjawabnya. Penjelasannya kurang lebih seperti ini, beberapa soal yang membingungkan itu sebenarnya adalah soal yang pernah saya jawab dulunya, hanya karena pengaruh waktu, dan munculnya konsep-konsep baru dalam ingatan saya, maka jawaban dari soal-soal tersebut menjadi terlupakan. Dengan metode intuisi, jawaban dari soal tersebut bisa muncul, dan keberuntunganlah yang membuat intuisi saya benar.

Pada tahun 1999, akhirnya keinginan saya untuk kuliah di tempat lain selain UNILA (Universitas Lampung) tercapai. Saya berhasil lulus UMPTN untuk kedua kalinya. Dalam tiga kali percobaan mengikuti UMPTN, saya ternyata berhasil lulus dua kali. Alasan dari dua kelulusan ini kurang lebih sama dengan alasan saya lulus ujian Ebtanas. Bedanya hanya pada metode menjawab soal saja, jika di ujian Ebtanas tidak ada pengurangan poin jika memilih jawaban yang salah, maka di UMPTN, setiap kesalahan pada satu soal menyebabkan pengurangan seperempat poin. Jadi jika saya salah 100 soal maka poin yang dikurangi adalah 25. Saya tidak mengetahui hal ini, karena tidak membaca instruksi untuk menjawab soal dengan benar.

Jurusan ilmu filsafat adalah jurusan yang saya pilih dalam formulir pendaftaran UMPTN untuk ketiga kalinya. Mengapa filsafat? Sebelum kuliah di Lampung, saya sama sekali tidak paham filsafat. Baru ketika saya membeli buku Michel Foucault untuk Pemula. Michel Foucault adalah seorang filsuf postmodern yang berasal dari Perancis, kata kunci episteme dalam filsafatnya membuat saya tertarik. Foucault bicara tentang pengetahuan dengan kata kunci episteme, ilustrasi gambar berupa otak manusia, dan deskripsi singkat tentang epistemologi membuat saya tertarik untuk mempelajari filsafat. Selain itu metode berfilsafat Nietzsche yang menggunakan prosa, yang sering saya baca di toko buku Gramedia di Lampung, membuat saya tertantang untuk mempelajari filsafat lebih dalam.

Ketika memasuki Fakultas Filsafat UGM pada tahun 1999, ada suasana baru yang saya temui. Budaya demonstrasi dan diskusi adalah hal sehari-hari yang dilakukan oleh mahasiswa. Sebenarnya di Lampung saya sudah mulai mengikuti demonstrasi mahasiswa, hanya saja bedanya di sana saya mengikuti demonstrasi tanpa memahami sama sekali apa isu yang didemonstrasikan. Faktor pertemanan yang membuat saya ikut demonstrasi di Lampung, bisa dikatakan bahwa hampir semua pentolan demonstrasi di UNILA adalah juga mahasiswa Fisipol (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). Jurusan Sosiologi termasuk ke dalam Fakultas Fisipol, banyak juga mahasiswa Sosiologi yang terlibat dalam demonstrasi, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa lama.

Sementara di UGM, terutama di Fakultas Filsafat, budaya diskusi itu sangat hidup. Di tahun-tahun awal perkuliahan saya tergabung dalam sebuah kelompok diskusi yang bernama Ideologika. Kelompok diskusi ini didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa radikal yang tergabung di SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) dan PRD (Partai Rakyat Demokratik) setelah PRD dan SMID dibubarkan oleh pemerintah Orde Baru. Pada tahun 1999, seorang aktivis PRD yang juga mahasiswa filsafat, yang bernama Fendry Ponomban, menghidupkan kembali kelompok diskusi ini.

Awalnya saya agak takut ketika berdiskusi dengan adanya Fendry, gambaran tentang komunisme yang mengerikan oleh Orde Baru lewat film indoktrinasi yang berjudul Pengkhianatan G-30-S/PKI membuat saya memiliki pandangan yang tidak obyektif terhadap Fendry. Penjelasannya seperti ini, bagi Orde Baru, PRD adalah partai komunis baru, komunis bagi Orde Baru adalah orang-orang yang membantai dan menyiksa para jenderal pahlawan revolusi dengan sadis.

Baru setelah tergabung dalam gerakan mahasiswa saya mengetahui bahwa peristiwa penyiksaan para Jenderal tersebut tidak ada atau hanya merupakan rekayasa dari pemerintahan Orde Baru. Menurut kesaksian tim dokter, “sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda pencungkilan bola mata, atau apalagi, pemotongan alat kelamin seperti yang digosipkan oleh media massa yang dikuasai Angkatan Darat ketika itu” (maulanusantara.wordpress.com, diakses tanggal 20 Desember 2011, jam 10.29 WIB). Saya memiliki pengetahuan tentang ini setelah menonton film yang diproduksi oleh produsen film independent yang bernama Offstream, dengan judul “Indonesian Student Revolt”, dan sebuah film yang diproduksi oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial, yang berjudul Kado Buat Rakyat Indonesia.

Film “Indonesian Student Revolt”, adalah berupa paparan tentang sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, dari sejak tahun 1966, sampai tahun 1998/1999, dengan menggunakan dokumentasi wawancara dengan pelaku sejarah, maupun para ahli, dan jurnalis. Selain itu juga ada dokumentasi video berbagai demonstrasi mahasiswa dari tahun 1966 sampai tahun1998. Kekurangan film ini adalah orang-orang yang diwawancarai hanya orang-orang yang netral dan anti Orde Baru saja, sementara wawancara dengan kubu Orde Baru dan pendirinya tidak ada sama sekali.

Sementara dalam film Kado Buat Rakyat Indonesia, kekurangan ini mulai diperbaiki dengan menampilkan wawancara dengan tokoh-tokoh pendiri Orde Baru seperti, Rahman Tolleng, Kemal Idris, Rahmat Witoelar, dan lain-lain. Yang menarik adalah, dokumentasi video Soekarno sedang marah-marah pascaperistiwa G-30-S, karena ada upaya dari militer untuk membenturkan Komunisme dengan Pancasila. Soekarno bersikeras bahwa Pancasila tidak anti Komunis, ia juga menyatakan bahwa ia adalah perasan dari NASAKOM (Nasionalisme Agama dan Komunisme). Secara keseluruhan film ini cukup obyektif, dengan menampilkan dokumentasi wawancara dari berbagai pihak yang terlibat. Selain itu adanya narasi dari awal sampai akhir membuat penontonnya lebih mengerti apa yang ingin disampaikan oleh film ini.

Setelah berproses di Ideologika, dan membaca sendiri teori Marxisme dan teori-teori kiri lainnya, saya lalu bergabung dengan Organisasi yang bernama Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP). KPRP adalah sebuah organisasi mahasiswa dan rakyat, yang mayoritas anggota aktifnya adalah mahasiswa. Organisasi ini adalah organisasi yang berperan aktif dalam aksi-aksi penumbangan Soeharto pada tahun 1998. Belakangan setelah tergabung saya mengetahui kalau awalnya KPRP adalah organisasi payung, yang memayungi banyak organisasi.

Pada tahun 2000, tanggal 1 Mei, saya mengikuti  aksi demontrasi buruh untuk pertama kalinya. Saya ikut demonstrasi buruh, dengan tugas sebagai keamanan aksi. KPRP secara organisasi terlibat dalam pengorganisiran buruh di Ungaran. Pengorganisiran buruh di Ungaran dikoordinir secara kolektif oleh organisasi seperti KPRP, PRD, dan FNPBI (Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia). Aksi dimulai dari subuh, memblokade salah satu pintu pabrik tekstil, tuntutannya adalah tentang kenaikan upah buruh sebanyak 100 persen dari sebelumnya. Aksi tersebut kemudian direpresi oleh polisi, dan tentara berpakaian preman, yang memaksa buruh dengan kekerasan untuk menghentikan aksi dan kembali bekerja. Sebagai keamanan saya langsung bertindak memeluk dan melemparkan salah seorang polisi/tentara gendut yang berpakaian preman. Yang terjadi setelah itu adalah sebuah pengeroyokan terhadap saya dari polisi dan tentara lainnya. Untungnya saya berhasil lolos tanpa luka fisik sama sekali, para buruh peserta aksi terutama yang perempuan, hampir semuanya menangis. Demonstrasi dilanjutkan sampai siang hari, dengan menduduki DPRD Semarang, kami melakukan long-march/rally sepanjang kurang lebih sepuluh kilometer. Dengan kondisi belum makan, dan perut keroncongan saya berhasil mengikuti aksi dari awal sampai akhir.

Pengalaman yang saya peroleh dari aksi ini adalah bahwa pemilik modal (borjuis) dengan anjing penjaganya pada kenyataannya adalah penindas kaum buruh. Berbagai cara –termasuk kekerasan- akan digunakan oleh mereka untuk menindas dan meredam perlawanan buruh. Teori Marxisme dan teori-teori kiri lainnya yang saya baca terbuktikan secara empirik lewat pengalaman aksi buruh ini. Yang paling teringat adalah pernyataan Karl Marx dalam halaman pertama buku Manifes Partai Komunis, “Sejarah masyarakat adalah sejara perjuangan kelas”. Aksi buruh yang direpresi membuktikan bahwa kaum borjuis tidak akan dengan serta-merta memberikan apa yang menjadi hak-hak kaum buruh, untuk itu maka kaum buruh harus berjuang untuk mendapatkan hak-haknya.

Sebelumnya saya memang banyak membaca buku-buku yang menjelaskan tentang filsafat Marxisme. Buku Pemikiran Karl Marx karangan Franz Magnis Suseno, buku Madilog Tan Malaka, buku Manifes Partai Komunis karangan Karl Marx dan Frederick Engels, adalah beberapa buku yang saya baca sebelumnya. Tradisi membaca ini mulai terbangun semenjak kuliah di Fakultas Filsafat UGM, dan aktif di Kelompok Diskusi Ideologika. Dalam Kelompok Diskusi Ideologika, setiap peserta diwajibkan untuk membuat makalah dan melakukan presentasi secara bergiliran. Untuk menulis sebuah makalah, maka mau tak mau saya harus membaca berbagai buku. Saya ingat sekali presentasi pertama saya menggunakan referensi buku “Sang Pemula” karangan Pramoedya Ananta Toer.

Dalam buku “Sang Pemula”, ada beberapa fakta baru yang saya temukan. Pertama, pelopor kesadaran berorganisasi di kalangan terpelajar Jawa adalah seorang pemula yang bernama Tirtoadhisoerjo (Tirtoadisuryo). Kedua, organisasi pertama ternyata adalah Sarekat Priyayi, dan bukan Budhi Oetomo, seperti yang selama ini tertulis di buku-buku sejarah.

Belakangan setelah membaca tetralogi buru karangan Pramoedya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), saya baru paham bagaimana situasi yang berkembang di zaman itu. Dalam Bumi Manusia dikisahkan bahwa seorang priyayi yang dipanggil Minke (Tirtoadhisoerjo) mulai menyadari ketertindasan dirinya di bawah kolonialisme Belanda. Diskriminasi yang dialaminya sebagai imbas dari sistem kolonialisme, membuat ia harus terpisah dari istrinya yang merupakan keturunan Belanda dengan ibu pribumi. Di akhir cerita, istrinya harus meninggal karena sakit akibat harus terpisah dengan suami yang disayanginya. Dalam novel ini juga terdapat karakter seorang perempuan cerdas yang bernama Nyai Ontosoroh, ia adalah ibu dari Annelies istri Minke.

Sementara novel “Anak Semua Bangsa” berkisah tentang pengenalan Minke dengan lingkungan sekitarnya yang juga mengalami hal yang sama, yaitu sama-sama tertindas di bawah kolonialisme. Novel “Jejak Langkah” bercerita tentang kesadaran berorganisasi yang mulai tumbuh di kalangan terpelajar Jawa. Akhir hidup Minke atau Tirtoadhisoerjo yang tragis diceritakan di novel “Rumah Kaca”, di novel itu digambarkan bahwa sang tokoh meninggal karena tidak ada dokter yang diperbolehkan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengobati sakit yang dideritanya. Nasib yang serupa dengan penindas yang berbeda juga dialami oleh Bung Karno. Kalau Minke ditindas kolonial Belanda sampai meninggal, sementara Bung Karno yang sedari muda adalah seorang pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia, dan berhasil memproklamasikan kemerdekaan bangsanya, harus meninggal dengan cara yang kurang lebih sama. Bung Karno meninggal karena diisolasi oleh pemerintah Orde Baru, yang merupakan bangsanya sendiri, yang kemerdekaannya telah diperjuangkan olehnya. Ia tidak diberi obat-obatan yang cukup untuk mengobati sakit yang dideritanya. Bahkan yang lebih tragis, dokter yang menanganinya adalah dokter hewan.

Konsep dialektika sejarah bisa dibuktikan dengan dua peristiwa ini. Bahwa sejarah bergerak dengan pola spiral, dan bukan sebuah pengulangan seperti yang dinyatakan oleh Nietzsche dan penganut teori siklis lainnya. Karena antara Tirtoadhisoerjo dan Soekarno ada beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah bahwa mereka berdua adalah pemimpin pergerakan, Tirtoadhisoerjo adalah pemimpin dan pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI), sementara Soekarno adalah pemimpin dan pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI). Perbedaannya adalah bahwa Soekarno bisa merasakan hasil perjuangannya, yaitu kemerdekaan dari kolonial Belanda, dan fasis Jepang, sementara Tirtoadhisoerjo wafat tanpa merasakan hasil dari perjuangannya. Kedua, Tirtoadhisoerjo ditindas oleh sistem kolonial Belanda, sementara Soekarno ditindas oleh bangsanya sendiri.

Dari berbagai kondisi yang membentuk kesadaran saya, maka sebagai seorang filsuf, saya memandang bahwa pengetahuan lahir dari pengalaman, sebuah teori lahir dari praktek, fungsi rasio adalah mengolah pengalaman menjadi sebuah konsep yang bersifat teoritik. Seperti misalnya kursi, sebuah kursi diwujudkan dari praktek duduk yang dialami manusia. Awalnya mungkin di batu atau tanah, lama kelamaan karena tanah dan batu sudah tidak layak lagi untuk diduduki, maka dibuatlah kursi yang lebih ringan dan bisa ditaruh di dalam ruangan, yang tidak sekotor alam terbuka.

Pengalaman dan rasio adalah dua hal yang saling berkaitan dalam proses memperoleh pengetahuan. Tanpa rasio, maka berbagai pengalaman yang ada, tidak akan bisa dihubungkan untuk menghasilkan sebuah gagasan. Tanpa pengalaman, rasio tidak akan bisa mengolah apapun. Pengetahuan adalah sebuah proses dialektika antara rasio dan pengalaman. Sebuah ide kreatif biasanya lahir dari sebuah pengalaman yang luar biasa pula.

Semua sumber pengetahuan lainnya, seperti, intuisi, keyakinan, otoritas, dan wahyu adalah modifikasi dari pengalaman dan rasio. Sebuah intuisi adalah berasal dari pengalaman yang telah dialami secara berulang-ulang. Seperti contoh, intuisi yang dimiliki Mbah Maridjan sebelum wafat, bahwa Gunung Merapi tidak akan meletus, adalah dikarenakan sebuah pengalaman empirik yang terkait dengan turunnya kera putih sebelum merapi meletus. Pengalaman yang mungkin diturunkan oleh leluhurnya yang pernah mengalami hal itu. Sayangnya Mbah Maridjan keburu wafat sebelum kera putih turun, karena populasi kera putih sendiri sudah mengalami kepunahan.

Sumber lainnya seperti keyakinan, adalah bentuk lain dari dialektika antara pengalaman dan rasio, ketika seorang yang telah yakin tentang sesuatu. Seperti contoh keyakinan orang-orang terdekatnya terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, adalah berdasarkan atas kesaksian langsung atas kejujuran Nabi Muhammad SAW, yang sudah teruji. Dari kejujurannya ini maka ia digelari Al-Amin atau yang terpercaya. Karena inilah maka sebagian besar orang-orang terdekatnya langsung percaya, tetapi tidak demikian halnya dengan sebagian besar masyarakat Mekkah. Ketika hijrah ke Madinah-yang menandai awal tahun hijriah- jumlah pengikutnya bahkan bukanlah mayoritas penduduk Mekkah, sehingga ia dan pengikutnya, harus hijrah ke Madinah. Pada perang Badr, yang merupakan perang pertama antara kaum muslimin, dan orang Mekkah yang berkeyakinan Paganisme, balatentara kaum muslimin hanya berjumlah tiga ratus tiga belas orang. Sementara jumlah balantetara Mekkah, ribuan banyaknya.

Tentang otoritas, penjelasannya kurang lebih sama dengan penjelasan keyakinan kaum muslimin awal terhadap kesaksian Nabi Muhammad SAW, bahwa ia telah menerima wahyu dari Allah. Dalam kasus sumber pengetahuan otoritas ini, yang berperan adalah keterangan saksi, yang telah dipercaya kredibilitasnya oleh orang-orang yang menjadikan kesaksiannya sebagai sumber pengetahuan.

Mengenai sumber pengetahuan berupa wahyu, sumber ini merupakan suatu bentuk lain dari pengalaman. Wahyu adalah sebuah pengalaman luar biasa yang dialami oleh orang-orang tertentu, yang biasanya digelari nabi, rasul, atau lainnya. Seperti kasus Nabi Musa a.s, wahyu sepuluh perintah Tuhan, didapatnya secara langsung lewat “Tuhan” yang berwujud cahaya dengan energi yang luar biasa besarnya, sehingga Musa harus terlempar dalam peristiwa itu.

Untuk kasus Nabi Muhammad SAW, Muhammad Guntur Romli, seorang anggota Jaringan Islam Liberal berpendapat bahwa kenabian Nabi Muhammad SAW adalah sebuah hal yang telah dipersiapkan oleh istri pertamanya (Khadijah), dan jaringan pedeta Kristen, yang merupakan keluarga istrinya. Pernikahan Khadijah dan Nabi Muhammad SAW, menurut Romli adalah sebuah aliansi kubu monotheisme, yaitu antara pengikut Kristen (keluarga Khadijah), dan pengikut Al-Hanifiyah (keluarga Nabi, yaitu sebuah aliran keagamaan yang menjalankan ajaran Nabi Ibrahim a.s, kakek Nabi Abdul Muttalib, adalah salah seorang pengikutnya). untuk menentang paganisme. Khadijah memilih menikah dengan Nabi, karena ia dan keluarganya dianggap memiliki tanda-tanda kenabian, bahkan Qatilah, adik Waraqah bin Naufal pernah akan menikahi ayah Nabi, Abdullah, karena dianggap memiliki tanda-tanda kenabian. Konsekuensi dari pernikahan ini adalah pertama, terbangunnya sebuah kedekatan Nabi dengan pendeta-pendeta kristen, salah satunya adalah Waraqah bin Naufal-saudara Khadijah- yang sering membagi pengetahuannya tentang kitab-kitab yang disalin olehnya. Kedua, Nabi Muhammad SAW menjadi memiliki kebiasaan untuk menjelajahi pasar-pasar di Mekkah, pada siang hari, hal ini yang kemudian membuat Nabi paham semua cerita, dan perkembangan masyarakatnya.

Di pasar, Nabi bukan berbelanja seperti orang-orang lainnya, melainkan menghayati ragam kebudayaan yang muncul di sana. Penyair-penyair Kristen dan Al-Hanifiyah melantunkan syair-syair keagamaan mereka di pasar, kisah para nabi, seperti bahtera Nuh a.s, kisah Nabi Yunus a.s, kisah ashabul kahfi yang sangat populer di kalangan orang suci Kristen sebagai les Sept Dormants (Tujuh Orang yang Tertidur) yang mengacu pada era pertengahan abad ke-3 Masehi, dan lainnya. Ketika mendapat wahyu pertama, Khadijahlah yang memverifikasi kebenaran wahyu lewat bertanya pada jaringan pendeta Kristen yang dimilikinya. Menariknya kisah-kisah ini juga tertulis dalam Al-Qur’an dalam bentuk surat-surat, dan ayat-ayat, seperti surat al kahfi, surat Nuh, surat Yunus, dan lain-lain. Selain itu, semua ayat Al-Qur’an berbentuk syair yang memiliki rima (Romli dalam http://www.kompas.co.id, diakses tanggal 21 Desember 2011, jam 22.00 WIB).

Kelemahan pendapat ini adalah jika sudah disiapkan, maka untuk apa lagi keberadaan Tuhan sebagai pemberi wahyu? Jika semua sudah disebutkan di syair-syair yang dikumandangkan oleh penyair-penyair Kristen dan Al Hanifiyah, maka buat apa lagi wahyu?. Proses pewahyuan di sini hanya menjadi sebuah pengalaman biasa yang telah direkayasa.

Sesuai dengan pendapat saya tentang wahyu, sebelumnya, maka wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad di Gua Hira, adalah sebuah hasil refleksi dari semua hal yang telah dialaminya. Ketika refleksinya mengalami kebuntuan, sebuah hal yang luar biasa dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Pertemuannya dengan yang bernama malaikat Jibril, yang kemudian memintanya untuk membaca, adalah suatu bentuk pengalaman luar biasa yang menegaskan identitas kenabiannya. Kenapa disebut pengalaman, karena ini adalah sebuah pengalaman-terlepas dari apakah itu adalah pengalaman spritual atau bukan-yang dialami Nabi, lewat indera pendengaran yang dimilikinya. Dengan indera ini, ia mendengarkan perintah Jibril. Sebuah pengalaman yang membuat Nabi menggigil dan meminta Khadijah untuk menyelimutinya.

Dari semua uraian tadi, sudah jelaslah kiranya bahwa sumber pengetahuan yang utama adalah pengalaman dan rasio. Pengalaman dan rasio adalah adalah dua sumber pengetahuan yang terpercaya, karena itulah maka kedua sumber ini menjadi dasar dari pengetahuan ilmiah.***

Yogyakarta, 2011

*Alumnus Fakultas Filsafat UGM

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 16 Desember 2011, jam 10.24 WIB

maulanusantara.wordpress.com, diakses tanggal 20 Desember 2011, jam 10.29 WIB

Romli, Muhammad Guntur, 2011, Muhammad dan Kaum Cerdik Pandai Kristen, Sebuah Artikel dalam http://www.kompas.co.id, diakses tanggal 21 Desember, jam 22.00 WIB


2 responses to “SATU PENGGALAN PERJALANAN EPISTEMOLOGIS SAYA

  1. penjelasan yang menarik, jadi membayangkan bila penjelasan ini disertai bagan/skema tentang alur pemikirannya ^_^

  2. Mas Harsa, setelah saya membaca essai ini saya merasa lebih mengenal dekat dengan Mas Harsa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s