MEREKA YANG TAK LAGI MEMERLUKAN GEROMBOLAN DOMBAWI

Oleh: Ragil Nugroho

 

“Para martir adalah nabi yang salah alamat bila ia tak tahu di mana rakyat berada dan di mana rakyat berhimpun.” (Maridjanisme)

“Mbah Maridjan berani mati dan berani hidup, tapi Sondang berani mati (mungkin) karena tak berani tantangan hidup he he he sama dengan kasus bunuh diri gunung kidul dan lainya he he he.” (Hamcrut, Perupa dan Pawang Hujan Kiri)

 

1/

Keadaan gerakan Kiri di Indonesia paling anyar tak seperti lakon Samuel Beckett: Menunggu Godot. Godot tak pernah hadir, tapi ia ditunggu. Kebalikannya, gerakan Kiri di Indonesia hadir—bahkan berteriak-teriak nyaring tentang bahaya laten kapitalisme dan betapa agungnya sosialisme—tapi tak ditunggu oleh rakyat; ia tak pernah dibicarakan, tak disebut-sebut, bahkan tak pernah dirindukan dalam mimpi. Maka ketika ada mahasiswa yang membakar diri, gerakan Kiri lansung menyambutnya dengan gegap gempita. Kata-kata pujianpun ditebarkan ke cakrawala: pejuang sejati, martir tiada bandingannya, pengorbanan suci anak manusia, pahlawan sepanjang jalan kenangan, dan sederet pujian lain.  Saya paham gerakan Kiri tak ditunggu, tapi tetap saja membuat saya yang selama ini menghuni lereng gunung terkejut dan hampir jantungan. Ini keterkejutan kedua.

Keterkejutan pertama terjadi ketika gerakan Kiri terlibat dalam kegiatan rekreasi harian dengan duduk-duduk di BEI. Tindakan tersebut diluar kemampuan otak saya untuk memahaminya; sebuah gerakan Kiri yang memunyai pakem organisasi modern ikut mendukung sebuah tren anak-anak muda kota yang mengatasnamakan individu-individu; tak mau rendah hati menyapa rakyat; tak sudi bernyayi dendang penderitaan yang sama; tak memercayai apapun kecuali diri mereka sendiri.

Setelah saya renungkan setiap hari Selasa Kliwon, saya baru sadar, anak-anak muda yang rajin beribadah di BEI mungkin manusia unggul yang pernah didongengkan Nietzsche; orang-orang yang telah terangkat menjadi purnamanusia; yang tak pantas lagi bertegur sapa dengan manusia lain yang belum sampai pada derajat manusia unggul. Dalam syair Nietzche mereka ini: Segala kupegang menjelma cahaya, yang kulepas arang belaka:pastilah aku api sejati.

Para purnamanusia yang secara rutin melakukan persembahan suci di BEI, dalam kesunyian  memadahkan kebenaran sejati sebagaimana yang tertulis dalam kitab Sabda Zaratrustra: yang dimadahkan pada diri sendiri agar sanggup ia tahankan kesendiran penghabisan. Dari tempat peribadatan yang tidak lagi di masjid, gereja, wihara, dan tempat-tempat ibadah kuno lainnya, tapi di tempat yang baru karena tuhan lama telah mati, mereka menyerukan kebenaran kepada umat manusia manusia. Akan tetapi, madah tersebut ternyata untuk diri sendiri guna mengobati kesunyian yang merajam purnamanusia di tengah kebisingan kota.

Kesunyian penghabisan membuat individu-individu yang sering berziarah di BEI berhasil mengatas meninggi di atas orang-orang kebanyakan. Bagi mereka, orang-orang kebanyakan hanyalah kaum dombawi yang hidup dalam moralitas gerombolan. Memang tak banyak yang bisa melampaui derajat purnamanusia ini. Jalan untuk sampai pada level itu tak gampang. Untuk menjadi purnamanusia harus rela berdiri di atas kaki sendiri, berani tampil inilah aku bukan dirimu, dan berani bermuka-muka dengan berhala baru sebagai diri yang merdeka dan mandiri. Jelas tak mudah melewati ujian itu, maka jumlah manusia dengan level purnamanusia tak akan lebih dari 20 orang dari 230 juta lebih manusia Indonesia; selebihnya hanya gerombolan dombawi.

Sebagai yang telah mengatas meninggi dibandingkan manusia lain, para purnamanusia mimilih Dionysian yang girang menggila dan anti sistematika dibandingkan Apollonian yang rapi tertib sistematis. Sebagai penganut Dionysian, organisasi akan mengurung, membelenggu dan mengancam, menyebabkan ke-purnamanusi-an mereka menjadi luluh karena tak ada lagi bedanya dengan gerombolan dombawi. Sebagai Dionysian, spontanitas yang dijunjung tinggi, sesuatu yang direncanakan dalam organisasi akan membuat purnamanusia tak bisa gila-gilaan lagi dalam mengepresikan diri.

Para purnamanusia  jelas bukan orang-orang desa di lereng Gunung Merapi, yang masih terpisah dari sinyal telepon seluler, BB maupun Ipad, yang hanya mengenal gunung, pasir dan batu, yang masih memerlukan kumpulan; entah itu Dasawisma, PKK, RT, kelompok pengajian, grup kebaktian atau hanya kelompok jaga malam.

Saya memang jarang mengikuti perkembangan sehingga tak menyadari telah lahir purnamanusia yang tergabung dalam sekte—meminjam istilah Asturias—Muka Malaikat; emoh kekuasaan dan tak memiliki hasrat seksual; keduanya penyebab dosa asal yang menyebabkan manusia terlempar dari surga. Ya, sambil membawa obor di siang hari mereka mengelilingi halaman tempat ibadat sambil bergumam:siapa aku ini.

2/

 

Keterkejutan kedua tentu tentang aksi bakar diri mahasiswa yang disambut dengan riuh rendah. Padanan dari negara lain diambil sebagai bantal pembenar; Vietnam, Tunisia dideretkan menjadi contoh keberhasilan yang gilang gemilang. Aksi bakar diri telah dianggap sebangai tanda. Baru kali ini gerakan Kiri percaya tanda; sebagaimana orang Jawa percaya tanda dalam pranata mangsa; orang Dayak percaya kucing yang mencuci mukanya di depan rumah sebagai tanda akan ada tamu. Ya, tak apalah kalau gerakan Kiri berusaha menyesuaikan diri dengan kearifan lokal biar tak terlalu terkesan copy paste.

Akibat kurang bergaul membuat saya baru paham bahwa aksi bakar diri yang dikerjakan secara spontan disebut revolusioner; aksi yang terpisah jauh dari gerakan rakyat dimahkotai pengorbanan terbaik manusia; aksi yang tak memercayai organisasi sebagai tempat berjuang disanjung sebagai tanda bakal hancurnya sebuah kekuasan. Sekali lagi, saya baru sadar, ada penemuan terbaru di abad 21 ini.

Baiklah kalau bakar diri dianggap sesuatu banget. Dalam final Piala Dunia 2006 Zidane menanduk Materazzi, ia diusir dari lapangan oleh wasit. Mungkin benar Materazzi mengejek ibu Zidane dengan sebutan sundal, tapi wasit tak mau peduli karena Zidane menggunakan cara dan metode yang tidak dibenarkan dalam sepak bola. Tapi di negeri ini tak seperti itu, metode dan cara yang salah justru diagung-agungkan. Mereka yang tak mengagung-agungkan kepahlawan tersebut dianggap saraf, sakit jiwa, tak memahami pengorbanan terindah manusia, membatu hatinya, tak humanis, hilang saraf kepekaannya. Anehnya, ketika ada jembel mati dipinggir kali karena kelaparan, tak ada yang memuji dan memuja, dibiarkan berlalu begitu saja; mungkin karena jembel itu tak membawa tanda kerevolusioner dan kematiannya memang sudah takdir tuhan.

Terpaksa saya meminjam mulut Albert Camus karena saya sudah tak mampu lagi menalar dengan baik untuk memahami tren paling baru ini. Camus memberikan komentar terhadap para pemberontak yang menyerahkan tubuhnya untuk dicabik cabik meriam di lapangan Senat di St. Petersburg pada tahun 1825: Memang gampang dipahami kenapa korban-korban dari kesia-siaan penuh kepalsuan dimuliakan, malah didewakan dengan perasaan-perasaan keagamaan bercampur kengerian oleh semua orang Rusia yang revolusioner. Karena semakin tak mampu menalar sama sekali, saya terngiang-ngiang kata-kata salah satu pengikut idealis patrician: Ya, kami akan mati, tetapi akan menjadikan kematian yang indah. Dan, terakhir, nalar saya ditundukan oleh falsafah Stoa: bunuh diri merupakan jalan terindah ketika tak mampu lagi menghadapi kehidupan.

Setelah melewati dua kali purnama dan sekali gerhana bulan, saya menyadari, ketika gerakan Kiri tak ditunggu-tunggu lagi, mendewa-dewakan mahasiswa yang bakar diri merupakan jalan terbaik untuk menjawab problem gerombolan dombawi. Saya hanya minta tolong, jangan samakan yang dilakukan oleh Mbah Maridjan dengan mahasiswa yang bakar diri. Mbah Maridjan memilih membakar dirinya dengan wedhus gembel hanya karena ingin setia pada tugasnya; dia bukan seorang revolusioner, kematiaannya bukan pengorbanan terbaik manusia; dia hanya orang gunung maka tak pantas dilabeli pejuang.

3/

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya akan menjadi seorang humanis dan moralis kecil-kecilan. Karena tubuh anak milik seorang ibu, saya kasihan pada ibu dari mahasiswa yang telah bakar diri itu. Sekarang tubuh anak itu telah dihidangkan di meja makan politik negeri ini. Banyak yang berebut untuk mendapatkan bagian tubuh yang paling enak dan gurih; biasanya bagian pantat. Agar mendapatkan bagian lezat tersebut berbagai macam cara  dilakulan: lewat hujan sms, pidato atau bela sungkawa.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s